Mengenal Blockchain,
Sang "Game Changer"
Masa Depan

Disebut sebagai penemuan revolusioner dan fenomenal di generasi setelah internet

Blockchain mulai ramai dikenal kala mata uang virtual bitcoin meroket. Saat itu, menjelang akhir 2017, nilainya mencapai level tertinggi di angka Rp 277 juta per bitcoin. Sebuah rekor baru sepanjang sejarah kapitalisasi pasar bitcoin.

Semua orang lantas ramai-ramai mencari bitcoin. Ada yang memang ingin berinvestasi sungguhan, tapi tak sedikit yang berinvestasi demi meraup untung tinggi. Tak heran, bitcoin disebut-disebut sebagai fenomena terbesar dalam sejarah dunia teknologi.

Apa itu blockchain?

"Definisi yang biasa kami sampaikan kepada level eksekutif adalah blockchain diibaratkan sebagai operating system (OS). Misalnya, Windows. Di atas Windows, kita bisa membuat aplikasi. Aplikasi pertama dalam hal ini adalah Bitcoin. Tetapi nanti kita bisa membuat banyak aplikasi lainnya."

GM Banking dan Financial Market IBM Indonesia Inge Halim

"Blockchain merupakan gabungan banyak teknologi baru yang sudah sangat dewasa (mature), antara lain peer-to-peer (P2P), enkripsi, database, dan konsensus atau kesepakatan. Dalam setiap node blockchain, blok data dienkripsi dan hasil enkripsinya dimasukkan ke dalam blok data selanjutnya. Hasil enkripsi tersebut dienkripsi lagi, dan dimasukkan ke blok data selanjutnya, dan seterusnya. Bisa digambarkan seperti rantai yang terdiri dari blok-blok data."

Co-Founder of Blockchain Zoo Pandu Sastrowardoyo

Masyarakat lebih mengenal bitcoin yang sudah ada sejak 2009 ketimbang blockchain yang sebetulnya menjadi landasan mengapa mata uang virtual ada. Hal ini pula yang menimbulkan banyak miskonsepsi bahwa blockchain dan bitcoin adalah dua hal yang sama. Ini menandakan minimnya pemahaman masyarakat terhadap blockchain.

Apa perbedaan blockchain dan bitcoin? GM Banking dan Financial Market IBM Indonesia Inge Halim mengibaratkan blockchain sebagai sistem operasi (OS), sedangkan bitcoin merupakan aplikasi yang berjalan di atas OS tersebut.

Secara harafiah, blockchain merupakan sebuah sistem revolusioner yang menghubungkan antarjaringan komputer secara terdesentralisasi dan terdistribusi. Blockchain memungkinkan proses transaksi berjalan secara peer-to-peer (P2P) tanpa mengandalkan satu server.

Yang membuatnya berbeda, bitcoin masuk ke dalam jenis mata uang digital (cryptocurrency) yang berjalan di atas teknologi blockchain. Mata uang digital pun tak cuma Bitcoin saja, ada Ethereum, Lisk, Ripple, Dash, hingga DogeCoin. Bitcoin dapat diinvestasikan sebagai aset, dan bisa juga dipakai sebagai instrumen pembayaran.

Di sejumlah negara, bitcoin sudah bisa digunakan untuk membayar sebuah transaksi. Akan tetapi, di Indonesia, berbagai jenis mata uang digital dilarang dipakai sebagai alat pembayaran yang sah karena tidak sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

Lalu, apa yang membuat blockchain menjadi istimewa? Teknologi yang ditemukan oleh orang atau tim yang mengakui dirinya sebagai Satoshi Nakamoto ini, dianggap sebagai sebuah fenomena yang dapat merevolusioner cara kerja internet di masa depan. Blockchain juga diyakini bakal mendisrupsi sektor industri yang masih mengandalkan cara kerja tradisional.

Hal ini demikian mengingat segala macam aktivitas berbasis blockchain, mulai dari transaksi hingga pertukaran data, nantinya tak lagi mengandalkan pihak ketiga. Sejumlah pelaku usaha percaya bahwa blockchain dapat menjadi "game changer" di masa depan.

Sesuai konsep kerjanya yang terdistribusi dan terdesentralisasi, blockchain menawarkan transparansi tingkat tinggi bagi pihak-pihak yang tergabung dalam sistem jaringan komputer. Blockchain memampukan segala transaksi berpindah tangan dari satu pengguna ke pengguna lain tanpa bantuan pihak ketiga.

Seluruh data yang lalu-lalang di jaringan blockchain akan dienkripsi dan disimpan kopiannya ke seluruh pemilik jaringan blockchain berdasarkan kesepakatan (consensus). Dengan kata lain, sulit bagi peretas untuk mengubah atau memodifikasi data yang sama di semua komputer di saat yang sama mengingat butuh waktu yang sangat lama untuk bisa memecahkan kode enkripsi pada blok data di seluruh jaringan komputer.

“Blockchain punya sifat provenence atau dapat dilacak sumbernya dan immutable atau tidak diubah karena data-data yang tersimpan itu berantai. Satu rantai saja dicopot dan disisipkan sesuatu pasti ketahuan. Kenapa tidak bisa diretas? Kalau saya punya database, saya hack, habis sudah. Kalau shared ledger, bagaimana bisa saya hack ribuan komputer?” tutur Inge.

Blockchain dapat merekam perpindahan semua transaksi, seperti aset berwujud (tangible) dan tidak berwujud (intangible). Misalnya, untuk aset berwujud: properti dan barang elektronik. Lalu, aset tidak berwujud, seperti surat wasiat.

"Blockchain merevolusi cara kita melakukan transaksi. Kalau internet melakukannya demi informasi, blockchain melakukannya untuk transaksi," ucap Inge.

Secara ekosistem aplikasi, belum banyak yang bisa dimanfaatkan dari blockchain. Namun, menurut Chairwoman Blockchain Zoo Pandu Sastrowardoyo, banyak sekali ide aplikasi yang dapat dikembangkan dengan berbasis blockchain karena blockchain memiliki kemampuan untuk membuat kolaborasi antarpihak terjadi secara digital dengan setara.

Fleksibilitas
Namun Ada Batas

Blockchain tidak cocok diterapkan untuk transaksi atau aplikasi real-time. Tidak cocok untuk trading saham. Blockchain mengincar sebuah proses, keabsahan dari proses tersebut.

FOUNDER LEDGERNOW
LEONARDUS GAZALI

Blockchain mensimplifikasi berbagai proses panjang dan rumit yang melibatkan banyak pihak. Teknologi ini unggul dibandingkan teknologi konvensional lainnya karena dapat diimplementasikan di berbagai jenis sektor industri, seperti supply chain dan jasa keuangan.

Namun, perlu dicatat, tidak semua masalah yang timbul dapat diselesaikan dengan blockchain. Teknologi ini memiliki nilai tambah (value added) yang besar apabila diterapkan pada bisnis yang melibatkan lebih dari tiga pihak. Semakin banyak pihak terlibat, manfaat dari implementasi blockchain akan semakin terasa.

Skala bisnis juga menjadi kata kunci dalam pengimplementasian teknologi. Maka itu, kata pria yang disapa Leo ini, perusahaan yang baru berkembang dan proses bisnisnya baru melibatkan dua sampai tiga pihak saja, belum cocok untuk mengadopsi blockchain. Selain tidak perlu, implementasi yang tidak tepat akan berisiko terhadap bisnisnya.

“Sebetulnya ini tergantung use case. Tetapi secara umum memang ada masalah yang tidak perlu diselesaikan dengan blockchain. Misal, kalau volume transaksi yang ke-load tinggi, itu tidak bisa dipaksakan dengan blockchain, bisa jadi bottleneck atau memperlambat bisnis,” jelasnya.

Bagi sejumlah vendor yang menawarkan solusi berbasis blockhain, penting untuk menyebutkan model engagement yang tepat kepada calon klien. Di IBM misalnya, tahapan yang terjadi dimulai dari ideation, mendesain fitur MVP, eksekusi, hingga scale up.

“Saat klien datang, kami tanya apa yang ingin di-blockchain-kan? Karena tidak semua hal dapat diselesaikan dengan kemampuan blockchain. Jangan sampai overkill. Makanya, kami selalu mulai dengan sesi ideation hingga tahapan terakhir untuk mengetahui lebih dalam masalahnya.”

Inisiasi Pengembangan Ekosistem
Blockchain di Indonesia

Ibarat bayi, teknologi blockchain masih terbilang sangat baru di dunia, termasuk Indonesia. Implementasinya belum banyak dan masih terbatas. Banyak kerikil yang menghambat pertumbuhan ekosistemnya di Tanah Air. Salah satunya, pemahaman publik mengenai blockchain masih rendah. Tak sedikit yang belum bisa membedakan antara blockchain dan Bitcoin.

Semua pelaku usaha blockchain yang kami wawancarai juga sepakat bahwa sumber daya manusia (SDM) menjadi hambatan karena tenaga yang menguasai blockchain di Indonesia masih sangat sedikit. Belum lagi bicara banyak kepentingan dan pihak-pihak yang belum tentu terbuka dengan perubahan dan perkembangan teknologi yang kian pesat.

Hal-hal semacam ini yang mendorong berdirinya Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI). Sesuai visi misinya, ABI ingin membantu pertumbuhan positif untuk pengembangan ekosistem blockchain di Indonesia.

Ini adalah ekosistem baru dan banyak sekali miskonsepsi tentang blockchain. Lewat kegiatan yang kami lakukan, kami ingin mengedukasi pasar. Kami masih mencoba stimulasi komunitas lewat event-event yang kami jalankan jadi kami tahu pemain bisnis blockchain siapa saja.

SEKJEN ASOSIASI BLOCKCHAIN INDONESIA STEVEN SUHADI

Selain asosiasi, ada pula inisiasi lainnya yang memiliki tujuan sama dalam mengembangkan ekosistem blockchain di Indonesia, yakni Indonesia Blockchain Network (IBN). Jika ABI akan lebih proaktif ke jalur pemerintahan, IBN akan lebih fokus untuk mendorong komunitas blockchain melalui program edukasi dan pelatihan.

Co-founder IBN Hanindyo Notohatmodjo mengungkapkan bahwa misi awal terbentuknya komunitas ini atas dasar ketertarikan penyuka teknologi terhadap blockchain dan crypto asset. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini sepakat bahwa blockchain memiliki potensi besar.

"Goal awal adalah belajar bareng (blockchain), tetapi dalam perjalanan ini kami melihat bahwa ada gap terbesar adalah edukasi. Kami memiliki pengetahuan berbeda-beda dalam memahami teknologi ini. Ada yang cuma minat trading, mining, ada juga yang tertarik dengan crypto economy," jelas Hanindyo.

Blockchain dapat merekam perpindahan semua transaksi, seperti aset berwujud (tangible) dan tidak berwujud (intangible). Misalnya, untuk aset berwujud: properti dan barang elektronik. Lalu, aset tidak berwujud, seperti surat wasiat.

Berangkat dari hal ini, IBN melegalkan komunitas ini sebagai yayasan nonprofit. Tujuannya, menciptakan ekosistem dan memastikan teknologi ini dapat diimplementasikan dengan benar dan dapat berkontribusi terhadap perkembangan blockchain di dunia.

"Kami ingin educate, advocate. Banyak yang berpikir yayasan itu hanya kedok. Tapi tujuan kami adalah bertumbuh dengan komunitas," paparnya.

IBN saat ini memiliki anggota yang berasal dari berbagai macam profesi, mulai dari pemodal ventura, chief technology officer (CTO), pelaku industri, hingga penambang (miner). Untuk memastikan visi dan misi tercapai, IBN aktif menggelar berbagai seminar, workshop, dan program pelatihan.

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia

Product
Product Lead: Wiku Baskoro
Design: Rizky Beny
Tech: Bagus Rinaldhi

Artikel Terkait:


SHARE: