1. Startup

Kisah Mendirikan Startup sebagai CTO

Co-Founder dan CTO Glassbreakers Lauren Mosenthal menekankan pentingnya mengambil waktu untuk rileksasi dan menjalankan proyek sampingan untuk menghidupi startup

Dalam dunia startup yang membutuhkan improvement tanpa henti terus belajar adalah sesuatu yang wajib. Salah satu belajar paling sederhana adalah membaca atau mendengar cerita dari orang lain yang berkecimpung di bidang yang sama, dalam hal ini startup. Jika Anda sekarang sedang membangun sebuah startup dan berposisi sebagai CTO atau penanggung jawab produk maka pengalaman Lauren Mosenthal, CTO dan Founder Glassbreakers, sebuah platform mentorship untuk perempuan profesional, berikut ini bisa menjadi salah satu inspirasi.

Sebelum membagikan tips, Lauren menyarankan beberapa to do yang bisa dikerjakan sebagai aktivitas tiap hari seorang CTO. Untuk kegiatan rutin hari Senin sampai Jumat sempatkan untuk membaca review analisis dan membaca umpan balik dari pengguna di pagi hari. Berikutnya bisa melanjutkan kegiatan coding pada jam-jam produktif.

Setelah itu dapatkan informasi terbaru dari salah satu founder mengenai penjualan, investasi, dan tanggapi beberapa email yang masuk. Tutup hari Anda untuk dengan kegiatan santai seperti membaca buku dan menonton televisi.

Memahami batas kemampuan diri sendiri amatlah penting dalam fase fighting di awal startup. Bagi Lauren, menutup akhir pekan dengan keluarga dan teman dan berada di lingkungan terbuka cukup membantu merileksasi tubuh setelah menempuh minggu yang sibuk. Daftar yang harus dikerjakan (todo list) mungkin tidak berlaku bagi semua orang, yang jelas poin utama ada pada tetap menjaga komunikasi dengan keluarga dan menjaga pola makan.

Menghadapi krisis kehabisan dana

Sebagai salah satu co-founder, Lauren benar-benar menaruh segalanya di bisnis tersebut. Ia bahkan sempat tidak dibayar untuk jangka waktu yang lama. Ketika Glassbreakers sudah bisa menghasilkan keuntungan, Lauren dan salah satu co-founder lainnya memiliki gaji terendah.

Ketika Glassbreakers mulai kehabisan dana, Lauren berusaha mendapatkan pekerjaan atau proyek lain yang bisa membantu keuangan. Proyek-proyek yang dipilih pun tidak sembarangan. Ia menyarankan untuk memilih proyek yang masih relevan dengan kemampuan, sehingga selain bisa mendapatkan dana juga terus mengasah keterampilan.

“Ketika saya hampir kehabisan uang, saya bergabung dengan proyek di mana saya membantu membangun sebuah algoritma. Saya menyelesaikannya dalam 12-15 hari, mampu hidup dari proyek selama hampir 3 bulan, dan merasa lebih percaya diri dalam kemampuan saya dengan algoritma,” tulisnya.

Seleksi individu untuk menjadi bagian dari tim

Anda membutuhkan tim untuk membantu bisnis segera menghasilkan produk. Langkah yang mungkin masuk akal adalah mempekerjakan orang lain. Ini akan menjadi hal yang tidak mudah. Pasalnya Anda harus menemukan orang yang berkompeten yang memiliki visi dan misi sejalan dengan perusahaan. Untuk menghemat waktu dalam proses wawancara, mungkin Anda bisa melakukannya via telepon atau mungkin melalui Skype. Intinya melakukan penghematan baik dari segi waktu maupun tenaga.

Setelah itu mungkin Anda bisa mengundangnya ke kantor dan mendemonstrasikan kemampuan mereka, baik coding maupun desain. Jika sudah menemukan kandidat yang cocok, segera lakukan kesepakatan atau paling tidak tunggu satu hingga dua hari. Menurut Lauren, kondisi ini berbeda-beda untuk beberapa kasus.

Jika Anda masih kurang yakin dengan performa mereka, Anda bisa memberikan pilihan trial. Hal ini memungkinkan kita untuk bisa melihat jelas melihat potensi mereka karena langsung berhadapan dengan kondisi yang sebenarnya,

Pada intinya, memulai sebuah startup penuh dengan roller coaster. Emosi akan naik turun pada setiap harinya. Ini mengapa Anda perlu mengambil sedikit kenyamanan di akhir pekan. Meskipun demikian, bekerja di startup pasti melibatkan banyak orang yang penuh motivasi. Kondisi ini bisa membantu Anda memecahkan masalah yang datang bertubi-tubi.