1. Startup

Melalui Gifood, Masyarakat Bisa Menyumbang Makanan Berlebih ke Yang Membutuhkan

Bakal meluncurkan beberapa fitur unggulan untuk monetisasi

Saat ini mulai banyak startup lokal yang mencoba mengeksplorasi lanskap social business, berharap selain mendapatkan nilai bisnis juga memberikan dampak sosial di lingkungan. Salah satunya Gifood, sebuah platform yang menghubungkan antara mereka yang memiliki makanan berlebih dengan orang yang membutuhkan.

"Cara kerjanya sederhana. Ketika memiliki makanan berlebih unggah informasinya melalui platform kami. Begitu pula jika mengetahui siapa yang membutuhkan, bisa langsung menggugah informasinya melalui platform kami. Dari situ akan diketahui makanan apa atau dari siapa, lokasinya di mana, tersedia sampai kapan secara real time. Ketika mau mengambil makanan pun tinggal klik dan akan terhubung dengan pemilik makanan," jelas CEO Gifood Fathin Naufal.

Mengemban visi besar "Reduce Waste, Reduce Hunger", saat ini Gifood belum melakukan monetisasi, karena tengah fokus untuk memperluas cakupan pengguna dan dampak yang dihasilkan. Namun ada beberapa mekanisme yang sudah mulai rancang, salah satunya mekanisme B2B (Business-to-Business). Ke depan Gifood akan memberikan layanan berbayar untuk perusahaan, misal restoran dan hotel dalam pengolahan makanan berlebih mereka.

"Dari pada membuang makanan (yang berarti ada loss of money), ujung-ujungnya jadi sampah, dan terkena biaya lagi untuk sampah (menurut data kami sampai jutaan rupiah per bulan), maka lebih baik disalurkan kepada Gifood dan memberikan dampak positif bagi masyarakat serta lingkungan. Hal ini bisa sekaligus menaikkan citra perusahaan dan bisa mengefisiensikan dana CSR," ujar Naufal.

Kedua untuk monetisasi juga akan hadir fitur "Last Minute Deal", yaitu menjual murah makan berlebih yang masih layak jual (makanan dengan harga diskon). Gifood akan mengenakan komisi dari penjualan tersebut melalui platform. Dan yang ketiga, para pengguna Gifood bisa dipastikan banyak merupakan orang-orang yang mencari makanan gratis dan murah. Maka ketika ada perusahaan yang ingin beriklan tentang diskon, promo, launching product, dan sebagainya, platform ini akan menyediakan media untuk beriklan tersebut.

Beberapa waktu lalu Gifood baru saja memenangkan penghargaan The Best General Category App dan 1st Winner Telkom Hackathon 2018. Sebelumnya startup asal Yogyakarta ini juga pernah memenangkan beberapa lomba lain seperti Runner Up DILO Festival Yogyakarta, Best Performance Socioentrepreneur Muda Indonesia (Soprema), dan menjadi finalis (6 besar) di Startup World Cup Wildcard Round Yogyakarta.

“Latar belakang kami sebenarnya karena pengalaman kami sendiri melihat seringnya makanan terbuang sia-sia ketika berlebih. Misal ketika ada acara dan sebagainya. Ternyata memang faktanya Indonesia merupakan negara yang membuang makanan terbesar nomor besar ke-2 sedunia setelah Arab Saudi (data dari The Economist). Menurut Food Agriculture Organization (FAO), ada 13 juta ton makanan di Indonesia yang terbuang sia-sia,” tutur Naufal.

Naufal melanjutkan, “Menurut data dari FAO ada 19,4 juta orang di Indonesia yang masih kelaparan. Hal ini ironis, di sisi lain banyak makanan terbuang. Kalau semua makanan yang terbuang itu dikumpulkan, sebenarnya bisa memberi makan 11% populasi di Indonesia. Maka, kami berusaha untuk memberikan solusi dengan cara mengoneksikan mereka yang mempunyai makanan tersebut dengan mereka yang lebih membutuhkan.”

Dengan mengemban visi besar tersebut, Naufal menyampaikan bahwa tahun ini pihaknya akan banyak fokus untuk memperluas pangsa pasar dengan mengenalkan platform kepada masyarakat luas melalui berbagai kampanye, berkolaborasi dengan komunitas, dan juga menjalin kerja sama dengan beberapa pihak terutama penyedia makanan (restoran, tempat makan, toko roti, hotel, dan sebagainya).