1. Startup

Bakrie Telecom Siapkan 100 Miliar untuk Inkubasi Pengembang Aplikasi Lokal

Dalam rangka meningkatkan gairah pengembang lokal membuat aplikasi-aplikasi bermanfaat, Bakrie Telecom (BTEL) membuat gebrakan. Tidak tanggung-tanggung, 100 Miliar Rupiah (atau US$ 11.5 juta dengan kurs hari ini) digelontorkan dalam bentuk inkubasi supaya pengembang (atau dengan istilah BTEL technopreneur) mau mengembangkan aplikasi-aplikasi menarik dan bermanfaat bagi orang banyak yang nantinya akan dipasarkan melalui jaringan BTEL.

Insentif ini merupakan satu di antara sejumlah visi BTEL yang dituangkan dalam kampanye Bakrie Telecom, Media, dan Technology (BakrieTMT2015) yang digelar di blitzmegaplex, Grand Indonesia. Secara total investasi yang siap dikeluarkan oleh BTEL adalah 5 Triliun Rupiah (atau sekitar US$ 575 juta). Sinergi ini cukup serupa dengan konsep T.I.M.E yang dikembangkan oleh Telkom Indonesia, grup perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini.

Selain inkubator, dana investasi tersebut akan digunakan untuk peningkatan kualitas layanan data melalui produk AHA (Affordable Hyperspeed Access), peluncuran ponsel gaming yang bekerja sama dengan pengembang permainan ternama Electronic Arts (EA), serta sinergi BTEL sebagai perusahaan telekomunikasi dengan VIVA Group (media), dan BCON serta BNET sebagai perusahaan teknologi.

Ada pula rencana BTEL untuk melebarkan sayap dengan mendaftarkan lisensi seluler. Untuk jaringan CDMA, lisensi seluler sudah dimiliki oleh Smart Telecom dan Mobile 8 yang sudah menjadi smartfren sekarang. Dengan adanya lisensi seluler, pengguna jaringan BTEL akan lebih bebas menggunakan layanannya di berbagai wilayah tanpa perlu gonta-ganti nomor.

Anindya Bakrie, Presiden Direktur BTEL, dalam rilis persnya menyatakan BTEL menyadari bahwa tidak lama lagi sebagian besar aktivitas konsumen di Indonesia akan dilakukan melalui telepon genggamnya. Dengan investasi yang cukup besar di tahun 2009 dan 2010, Anin menyebutkan bahwa 40% pendapatan  BTEL ke depannya akan diperoleh dari data.

Lebih lanjut dia mengatakan transisi dari suara ke data sangat sesuai dengan tren konsumen di Indonesia yang semakin menggunakan telepon genggam tidak hanya untuk berkomunikasi tapi juga untuk bekerja, belajar, mencari hiburan bahkan untuk berbelanja. Tentunya tidak salah pemikiran bahwa diperlukan insentif yang besar supaya lebih banyak lagi aplikasi yang mengakomodasi kebutuhan tersebut di atas.

Konsep inkubasinya sendiri, termasuk perusahaan khusus yang dibentuk untuk mengurusi ini, belum dijelaskan secara detil di acara kali ini. Meskipun begitu, informasi yang kami terima menyebutkan pendanaan yang dimaksud bakal bergerak di area seed stage dan early stage. Diimplementasikan untuk lima tahun ke depan, komitmen dana tersebut patut diacungi jempol karena saya sendiri sudah mulai capek dengan tujuan-tujuan baik operator telekomunikasi yang ingin menciptakan wadah kreatifitas pengembang lokal, semacam app store, tapi tidak memiliki komitmen (termasuk pendanaan) untuk membinanya secara berkesinambungan.

Saat ini berdasarkan portofolio jajaran ponsel yang sudah ada, kebanyakan ponsel Esia memiliki basis Java untuk aplikasi-aplikasinya. Meskipun demikian, dengan pembukaan layanan BlackBerry dan kemungkinan hadirnya seri ponsel berbasis Android, terbuka lebar peluang pengembang untuk menjangkau berbagai segmen pasar. Dengan jumlah pelanggan BTEL sebesar 13 juta, ajakan inkubasi ini tentu akan sulit untuk ditolak.

Update: slide presentasi visi BakrieTMT2015