BISNIS DIGITAL MEREKAH, OPERATOR
SELULER MENYERAH

Ketatnya persaingan dan ketidaksiapan investasi berdana besar menjadi pemicunya

Semarak bisnis digital yang dijalankan operator telekomunikasi ternyata tak bertahan lama. Dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, beberapa bisnis digital tersebut tutup buku atau dijual ke pihak lain.

Pertumbuhan trafik dan transaksi penjualan saja ternyata tak cukup menjadi alasan kuat untuk mempertahankannya. Situs belanja Elevenia dilepas ke Salim Group, sedangkan situs belanja Cipika ditutup. Aksi ini dilakukan setelah tiga tahun beroperasi tahun lalu.

Di tahun pertamanya, Elevenia mengantongi 23 juta mitra seller dengan dua juta listing produk. XL Axiata (XL) bahkan mengalokasikan investasi besar-besaran saat pertama kali membentuk perusahaan patungan Elevenia dengan SK Planet yang berasal dari Korea Selatan.

Semantara Cipika, yang dikembangkan Indosat Ooredoo (Indosat), awalnya fokus menjual produk kuliner UKM dan akhirnya melebarkan kategori di produk elektronik untuk mendongkrak trafik.

KEMBALI KE BISNIS INTI
***

Alexander Rusli, saat masih menjabat Presiden Direktur Indosat Ooredoo, mengatakan bahwa penutupan layanan Cipika merupakan langkah tepat untuk mendorong efisiensi perusahaan. Pihaknya mengaku tak ingin terus-terusan melakukan cash burning.

"Setelah kami explore berkali-kali, kami belum menemukan model bisnis yang tepat dan menjanjikan. Kami tak bisa terus-menerus menginvestasikan dana," ungkap Alexander.

Usaha Indosat kembali ke bisnis utama dimulai sejak Cipika dihentikan. Anak usaha Ooredoo Group ini juga telah melepas bisnis e-money miliknya untuk dilebur menjadi PayPro pada paruh 2017 lalu. Dalam keterangan resminya saat itu, peleburan Dompetku ke PayPro adalah hasil kerja sama strategis antara Indosat dan PT Solusi Pasti Indonesia (SPI).

Tanda lain Indosat perlahan mulai kembali ke bisnis utamanya adalah menghilangnya divisi digital yang sebelumnya berada di bawah komando Chief Strategy and Digital Services.

Menurut Presiden Direktur Indosat Ooredoo Joy Wahyudi, pihaknya akan tetap mengembangkan layanan digital. Meskipun demikian, pengembangannya akan disinergikan dengan bisnis utama.

"Semua harus digarap, termasuk digital. Hanya saja, 'bagaimananya' itu akan lebih fokus dan risk averse lebih ke arah sinergi ke bisnis infrastruktur dalam mendukung kepuasan pelanggan," tutur Joy dalam pesan singkat kepada DailySocial.

Manajemen Indosat Ooredoo menambahkan bahwa perusahaan kembali fokus ke bisnis utamanya dengan selektif memilih area pengembangan jaringan telekomunikasi. Pihaknya juga memberikan perhatian besar untuk mengembangkan bisnis IT enterpise yang selama ini berkontribusi cukup besar terhadap pendapatan.

"Kami belum ada inisiatif baru untuk bisnis digital, nantinya akan lebih banyak dilakukan melalui kerja sama. Namun kami tetap bangun digital melalui peningkatan kualitas jaringan untuk memberikan pengalaman layanan data yang lebih baik," jelas Deva Rachman, Head of Corporate Communications Group Indosat Ooredoo.

“IoT bakal jadi bisnis jangka panjang kami dan kami yakin IoT is the next big thing.”

Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel

Hal ini terlihat dari sejumlah pelaku e-commerce global mulai menginvestasikan uangnya ke layanan e-commerce lokal di Indonesia, seperti Alibaba yang menyuntikkan dana hingga triliunan Rupiah untuk Lazada dan Tokopedia.

Di awal pendiriannya, XL dan SK Planet menyuntik modal awal sebesar $37,2 juta untuk pengembangan bisnis. Kemudian pada 2016, XL kembali mengucurkan dana investasi sebesar $30 juta kepada Elevenia.

Elevenia sendiri memiliki riwayat bisnis yang cukup memuaskan di pasar e-commerce. Di tahun pertama Elevenia beroperasi, situs belanja ini telah mencatatkan transaksi sebesar Rp250 miliar.

Nilai tersebut meroket pesat ke angka Rp1,3 triliun pada 2015. Sebagian besar transaksinya berasal dari pembelian produk elektronik dan fashion. Elevenia memiliki 30.000 seller dan dua juta pengguna terdaftar.

"Bisnis seperti ini yang akan besar yang menang. Kalau mau bertahan ya harus punya dana besar. Kami tidak bisa pegang dua hal yang butuh dana besar. Akhirnya, kami ambil keputusan agar dana kami difokuskan ke bisnis telekomunikasi," ungkapnya.

Tahun ini XL memutar balik haluan dengan fokus ke bisnis utamanya. Seluruh pergerakan bisnis digital XL juga disinergikan induk usahanya, Axiata Group Bhd.

"Belanja modal kami tahun ini majority untuk ekspansi jaringan, termasuk kabel fiber. Sisanya untuk IT dan tidak ada untuk [investasi] digital. Itu nanti semua dikendalikan dari induk usaha," tutur Dian saat ditemui usai RUPST XL beberapa waktu lalu.

Kini bisnis digital XL menyisakan layanan XL Tunai, m-advertising, cloud, konten VAS dan games, dan lainnya. Menurut rencana, XL juga akan mendorong bisnis enterprise lewat adopsi Internet of Things (IoT).

“Bisnis seperti ini yang akan besar yang menang. Kalau mau bertahan ya harus punya dana besar. Kami tidak bisa pegang dua hal yang butuh dana besar. Akhirnya, kami ambil keputusan agar dana kami difokuskan ke bisnis telekomunikasi.”

“Bisnis seperti ini yang akan besar yang menang. Kalau mau bertahan ya harus punya dana besar. Kami tidak bisa pegang dua hal yang butuh dana besar. Akhirnya, kami ambil keputusan agar dana kami difokuskan ke bisnis telekomunikasi.”

Dian Siswarini, Presiden Direktur dan CEO XL

Bagaimana dengan Telkomsel? Meski belum melalui fase kegagalan seperti yang dialami operator lain, Telkomsel melaju dengan visinya untuk membangun ekosistem DNA (device, network, dan application) dalam negeri.

Optimisme ini turut lahir dari dukungan induk usaha Telkom dan juga posisinya sebagai penyedia jaringan terbesar dan terluas di Indonesia dengan 190 juta basis pelanggan.

Untuk bisnis digital, Telkomsel akan memprioritaskan pengembangan layanan berbasis teknologi Internet of Things (IoT) dan TCash pada tahun ini. Pihaknya telah menyiapkan sejumlah inisiasi baru untuk membesarkan layanan.

"Pengguna kan sekarang sudah tidak bisa punya lebih dari dua sampai tiga SIM Card. Maka itu, IoT bakal jadi bisnis jangka panjang kami dan kami yakin IoT is the next big thing," ungkap Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah yang ditemui di peluncuran inovasi bike sharing dengan Universitas Indonesia.

Menurut perusahaan, layanan IoT memiliki peluang besar di masa depan karena dinilai mampu membidik segmen pasar lebih luas.

Telkomsel juga akan membesarkan TCash sebagai produk e-money terdepan di Indonesia, termasuk membolehkan non-pelanggan Telkomsel menjadi pengguna TCash.

Kendati demikian, pengembangan layanan digital Telkomsel lainnya masih akan terus berjalan, termasuk MSIGHT, digital advertising, dan cloud.

PARADIGMA HARUS BERUBAH
***

Kepada DailySocial, Wakil Presiden Direktur Tri Indonesia M Danny Buldansyah menilai, sebetulnya operator punya fondasi kuat untuk mengelola bisnis digital. Fondasi ini antara lain basis pelanggan yang besar, jaringan yang luas, dan sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya.

Menurutnya, strategi bisnis yang diterapkan perusahaan telekomunikasi dan digital itu berbeda. Berkaca dari kegagalan bisnis digital Indosat dan XL, pria yang karib disapa Danny ini menegaskan pentingnya mengubah paradigma pemain telekomunikasi agar dapat beradaptasi di era digital.

Operator telekomunikasi perlu membentuk organisasi dan strategi bisnis berbeda dari yang biasa dijalankan pada bisnis utamanya. Menurutnya, strategi bisnis telekomunikasi yang konvensional tak cocok diterapkan di bisnis digital yang serba dinamis.

“Untuk pindah dari bisnis konvensional ke digital, kita harus ubah cara berpikir, beroperasi, membentuk organisasi, baik dari segi usia, manajemen, eksekutif, hingga staf, itu harus berbeda,” tuturnya.

“Mereka yang terbiasa berbisnis konvensional di telekomunikasi yang sangat mapan, tapi rigid, turn over organisasinya cepat, terutama masalah investasi. Ya tidak akan pernah cocok untuk menjalankan bisnis digital,” tambah Danny.

Menariknya, bisnis digital yang mapan malah justru tidak lahir dari perusahaan telekomunikasi.

“Go-Jek termasuk startup digital yang sukses tetapi Go-Jek tidak dimiliki oleh perusahaan telekomunikasi sekelas Telkomsel atau Indosat. Kenapa? Padahal, kedua operator ini punya basis pelanggan, jaringan, dan dana,” tanyanya.

Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys punya pandangan berbeda terkait bisnis telekomunikasi saat ini. Ia menampik tak berminat menjalankan bisnis digital. Menurutnya pertumbuhan bisnis digital harus berjalan berdampingan dengan telekomunikasi. Tanpa jaringan, tidak akan ada bisnis digital.

“Ini bukan masalah tak mau masuk ke [bisnis] digital. Tetapi bisnis digital tidak akan tumbuh tanpa jaringan internet yang memadai. Maka itu, kalau jaringannya gak bagus, bagaimana kita bisa memberikan kualitas yang baik bagi pengguna digital?” tanya pria yang kini juga menjabat sebagai Ketua ATSI ini.

Bagi Merza, menjalankan bisnis digital dengan model bisnis berisiko rendah atau dapat ditanggung bersama menjadi opsi tepat untuk memulai bisnis digital. Ia menilai bisnis digital tidak selalu harus digarap sendiri dengan menginvestasikan dana terus-menerus.

Hanya saja industri ini masih tetap menghadapi sejumlah tantangan seperti cara meningkatkan efisiensi pada tingginya biaya operasional. “Model bisnis lain sedang kami pikirkan.”

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia

Product
Product Lead: Wiku Baskoro
Design: Ahmad Saufani
Tech: Bagus Rinaldhi

Artikel Terkait:


SHARE: