Duff & Phelps, perusahaan penasihat keuangan korporat, melaporkan sepanjang kuartal I 2017 total investasi di semua sektor, terdiri dari merger & acquisition (M&A), private equity/venture capital (PE/VC), dan initial public offering (IPO), yang masuk ke Indonesia mencapai US$4,7 miliar dengan total 118 kesepakatan.

Dari data yang dikompilasi Duff & Phelps, angka tersebut naik 80,77% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya senilai US$2,6 miliar dengan total 90 kesepakatan. Bila dibandingkan dengan Malaysia, total investasi yang masuk pada kuartal I 2017 mencapai US$13,6 miliar naik 44,68%. Sementara untuk Singapura, investasi yang masuk mencapai US$46,1 miliar naik tipis sebesar 6,22%.

“Kawasan ini [Asia Tenggara] telah menunjukkan pertumbuhan M&A dan aktivitas investasi yang kuat di kuartal I 2017, meskipun ada prospek negatif di sektor-sektor tertentu. Dana investasi banyak yang mengucur ke pasar global, memanfaatkan valuasi rendah di sektor tertentu dan mengincar pertumbuhan tinggi di sektor lainnya,” terang Managing Director Duff & Phelps Srividya Gopalakrishnan dalam keterangan resmi.

Dia melanjutkan, “Singapura telah berkontribusi dalam bagian penting dari kesepakatan, didorong oleh investasi outbound. Sementara Malaysia dan Indonesia telah berkontribusi pada banyaknya kesepakatan transaksi, didorong oleh investasi inbound.”

Menurut Srividya, untuk prediksi di kuartal kedua tahun ini, pihaknya melihat ada sentimen pasar negatif yang menyebabkan ketidakpastian dalam kesepakatan. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak yang lebih lambat, berkurangnya jumlah perusahaan yang melakukan IPO, melambatnya pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara berkembang, dan perubahan peraturan global yang cepat dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Di sisi lain, ada beberapa tren positif yang muncul di kawasan yang bakal berdampak pada paruh kedua tahun ini. Diantaranya, isu mengenai pertumbuhan volume dan nilai investasi M&A, peningkatan investasi PE/VC yang signifikan, perkembangan signifikan dalam ekosistem startup teknologi di Asia Tenggara, berpengaruh pada bertambahnya jumlah perusahaan Unicorn, dan faktor lainnya.

“Meski demikian, kami tertarik untuk menyaksikan bagaimana perkembangan berikutnya sepanjang tahun ini dan menantikan momentum berkelanjutan dalam kesepakatan investasi swasta ke depannya.”

Pendanaan untuk Go-Jek adalah investasi M&A terbesar

Dalam laporannya, Duff & Phelps merangkum untuk investasi dari M&A mencapai 81 kesepakatan dengan perkiraan nilai sekitar US$4 miliar. Berdasarkan jenis sektor perusahaan sasaran M&A, sekitar 32% dikontribusikan dari teknologi, sebanyak 26% dari sektor lainnya, 17% dari agrikultur.

Selain itu, juga merangkum tujuh investasi M&A terbesar sepanjang kuartal I 2017. Posisi pertama ditempati oleh Go-Jek yang — dikabarkan — mendapat pendanaan dipimpin oleh Tencent Holdings Ltd sebesar US$1,2 miliar. Go-Jek jadi satu-satunya perusahaan teknologi yang berada dalam daftar tersebut.

Berikutnya diikuti oleh sektor agrikultur yang diwakili oleh PT Eagle High Plantation, mendapat investasi sebesar US$505 juta. Dan sisanya, dari sektor industrial, material, utilitas, dan energi.

Investasi dari PE/VC untuk Indonesia capai US$498 miliar

Untuk investasi dari PE/VC kepada perusahaan Indonesia dilaporkan mencapai US$498 miliar dengan total 21 kesepakatan. Bila melihat gambaran dari empat tahun belakangan, investasi PE/VC sempat alami pasang surut. Pada 2013, angkanya mencapai US$1,77 miliar untuk 16 kesepakatan. Namun di tahun berikutnya, surut menjadi US$230 juta untuk enam kesepakatan.

Kondisi mulai membaik dimulai sejak tahun lalu, angka investasi yang dikucurkan mencapai US$1,47 miliar untuk 33 kesepakatan.

Dari tiga negara yang menjadi acuan Duff & Phelps, yakni Singapura, Malaysia, dan Indonesia, secara total investasi yang dikucurkan PE/VC mencapai kisaran US$4,5 miliar untuk 124 kesepakatan.

Singapura menjadi negara kontributor utama yang mendapat investasi tersebut dengan kisaran nilai US$3,2 miliar atau dengan porsi 70% dari total investasi. Sementara, Malaysia sekitar 19% dan Indonesia 11%.

Adapun, sektor yang paling banyak disasar PE/VC adalah teknologi dengan porsi mencapai 61% dari total investasi. Sisanya ditempati sektor telekomunikasi 13%, konsumen 12%, industri 7%, dan lain-lain 7%.