1. Startup

Peresmian Indonesia Blockchain Hub Jadi Langkah Awal Percepat Pertumbuhan Blockchain

Dijadikan tempat publik untuk pelatihan rutin dan "coworking space" demi mencetak talenta baru

Untuk mendukung percepatan pertumbuhan teknologi blockchain di Indonesia, KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia), Asosiasi Blockchain Indonesia, Bekraf, dan HARA meresmikan Indonesia Blockchain Hub, sebuah wadah untuk menampung pegiat blockchain di Indonesia maupun global untuk saling berbagi dan belajar pengalaman.

Selain untuk belajar, wadah ini juga menyediakan tempat pelatihan dan coworking space sehingga pada akhirnya dapat menciptakan talenta baru yang mahir di bidang blockchain dapat menyajikan ide baru untuk solusi berbasis blockchain. Indonesia Blockchain Hub ini terletak di kantor HARA, di kawasan Senopati, Jakarta.

"Kita ingin mendedikasikan tempat ini untuk tempat berkumpul orang-orang yang ingin belajar soal blockchain. Ke depannya bakal rutin diadakan meetup. Kami telah adakan meetup mendatangkan narasumber dari Taiwan dan Jepang," terang Founder dan CEO HARA Regi Wahyu, Kamis (16/8).

Supervisory Board KADIN Yos Ginting menambahkan selama ini pemahaman orang Indonesia terhadap teknologi blockchain masih bisa dikatakan cukup awam. Ada yang menyamakan blockchain dengan bitcoin atau cryptocurrency. Pengetahuan yang kurang soal aplikasi blockchain untuk mengatasi tantangan yang menyangkut data, transaksi, keamanan, dan lain-lain.

"Hub ini bisa mendukung ekosistem blockchain untuk diaplikasikan secara nyata, seperti HARA lakukan. Bisa memberikan solusi baru yang selama ini belum dimungkinkan," ujar Yos.

Masih sama-sama belajar

Lantaran pengetahuan orang Indonesia yang masih mendasar ini, menurut Regi, berdampak pada masih dasarnya fitur-fitur yang sudah diimplementasikan oleh berbagai industri. Namun baginya, hal ini justru bisa menjadi momen yang tepat untuk Indonesia bisa menjadi terdepan dalam implementasi blockchain.

Pasalnya, dunia saat ini berada di tahap yang sama terkait perkembangan blockchain. Setiap negara masih belajar, belum ada benchmark yang pas untuk dijadikan sebagai acuan dalam membuat regulasi. Satu-satunya negara yang terdepan dalam hal ini adalah Singapura.

Regi mencontohkan, salah satu bank yang sudah memanfaatkan blockchian adalah BNI. Bank ini meminta bantuan dari HARA untuk mendapatkan informasi tentang calon debitur dari kalangan petani dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

HARA kini memiliki 5 ribu data petani, 1.000 di antaranya mendapatkan pinjaman KUR dari BNI. Diklaim dengan blockchain ini, BNI melihat tingkat pengembalian kredit yang lebih lancar dibandingkan sebelumnya.

"Dari proyek kami dengan BNI, disebutkan pengembalian kredit dari para petani yang sudah menerima KUR cukup lancar. Tentunya ini jadi penyemangat kami untuk mengembangkan teknologi blockchain secara lebih advance."

Di Korea Selatan, meski negara ini cukup maju dalam hal teknologi. Namun pemerintahnya juga masih belajar soal blockchain. Hal ini diterangkan oleh CCO Yello Digital Mobile Jonathan Lee. Dia menceritakan bahwa 55% transaksi perdagangan cryptocurrency di dunia itu berasal dari Negeri Gingseng tersebut.

Tingginya minat masyarakat Korea Selatan terhadap crypto, menurutnya disebabkan karena peredaran gosip orang tiba-tiba jadi kaya raya berkembang secara mouth-to-mouth.

"Hampir semua orang Korea tiba-tiba jadi familiar dengan crypto, apalagi didukung oleh penetrasi internet yang begitu baik dan fasilitas perbankan yang sudah maju jadi beberapa faktor penyebabnya," terang Lee.

Yos Ginting menambahkan, "Karena keahlian kita yang sama dengan yang di luar negeri, diharapkan ke depannya masyarakat bisa lebih melihat manfaat yang dibawa blockchain daripada bahas teknologinya saja."