1. Startup

Solos Kembangkan Platform E-commerce Jasa untuk Freelancer

Solos menghadirkan 3 solusi utama yaitu sebagai portfolio builder, online shop, dan payment

Praktik kerja lepas atau freelancing bukanlah hal yang baru, terlebih di tengah masa sulit pasca-pandemi melanda negeri ini. Banyak orang yang mencari saluran pekerjaan lain untuk bisa bertahan hidup atau menambah pemasukan. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan pekerjaan lepas ini sebagai sumber mata pencaharian utama mereka.

Ide untuk membuat sebuah platform marketplace pekerja lepas sudah lahir sejak Ricky Willianto pertama kali membangun Ravenry yang fokus menyasar penulis dan peneliti. Ia melihat masih banyak isu yang belum terselesaikan ketika seorang pekerja lepas ingin menawarkan jasanya, baik dari sisi proses yang belum efisien hingga pembayaran yang dipersulit.

Berawal dari sini, ia mengembangkan "Solos" dengan visi untuk memberdayakan setiap orang untuk melakukan pekerjaan yang mereka sukai dengan cara yang berkelanjutan secara finansial. Selain itu, untuk membantu para freelancer atau solopreneur mempersingkat waktu yang diperlukan untuk menyepakati transaksi, yang pada akhirnya menghasilkan lebih banyak pendapatan.

Solusi yang ditawarkan

Solos menghadirkan tiga solusi utama yaitu sebagai portfolio builder, online shop for service, dan payment solutions for service sellers. Platform ini dilengkapi dengan teknologi yang memudahkan freelancer untuk membangun situs web dan toko online dengan tampilan depan yang menarik dan memungkinkan mereka untuk memamerkan karya dan jasa mereka secara kredibel.

Selain itu, platform ini juga didukung dengan teknologi di belakang layar yang membantu pengaturan proyek freelance dengan lebih mudah dan teratur, mulai dari manajemen proyek, chat, tagihan, hingga sistem pembayaran. Solos memberi kebebasan dan keleluasaan bagi freelancer untuk menentukan cara bekerja, komunikasi, serta cara pembayaran dengan klien.

“Berbeda dengan platform pencarian layanan freelance lainnya yang membatasi cara komunikasi dan skema pembayaran antara klien dengan freelancer, Solos memberi kebebasan bagi freelancer dan solopreneur untuk menawarkan layanan jasa mereka secara langsung kepada klien dengan platform komunikasi dan skema pembayaran yang bisa mereka tentukan sendiri,” tambah Ricky.

Tantangan besar yang masih sering muncul dalam industri ini adalah cross-border transaction. Salah satu solusi dari Solos telah memungkinkan proses yang sederhana, cepat dan aman dalam menerima pembayaran. Saat ini Solos juga sudah bekerja sama dengan beberapa channel pembayaran global dan lokal sehingga bisa mempermudah pembayaran cross-border. Salah satunya juga dengan aplikasi dompet digital, para freelancer yang ada di platform Solos akan segera bisa menerima gaji via Gopay.

Pentingnya membangun komunitas

Solos memosisikan diri sebagai facilitator untuk penjualan dan pembayaran. Dari segi jasa yang ditawarkan, pihaknya mengaku tidak terlibat secara langsung. Namun, bukan berarti timnya lepas tangan dengan setiap kesepakatan yang terjadi dalam platformnya. Perusahaan memastikan segala sesuatu yang terjadi dalam ekosistemnya sejalan dengan regulasi serta hukum yang berlaku.

Saat ini Solos berfokus pada penyediaan konten yang membantu freelancer menavigasi persyaratan keuangan dan persyaratan hukum terkait freelancing. Baru-baru ini timnya sempat membawa praktisi SDM (Sumber Daya Manusia) dan ahli hukum ketenagakerjaan untuk membantu pekerja lepas kami mengatur bisnis mereka dengan benar untuk mematuhi hukum setempat di Indonesia.

Untuk jumlah tim saat ini ada 8 orang, terdiri dari teknisi, produk, marketing dan yang belum lama ini direkrut adalah tim community & customer success. Ricky menilai bahwa menjadi freelancer dan solo entrepreneur itu terkadang bisa menjadi "a lonely journey", maka dari itu timnya fokus mengedukasi dan membangun jaringan dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sejalan.

Saat ini komunitas Solos terbentuk melalui beberapa media sosial, seperti Discord, Telegram dan Facebook. Totalnya saat ini ada lebih dari 300 orang. Ricky mengaku cukup selektif dalam pemilihan member, timnya percaya bahwa sebuah komunitas yang baik harus dimulai dengan orang-orang yang serius dan memiliki objektif yang jelas dan tepat.

Terkait target pasarnya fokus yang paling besar ada pada content creator, seperti designer, videographer, dan writer, tetapi banyak juga yang menawarkan jasa professional seperti konsultan PR dan market researcher. Selain itu, jasa yang lebih personal seperti make-up artist, guru privat, atau personal trainer juga bisa ditawarkan melalui platform ini.

Menurut pengamatan Solos, lima kota dengan jumlah freelancers terbanyak di Indonesia termasuk Bandung, Jakarta, Surabaya, Bekasi, dan Bali. Solos sendiri menetapkan markas mereka di Pulau Dewata alias Bali karena timnya percaya Bali adalah pusat bisnis yang tepat dengan banyaknya para freelancers, solopreneur dan digital nomads.

Ricky juga secara aktif membangun komunikasi dengan para freelancer dan solopreneur di Bali, platform ini pertama di-launch untuk memastikan bahwa produknya benar-benar dapat membantu meningkatkan skala bisnis.

"Kami ingin dekat dengan pengguna dan itulah sebabnya kami pindah ke Canggu, Bali. Selain itu, kami mengadakan berbagai acara untuk komunitas solopreneur di sini untuk membantu mereka belajar satu sama lain, berkolaborasi lebih baik, dan semoga memenangkan lebih banyak bisnis dan klien bersama," sebutnya.

Masa depan industri freelance di Indonesia

Dewasa ini, tren freelancing sedang meningkat secara global. Menurut hasil pengamatan Solos, saat ini terdapat sekitar 70 juta freelancers dan solo entrepreneur yang siap untuk menawarkan jasa atau bisnisnya di Asia Tenggara. Nilai pemasukan tahunan freelancers di Asia Tenggara tersebut terhitung mencapai $730 miliar.

Tren yang sama terjadi di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat 33,34 juta orang bekerja sebagai freelancer dan small business owners hingga Agustus 2020. Angka ini naik 4,32 juta orang atau 26 persen dari tahun sebelumnya. World Bank juga mencatat pertumbuhan pelaku freelancing mencapai 30% setiap tahunnya dengan dominasi segmentasi usia 18-44 tahun. Hal ini didukung oleh fakta bahwa 97 persen pekerja lepas lebih bahagia daripada pekerja kantoran, menurut penelitian School of Business University of Brighton.

Deretan fakta di atas semakin menguatkan ambisi Solos untuk bisa memberdayakan para pekerja lepas di Indonesia. Timnya juga percaya bahwa terjadi transisi besar pada angkatan kerja masa kini. Generasi baru lebih menyukai kebebasan, fleksibilitas, dan pekerjaan yang berdampak dan didorong oleh hasrat. Hasilnya, orang-orang yang dulu bergantung pada pekerjaan kantoran kini memulai bisnis mereka sendiri yang dimungkinkan oleh teknologi dan kerja jarak jauh.

More Coverage:

Terlebih, Indonesia ternyata telah memiliki payung hukum yang melindungi hak para freelancers yaitu Undang-Undang No 13 Tahun 2003. Hak pekerja setiap hari lepas serta jangka waktu atau masa kerja diatur dalam Keputusan Menteri dan Tenaga Kerja No 104 Tahun 2004 mengenai perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau waktu tidak tertentu (PKWTT).

Perusahaan disebut mengalami pertumbuhan eksponensial dalam jumlah pengguna sejak pertama kali dioperasikan. Selain itu, platform ini juga memiliki daya tarik global dan telah menarik minat dari freelancers dan solopreneurs dari Filipina, Australia, India, AS, dan pasar lain secara global. Solos saat ini tengah mengumpulkan seed round dari investor di Asia Tenggara dan Eropa. Sejauh ini, beberapa angel investor dari perusahaan seperti Microsoft, HSBC, JP Morgan, dan Blackberry sudah terlibat.

Dengan pertumbuhan bisnis yang diharapkan seiring dengan industri yang semakin matang, Solos memiliki rencana untuk membangun fitur baru yang membantu pekerja lepas dalam hal otomatisasi persyaratan kepatuhan untuk memastikan fokus mereka bisa tertuju pada bisnis alih-alih menghabiskan waktu dengan proses administrasi yang tidak efisien.

Selain Solos, sudah ada beberapa pemain lain di Indonesia yang menyediakan solusi sejenis. Salah satunya adalah Sribu yang baru saja diakuisisi perusahaan SDM asal Jepang, Mynavi Corporation Japan. Selain itu juga ada Fastwork dan Briefer, sebuah unit strategis dari IGICO Advisory yang khusus mewadahi pekerja di bidang komunikasi.