Arti Blockchain Terhadap
Keberlangsungan Bisnis

Blockchain dibutuhkan seiring dengan kebutuhan
akan proses bisnis yang ringkas, transparan, dan efisien

Sebelum blockchain, internet merupakan penemuan paling fenomenal di dunia. Internet memampukan manusia untuk melakukan sesuatu tanpa perlu bertatap muka secara langsung. Lewat internet pula, manusia dapat melakukan hal yang dulu dianggap tak mungkin: memesan dan mengirim barang melalui ponsel.

Kini infrastruktur jaringan semakin luas hingga ke daerah pelosok, akses internet semakin mudah. Hal ini mendorong masyarakat untuk mengembangkan usaha atau bisnisnya berbasis online. Berbekal ponsel dan kuota data, jual-beli sudah bisa dilakukan dengan mudah.

Jika blockchain disebut sebagai penemuan fenomenal selanjutnya setelah internet, apa yang bisa dilakukan dengan teknologi ini? Keuntungan apa yang bisa didapatkan dari blockchain?

Blockchain menitikberatkan pada peningkatan efisiensi dan penghematan biaya dari sebuah rantai panjang. Teknologi ini memangkas proses yang tidak perlu sehingga sebuah bisnis dapat lebih terencana dan terprediksi.

Dapat dikatakan, blockchain dapat memberikan keuntungan bagi bisnis, dengan catatan usaha yang dijalankan melibatkan banyak pihak dan memiliki proses yang rumit.

Saat ini, blockchain memang belum banyak diadopsi oleh banyak perusahaan di Indonesia. Minimnya pengembang (developer) dalam negeri yang menguasai kemampuan blockchain menjadi salah satu hambatan sekaligus tantangan terhadap pertumbuhan bisnisnya di Indonesia. Hal ini juga yang menghambat proses implementasi dan penentuan solusi di mana blockchain memiliki nilai tambah (value added). Namun, tidak ada patokan waktu yang pasti mengenai berapa lama pengembang dapat menguasai skill ini.

Indonesia dinilai perlu mengimplementasikan teknologi ini karena beberapa hal. Menurut Co-Founder of Blockchain Zoo Pandu Sastrowardoyo, Indonesia memiliki kondisi geografis yang kompleks karena terdiri lebih dari 17.000 pulau. Blockchain dapat memotong rangkaian proses panjang bagi bisnis berskala besar yang melibatkan pihak distributor, supplier, produsen, hingga sampai ke end user.

Selain itu, Indonesia memiliki isu birokratis dalam manajemen dokumen, baik di pemerintah pusat hingga pemerintah daerah. Tingkat korupsi yang tinggi di Indonesia juga dapat ditekan karena data yang tersimpan dalam jaringan blockchain tidak dapat dimodifikasi. Sulit untuk mengubah atau meretasnya.

“Blockchain dapat mengurangi kompleksitas manajemen dokumen antar-instansi dan antargeografi, mengurangi potensi korupsi, memperkuat monitoring nasional, termasuk meningkatkan reliabilitas data dan sistem. Banyak sekali potensi, baik di level enterprise maupun pemerintahan,” kata Pandu.

Bagi Pandu, kebutuhan di atas menggambarkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan bisnis blockchain. Potensinya akan semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang mengadopsi blockchain.

Sebetulnya tergantung dari basic language mereka. Belajar Ethereum lebih mudah kalau sudah ada Java. Berapa lama bisa kuasai, tergantung dari seberapa aktif dan tekun dalam pengembangan. Best thing about blockchain adalah materi pembelajaran sebagian besar open source. Jadi, developer bisa belajar dengan melihat (sumber) yang sudah ada.

FOUNDER INDONESIA
BLOCKCHAIN NETWORK
KENNETH TALI

Saat ini memang belum ada riset mengenai nilai bisnis atau jumlah investasi blockchain yang masuk ke Indonesia. Sebagai gambaran, riset Markets and Markets menyebutkan market size blockchain di dunia meningkat dari $241,9 juta di 2016 menjadi $7,68 miliar di 2022 dengan CAGR 79,6 persen.

Angka tersebut turut dipicu oleh meningkatnya kebutuhan teknologi buku besar (ledger) yang terdistribusi, upaya untuk mengurangi biaya kepemilikan, meningkatnya nilai pasar mata uang digital dan Initial Coin Offering (ICO), adanya kebutuhan terhadap proses bisnis yang ringkas, transparan, dan tak dapat dimodifikasi (immutability), hingga adopsi Blockchain-as-a-Service.

Founder LedgerNow Leonardus Gazali menyebutkan kebutuhan terhadap efisiensi biaya ini sejalan dengan tingginya belanja IT. Meskipun saat ini banyak perusahaan yang menyediakan jasa IT outsourcing, mereka dinilai masih terpaku dengan teknologi lama. Leonardus meyakini blockchain dapat menjadi solusi tepat bagi pebisnis karena perusahaan dapat menghemat belanja IT hingga 80 persen.

“Biasanya pebisnis memilih middleware atau aplikasi enterprise yang mana biayanya bisa sampai jutaan dolar. Itu pun dengan asumsi bahwa tidak akan ada perubahan sistem. Belum lagi bicara konektivitas, biayanya lebih mahal. Pakai blockchain, perusahaan sudah dapat aplikasi yang jauh lebih berkualitas dengan biaya $200 ribu. Dari sisi infrastruktur, teamwork, dan waktu implementasinya lebih hemat,” ungkap Leo.

Sejak awal diperbincangkan, blockchain diyakini akan mendisrupsi sektor industri dan mentransformasi cara masyarakat bertransaksi. Mengandalkan shared ledger, pelaku bisnis dapat melacak berbagai macam transaksi hingga ke akar-akarnya.

Sejumlah perusahaan yang sudah lebih dulu mengadopsi blockchain pada bisnisnya pasti akan menemui sejumlah tantangan, mulai dari Return of Investment (ROI) yang belum jelas hingga tingkat kematangan dan keamanan dari teknologi itu sendiri.

Bagaimanapun juga Indonesia bisa memulainya dari sekarang tanpa perlu menunggu hingga teknologi ini benar-benar matang di masa depan. Ini pula yang menjadi kesempatan Indonesia untuk bisa unggul lebih dulu di kancah dunia.

Sektor-sektor industri bisa saja mengimplementasi teknologi ini karena blockchain fleksibel dan dapat diterapkan di sektor manapun. Namun ada sektor-sektor unggulan yang dinilai tepat untuk mengadopsi teknologi ini. Alasannya, dampak positif terhadap bisnis yang dirasakan lebih banyak.

Supply chain merupakan salah satu sektor industri yang disebut dapat merasakan manfaat dari implementasi blockchain. Hal ini demikian karena supply chain memiliki rantai distribusi yang panjang yang melibatkan banyak pihak di dalamnya.

Sebagian besar tantangan yang kerap ditemui di sektor ini adalah efisiensi biaya dan waktu pada rantai pasokan sebuah produk hingga ke tangan end user. Apalagi melihat kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

Kehadiran blockchain dinilai dapat menyelesaikan sejumlah masalah yang dihadapi. Tak heran, sektor ini selalu masuk ke dalam portfolio dan use case sejumlah pemain atau startup yang mengembangkan solusi platform blockchain.

Salah satu contoh implementasinya adalah inventori. Semakin banyak inventori, artinya akan ada biaya yang dikeluarkan dan kualitas barang berkurang seiring berjalannya waktu. Blockchain dapat memampukan proses pengecekan status stok barang dan jumlah yang sudah diproduksi.

"Saat ini, kita mengecek melalui telepon, email, atau fax. Prosesnya lama dan biaya tinggi. Blockchain dapat memampukan jaringan untuk update semua pihak yang terlibat. Semisal masalahnya lebih kompleks, produksinya tertunda, pihak logistik dan bisa lebih prepare," ujar Leo.

Leo juga menambahkan salah satu permasalahan yang ingin diselesaikan sejumlah startup adalah data rekam medis (medical record) milik masyarakat. Blockchain dapat mempermudah masyarakat yang kesulitan mengakses rekam medis mereka.

Teknologi ini dapat memangkas proses pada pihak ketiga saat pertukaran data terjadi. Masyarakat nantinya tak perlu lagi meminta izin kepada rumah sakit apabila ingin melakukan konsultasi di rumah sakit lain.

Akses terhadap rekam medis pasien tetap aman dan hanya diketahui isinya oleh si pemiliknya. Sayang, keinginan ini cukup sulit diimplementasikan karena berpotensi bersinggungan dengan hukum.

Sejak awal, implementasi blockchain selalu dikait-kaitkan dengan masa depan industri jasa keuangan, seperti perbankan. Transaksi keuangan yang selama ini melibatkan pihak ketiga bakal dimudahkan dengan blockchain. Tak heran, industri ini diprediksi mengalami transformasi besar-besaran di masa depan.

Lembaga atau institusi keuangan kerap menemui sejumlah tantangan dalam menjalankan bisnisnya, seperti potensi penipuan, pencucian uang, celah keamanan, dan inefisiensi pada transaksi. Blockchain dapat menjadi kunci utama untuk menghadirkan transaksi yang lebih cepat dan memiliki tingkat keamanan tinggi, namun dengan biaya yang lebih rendah.

Kendati demikian, tak berarti sektor-sektor lain tak bisa merasakan manfaat dari implementasi blockchain. Ada puluhan sektor industri yang juga akan terdisrupsi dengan kehadiran teknologi ini. Secara garis besar, blockchain dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang kerap ditemui oleh sektor industri.

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia

Product
Product Lead: Wiku Baskoro
Design: Rizky Beny
Tech: Bagus Rinaldhi

Artikel Terkait:


SHARE: