Oleh
15 days ago

Detail Artikel Transformasi Digital: Apakah Kita Sudah Sampai Disana?

Transformasi Digital: Apakah Kita Sudah Sampai Disana?

Tanyakanlah kepada CEO manapun di kawasan Asia Pasifik (APAC) apakah prioritas bisnis terbesarnya dan kemungkinan besar mereka akan menjawab bahwa transformasi digital adalah salah satu prioritas utama mereka. Faktanya, survei Gartner baru-baru ini membuktikan bahwa teknologi dan IT penting bagi para pemimpin di kawasan ini, yang juga sangat mengharapkan digitalisasi untuk mengembangkan perusahaan mereka. menurut IDC,

Kawasan Asia Pasifik yang baik dan benar-benar bercokol di era transformasi digital diperkirakan akan bernilai $ 16,5 miliar pada tahun 2020

Mobilitas perusahaan adalah kunci prinsip dari transformasi digital. Hal Ini membantu perusahaan mengoptimalkan proses bisnis dan meningkatkan produktivitas. Aspek dari tren ini akan menjadi sebuah pengembangan aplikasi mobile. Gartner memprediksi bahwa permintaan aplikasi mobile perusahaan akan melampaui kemampuan pengembang dari lima sampai dengan satu. Bagaimanapun, dari semua tujuanya, bisnis belum sepenuhnya menyadari akan transformasi digital. Forrester dan Accenture telah menemukan bahwa banyak perusahaan sedang berjuang untuk mengatasi silos yang tradisional dan kurangnya keselarasan ketika harus mencapai tujuan transformasi digital mereka.

Sehubungan dengan hal tersebut, OutSystems, sebagai platform pengembang aplikasi Low-Code, baru-baru ini merilis penilitan Laporan tentang Status Pengembangan Aplikasi 2017 di Asia Pasifik. OutSystems telah mensurvei lebih dari 680 profesional untuk memahami perspektif mereka tentang transformasi digital

Roadblocks dalam perjalanan menuju transformasi digital

 

Tidak ada yang selamanya mulus dari hadirnya transformasi digital. Dua tantangan utama yang dihadapi perusahaan adalah kebutuhan akan kecepatan dan kurangnya talenta. Sifat dasar IT telah bergeser beberapa waktu terakhir, mulai dari penerapanya pada sistem skala besar, implementasi sistem berbasis projek dan pemeliharaan evolusi sistem IT yang berkelanjutan.

Sebuah Pendekatan DevOps akan membantu menyatukan bisnis, pengembangan dan operasional stakeholder dalam memperlancar penggunaan IT. Ini mempercepat interaksi antara tim pengembangan dan operasi, yang menghasilkan penyebaran lebih cepat dan dapat diprediksikan ke pasar serta dilakukan dengan efisiensi yang lebih besar secara radikal. Hal Ini kemudian yang memungkinkan perusahaan mempertahankan keunggulan kompetitif mereka, menembus pasar baru dan memungkinkan skalabilitas untuk bisnis.

Teknologi regional mengalami tingkat perputaran yang tinggi dan pengembang aplikasi merupakan salah satu posisi terberat untuk mengisi wilayah ini. Dengan lahirnya teknologi baru, kurangnya bakat akan meluas. Karyawan tidak memiliki keterampilan serta bisnis yang diperlukan dalam mencari dan mempertahankan talentaya.

Dengan Laporan Penelitian OutSystems tentang Status Pengembangan Aplikasi 2017, bahwa Perusahaan memiliki beberapa faktor kekurangan bakat dan menemukan langkahnya yang dipenuhi tantangan, seperti:

  • Hampir setengahnya (45 persen) IT melaporkan memiliki Backlog dalam pengembangan aplikasi yang besar
  • 42 persen responden melaporkan kekurangan pengembang mobile, sementara 53 persenya melaporkan kurangnya pengetahuan dalam keterampilan yang dibutuhkan pada mobile
  •  Hampir tiga perempat responden (69 persen) mengatakan bahwa pengembangan memakan waktu lebih dari 3 bulan, sementara 8 persen mengatakan bahwa dibutuhkan lebih dari 12 bulan
  • Kurangnya keterampilan, waktu dan anggaran disebut-sebut sebagai penghambat utama transformasi digital

Low-code sebagai Solusi

 

Penerapan Low-Code akhir-akhir ini telah terbukti menjadi solusi tepat bagi perusahaan dalam menghadapi masalah perjalanan transformasi digital mereka. Dengan merancang dan mengembangkan perangkat lunak yang cepat serta sedikitnya peng-kodean, memungkinkan pembuatan aplikasi yang lebih cepat, penggunaan sumber daya yang lebih efisien, peningkatan keandalan dan juga membantu pencapaian mobilitas. Laporan penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa mobilitas telah menjadi persyaratan paling umum untuk aplikasi, dan 93 persen responden menyatakan bahwa penting untuk memasukkan mobilitas ke dalam aplikasi saat ini dan pada semua aplikasi di masa depan.

 

Beberapa tambahan temuan dari Laporan Penelitan Asia-Pasifik tentang Status pengembangan aplikasi 2017 :
– Sebanyak 44 persen responden mengatakan bahwa perusahaan mereka telah mempertimbangkan untuk menggunakan Low-Code atau No-Code untuk membangun aplikasi

– 43 persen dari mereka yang disurvei juga menanggapi bahwa perusahaan mereka akan mengizinkan tim pengembang mereka untuk memanfaatkan teknologi ini

– Perusahaan yang telah mengadopsi platform pengembang Low-Code mulai melihat peningkatan dalam hal waktu pengembangan aplikasi mobile yang lebih cepat

 

Perusahaan harus bisa menghadapi transformasi digital. Perusahaan yang gagal berinvestasi dalam diversifikasi keterampilan karyawan mereka untuk memerangi krisis bakat serta  mengintegrasikan inovasi baru seperti Low-Code di seluruh perusahaan akan berisiko besar untuk tertinggal.

 

 



  
 
Home
 Business  Lifestyle

Copyright © 2008-2015 PT Digital Startup Nusantara. Powered by Cloudkilat