1. Startup

CI-Agriculture Manfaatkan Teknologi Big Data Analytics untuk Bantu Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Mengembangkan tiga produk smart farming, yaitu Crop Accurate, Agritrack, dan Crop Insurance

Teknologi Big Data Analytics sudah terbukti dapat memberikan banyak manfaat untuk tiap kalangan yang terlibat dalam penggunaannya, bahkan bagi mereka yang biasanya jauh dari teknologi seperti petani.  CI-Agriculture, yang juga merupakan anak perusahaan Mediatrac, mencoba memanfaatkan teknologi big data analytics untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Saat ini mereka sedang mengembangkan tiga produk yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak terkait dalam sektor pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan efesiensi pertanian.

Menurut Program Manager Collective Intelligence Agriculture (CI-Agriculture) Hafizh Kalamullah, latar belakang terbentuknya CI-Agriculture ini berasal dari panggilan hati, mimpi, dan semangat untuk mensejahterakan kehidupan para petani Indonesia.

Hafizh mengatakan:

"Kami percaya teknologi terkini mampu mengangkat harkat dan kesejahteraan petani Indonesia ke tingkat yang lebih baik lagi, sebagaimana masyarakat perkotaan merasakan manfaat teknologi di semua lini. Kami berharap petani di pelosok pun bisa ikut maju dengan memanfaatkan teknologi termutakhir."

Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR), seperti dikutip NPR, memprediksikan di tahun 2030-an akan ada penurunan drastis produksi pertanian di berbagai kawasan di dunia karena perubahan cuaca. Smart farming/agriculture yang berbasiskan Internet of Things dan big data analytics bisa menjadi solusi alternatif untuk mengurangi, bahkan membalikkan prediksi ini.

Hafizh mengungkapkan saat ini CI-Agriculture sedang mengembangkan sistem manajemen pertanian dengan memanfaatkan teknologi big data analytics yang berbasiskan analisis cuaca, informasi sensor tanah, serta pencitraan satelit dan drone yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Sistem yang dikembangkan tersebut dirangkai dalam tiga produk, yaitu Crop Accurate, Agritrack dan Crop Insurance. Nantinya, sistem tersebut akan dapat di-subscribe per hektar lahan untuk petani, aggregator petani, end buyer, peneliti maupun pemerintah.

Hafizh menyebutkan, "Keseluruhannya (produk Crop Accurate, Agritrack dan Crop Insurance) berfungsi meningkatkan produktivitas dan efesiensi pertanian via teknologi sensor, smart farming dan mobile application."

Namun, bagamana cara kerja produk yang sedang dikembangkan oleh CI-Agriculture ini? Berikut adalah penjelasan Hafizh terkait cara kerja produk yang sedang dikembangkannya.

Crop Accurate

Dalam penggunaannya, produk Crop Accurate akan memanfaatkan sistem sensor, drone, dan remote sensing untuk mengumpulkan data yang akan digunakan oleh sistem smart farming. Sistem tersebut dapat memandu kegiatan bertani para petani binaan aggregator (komunitas binaan bank, microfinance, produsen makanan atau komunitas mandiri) sehingga kegiatan bertani dapat menjadi lebih efektid dan efisien.

Hafizh mengatakan, "Teknologi yang diterapkan bersifat scalable sehingga sensor yang digunakan tetap efisien untuk lahan yang luas. Secara berkala, data pertanian akan dikumpulkan dan dianalisis untuk memprediksi hasil panen dan mengevaluasi perlakuan tanaman. Pada setiap musim, sistem smart farming menganalisis data dan merekomendasikan cara bertani yang lebih baik di musim tanam selanjutnya.

Agritrack

Sistem Agritrack yang dikembangkan oleh CI-Agriculture merupakan sistem informasi terintegrasi untuk supply chain komoditas pertanian. Sistem tersebut dirancang untuk menjembatani petani, distributor, pasar dan pembeli akhir komoditas dengan memanfaatkan mobile application untuk menginput data riil keadaan supply, demand, dan problem di lapangan pada setiap titik jalur supply.

 

Selain itu, sistem ini juga diintegrasikan dengan informasi ekonomi dan harga-haraga komoditas dari berbagai media (crowdsourcing). Nantinya seluruh data tersebut akan dianalisis dan diproses agar dapat menjadi rekomendasi spesifik untuk setiap pengguna, baik untuk petani maupun pembeli akhir komoditas.

"Rekomendasi yang dihasilkan antara lain informasi kapan sebaiknya tanam atau panen, berapa prediksi harga di musim panen selanjutnya, bagaimana tren supply dan demand. Informasi rekomendasi tersebutdapat diakses melalui berbagai platform, baik mobile application maupun desktop web," ujar Hafizh.

Crop Insurance

Produk Crop Insurance, menurut Hafizh sebenarnya produk asuransi pertanian yang dikembangkan oleh pihak CI-Agriculture ini mirip dengan yang sudah ada di dunia asuransi. Tetapi, yang membuat produk ini menjadi berbeda adalah CI-Agriculture mendasarkan semua perhitungan dan skemanya pada teknologi smart farming, sistem sensor dan analisis potensi pertanian.

Hafizh mengatakan, "Kami menganalisis cuaca harian hingga 10 tahun ke belakang demi mendapatkan model asuransi yang paling tepat. Pada akhirnya, skema asuransi yang ditawarkan akan mampu memaksimalkan perlindungan petani dan keberlangsungan lembaga asuransi secara efektif dan seimbang."

Lebih lanjut Hafizh menjelaskan, dengan produk Crop Insurance ini investasi petani akan terjaga selama masa tana dari berbagai resiko seperti kekeringan, banjir dan hama. Lembanga asuransi juga akan terjaga keberlangsungannya karena skema yang adil (indeks premi dan arahan bertani yang akurat).

Dengan mengusung model bisnis social entrepreneurship, CI-Agriculture mencoba menyajikan aplikasi manajemen pertanian terintegrasi di berbagai platform seperti web dan mobile application. Ke depannya, Hafizh berharap teknologi yang dikembangkan CI-Agriculture ini dapat benar-benar bermanfaat dan berdampak bagi para petani Indonesia.

"Kami berharap teknologi yang dikembangkan CI-agriculture dapat benar-benar bermanfaat dan berdampak bagi para petani Indonesia. Para petani, aggregator komunitas petani, produsen dan distributor pangan, pemilik modal (bank dan microfinance), peneliti dan pemerintah dapat bergotong royong dalam wadah teknologi ini, mewujudkan kesejahteraan pertanian dan pangan Indonesia secara menyeluruh," tandas Hafizh.