ERA KINI EKOSISTEM

ESPORTS

DI INDONESIA




PRESS START TO BEGIN

Meski belum memiliki fondasi kuat, ekosistem esports Indonesia tumbuh secara signifikan


Electronic sports / esports atau olahraga elektronik dikenal sebagai sebuah permainan yang bersifat kompetitif dan profesional. Sebelum terminologi ini berkembang seperti sekarang, esports dahulu berangkat dari sebuah kompetisi permainan arkade yang populer di tahun 1970-an.

Cikal bakal kompetisi game muncul ketika video game pertama di dunia lahir, yaitu Tennis for Two yang dirancang oleh William A. Higinbotham dan Robert V. Dvorak. Sejarah esports mencatat Spacewar sebagai kompetisi video game pertama di dunia yang digelar di Stanford University pada 1972.

Ada pula Space Invaders, salah satu turnamen video game besar lainnya yang digelar Atari pada 1980. Dunia juga memiliki figur gamer profesional pertama paling populer pada masa itu, yakni Billy Mitchell.

Seiring waktu, teknologi berkembang dan lahirlah internet. Mengutip tulisan Kumparan berjudul "Sejarah eSports: Dari Hadiah Majalah, Kini Dapat Uang Berlimpah", MUD (Multi User Dungeon) menjadi game internet pertama yang dapat menghubungkan banyak orang di Inggris lewat jaringan JANET.

Game internet yang lahir di masa itu adalah Netrek, game bergenre Real Time Strategy (RTS) yang melibatkan 16 pemain. Ini menjadi salah satu momentum kemunculan kompetisi game internet. Maraknya penggunaan Personal Computer (PC) juga membuat kompetisi game berkembang di dunia. Sebut saja sejumlah kejuaraan berskala internasional, seperti World Cyber Games, Major League Gaming, dan Championship Gaming Series.

Sorry, your browser does not support inline SVG.

Lalu, bagaimana esports sampai ke Indonesia? Kami mendapatkan informasi yang menyebutkan bahwa kompetisi video game pertama di Indonesia terjadi pada 1989. Informasi ini didapatkan dari foto spanduk bertuliskan "Lomba Nintendo Tingkat Jawa Timur" yang digelar di Surabaya. Foto ini diunggah di situs Indogamers.

Namun, DailySocial tidak mendapatkan sumber lainnya untuk memastikan bahwa informasi di atas valid. Di sisi lain, versi lain mencatat bahwa cikal bakal kehadiran esports di Indonesia muncul saat Eddy Lim, Ketua Umum Indonesia eSports Association (IeSPA), membentuk Liga Game untuk menghelat kompetisi game online pertama pada 1999.

Dalam tulisan Kumparan bertajuk “Sejarah eSports Indonesia: Dari Warnet Menuju Panggung Dunia”, Indonesia disebut-sebut sempat diperhitungkan sebagai salah satu negara dengan pemain atau tim terkuat untuk game DotA dan Counter Strike pada awal tahun 2000-an. Padahal, saat itu Indonesia belum menorehkan prestasi.

Pasang surut pun sempat terjadi di dunia esports Indonesia. Antusiasme penggiatnya semakin bertambah seiring semakin banyaknya event diadakan, baik oleh pengembang maupun komunitas game.

Kini game online juga berkembang dari hanya dimainkan satu pemain (single player) menjadi lebih dari satu pemain (multiplayer). DotA 2, Arena of Valor (AOV), Mobile Legends, dan CS:GO adalah sejumlah game yang dipertandingkan di turnamen esports saat ini.



Foto spanduk lomba Nitendo di Jawa Timur 1989 / Doc: Indogamers

DERETAN GAME YANG DIPERTANDINGKAN DI ESPORTS


Sejumlah game MOBA mulai menyasar segmen mobile sehingga membuat popularitasnya meroket di Indonesia



AOV


AoV pertama kali meluncur 14 Oktober 2016 di Taiwan. Di Indonesia, AoV berada di bawah naungan Garena. AoV menjadi game esports pertama yang dipertandingkan di Asian Games 2018.



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

Mobile Legends: BANG BANG


Game ini membuat nama esports semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia. Pengguna aktif bulanan di Indonesia mencapai 50 juta.



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

League of Legends (LoL)


LoL menjadi ekosistem esports profesional pertama di Indonesia karena pemainnya mendapat gaji dari liga. Pemain LoL di dunia telah menembus 100 juta.



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

DotA 2


Merupakan game esports PC yang paling banyak dimainkan setidaknya sampai 2018. DotA 2 memiliki aktivitas terbanyak di Steam dengan 800 ribu pemain per 2017.



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

Point Blank


Dikembangkan Zepetto, developer asal Korea Selatan pada 2008. Kemudian masuk ke Indonesia pada 2009. Ayap “Ayap_Sgaya7” adalah trooper Point Blank tertua di Indonesia berusia 53 tahun.



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

Counter Strike: Global Offensive (CS: GO)


Counter Strike adalah franchise game esports tertua di Indonesia. Pencapaian terbaik Indonesia di tingkat internasional berasal dari franchise ini. Indonesia juga dikenal punya dua pemain terbaik CS:GO, yakni Hansel “BnTeT” Ferdinand dan Kevin “xccurate” Susanto.



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG)


PUBG Mobile lebih populer dibanding versi PC di Indonesia. Selain dapat dimainkan oleh 100 orang sekaligus secara bersamaan, game ini tersedia untuk platform PC, mobile, dan konsol.



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

KOMPETISI GAME
DARI MASA KE MASA


Dihelat di Stanford University pada 19 Oktober 1972
Berhadiah langganan gratis majalah Rolling Stone

Digelar Atari di AS pada 1980
Diperkirakan menghadirkan 10.000 pemain di seluruh AS

Kompetisi game terbesar di AS tahun 1990-an
Juara pertama mendapat uang tunai $250, dan juara kedua mendapat Nintendo Power Pad dan Game Boy

SEJUMLAH TURNAMEN
ESPORTS DI ERA INI

World Cyber Games

Major League Gaming

Championship Gaming Series

World Series of Video Games

The International DotA2 Championship

Arena of Valor World Cup (AWC)

World Electronic Sports Games SEA (WESG)

Indonesia Games Championship (IGC)

South East Asia Cyber Arena (SEQCA)

PRESTASI YANG
DITOREHKAN INDONESIA

Ridel Yesaya Sumarandak memenangkan medali emas cabang esports Clash Royale di Asian Games 2018

RRQ Endeavour menjuarai PBIC 2017

TEAMnxl> menang qualifier MSI Beat It Asian Cyber Games (ACG) 2013

Tim DotA 2 BOOM ID juara kualifikasi untuk Asia Tenggara di The Bucharest Minor

Masih ingat dengan turnamen Mobile Legends Professional League (MPL) yang diadakan di Mal Taman Anggrek awal 2018 ini? Event tersebut sempat bikin heboh lantaran para penggemar game yang datang membludak dan tidak disangka. Game besutan Moonton itu disebut-sebut membuat nama esports semakin populer.

Awareness masyarakat terhadap esports pun semakin kuat kala Indonesia, lewat aksi Ridel Yesaya Sumarandak, untuk pertama kalinya memboyong medali emas esports nomor Clash Royale di Asian Games 2018. Meskipun hanya sebagai cabang ekshibisi, esports mulai diakui oleh masyarakat.

Di sisi klub atau organisasinya, Indonesia punya sederet tim terkemuka, seperti EVOS, BOOM ID, RRQ, Aerowolf, GGWP, hingga DG Esports. Ada segudang prestasi yang pernah ditorehkan tim esports Indonesia. Selain itu, bisnis event organizer (EO) yang menghelat pertandingan esports juga tumbuh subur berkat bertumbuhnya peminat dan antusiasme generasi muda terhadap esports.

Pertandingan esports baik berskala nasional, regional, hingga internasional cukup sering digelar di Indonesia. Untuk skala besar, ada Indonesia Games Championship 2018 dan South East Asia Cyber Arena (SEACA) dengan total hadiah masing-masing Rp600 juta dan Rp1,4 miliar.

Selain turnamen atau liga, esports memberikan pengaruh besar terhadap penjualan aksesori gaming di dunia. Global Gaming Peripheral Market menyebutkan pasar produk game peripheral meroket hingga $2,44 miliar pada 2017 dan diperkirakan terus naik hingga $4,3 miliar pada 2023.

Menurut riset Newzoo bertajuk 2018 Global Esports Market Report, nilai pasar esports di dunia tembus $905,6 juta atau setara Rp13,2 triliun di 2018. Olahraga masa depan ini diperkirakan menggapai nilai pasar hingga $125 miliar atau lebih dari Rp1.800 triliun pada 2020.

Newzoo baru-baru ini juga melaporkan Indonesia mengantongi pendapatan dari industri game sebesar $879,7 juta atau senilai Rp13 triliun di 2018. Ini yang menjadikan Indonesia sebagai pasar terbesar ke-16 industri game di dunia.

Bisnis esports di Indonesia bisa tumbuh cemerlang apabila memiliki ekosistem yang solid dan didukung pemerintah. Indonesia memiliki peluang sangat besar mengingat saat ini, gamer Indonesia diprediksi mencapai 35 juta dan akan naik menjadi 54 juta di 2018.

LINGKARAN EKOSISTEM
ESPORTS INDONESIA


(Sumber: Mojok.id, Kincir.com, Esports.id, DuniaGames.co.id, Hai.grid.id, Metaco, Popcon Asia, Esportsearnings.com)




1. ASOSIASI DAN KOMUNITAS ESPORTS

Indonesia telah memiliki asosiasi yang didukung dua kementerian, yakni Kemkominfo dan Kemenpora, serta organisasi pengada liga esports terbesar di Indonesia.


Indonesia Esports Association (IESPA)

Berdiri 2013
Diketuai Eddy Lim, pendiri Liga Game
Punya misi memajukan esports Indonesia

Indogamers

Salah satu komunitas gamer online terbesar di Indonesia
Komunitasnya berdiri 2003, sedangkan portal Indogamers baru berdiri 2006

Indonesia Esports Premiere League (IESPL)

Organisasi pengada liga esports pertama di Indonesia
Digagas Giring Ganesha, Rangga D Prasetyo, Audrey Sianturi, dan Ezra Marcella
Liga pertamanya Tokopedia Battle of Friday yang diikuti 12 tim
Ingin bentuk liga esports nasional untuk perkuat ekosistem esports



2. TIM ESPORTS

Ada banyak tim esports yang ada di Indonesia. Namun, hanya ada belasan tim esports yang telah menjadi organisasi legit, termasuk memiliki banyak divisi game. Beberapa di antaranya:




TEAMnxl>
Berdiri 2006 / 11 Divisi Game

RRQ
Berdiri Oktober 2013 / 8 Divisi Game

PondokGaming BarracX
Berdiri 2013 / 6 Divisi Game

EVOS
Berdiri Juli 2016 / 8 Divisi Game

BOOM ID
Berdiri November 2016 / 7 Divisi Game

DG Esports
Berdiri Desember 2017 / 4 Divisi Game


3. PEMAIN ESPORTS UNGGULAN ASAL INDONESIA

Indonesia punya sejumlah pemain profesional berkualitas yang diperhitungkan di berbagai turnamen esports. Berikut empat pemain terbaik seperti dimuat di artikel “RevivalTV Awards 2017: 9 Pemain Esports Terbaik Asal Indonesia di 2017!”



Hansel “BnTeT” Ferdinand - Counter Strike: Global Offensive

Membuat tim Recca menjadi tim CS:GO yang disegani di Asia Tenggara
Pemain esports berpendapatan tertinggi di Indonesia, yakni Rp325 juta (per 2017)
Sejak 2017 bergabung dengan TYLOO, tim esports asal Tiongkok

4. ESPORTS ORGANIZER


Supreme League

Organizer dari Indonesia yang menggelar turnamen CS:GO dan DotA 2
Berdiri 2017, Supreme League punya bisnis iCafe
Event yang digelar, yaitu Supreme League Grand Opening Tournament, Survival Championship 2018, dan Ultime Hombre Jakarta dan Surabaya

Mineski Event Team Indonesia

Berasal dari Filipina, Mineski termasuk organisasi esports terbesar dan tertua di SEA
Masuk ke Indonesia lewat cyber cafe Mineski Infinity di 2017
Indonesia Pride Gaming League (IPGL) jadi event pertamanya
Menggelar Tokopedia Garuda Cup

RevivalTV

Media esports dan perusahaan broadcasting pertama di Indonesia
Punya broadcast channel DotA 2 pertama di Indonesia
Turnamen besar yang pernah digarap, yaitu MPL Indonesia Season 1, MSC 2018, dan Kaskus Battleground 2018

Electronic Sports League (ESL) Indonesia

Resmi berkolaborasi dengan Salim Group per September 2018
Bakal boyong ESL National Championship ke Indonesia di 2019



5. ESPORTS-PRENEUR INDONESIA



Youtuber Gaming - Jess No Limit

Bernama asli Tobias Julian
Punya 4,7 juta subscriber YouTube dengan total viewers mencapai ratusan juta (per 2018)
Diperkirakan mengantongi pendapatan sebesar $237.737 atau sekitar Rp3,5 miliar dari YouTube

EKOSISTEM ESPORTS DI INDONESIA

Dalam rentang belasan tahun sejak esports diperkenalkan ke Indonesia, belum banyak perubahan signifikan terjadi untuk mendorong pertumbuhan industri ini. Jangankan regulasi atau standarisasi, esports saja belum diakui secara resmi sebagai cabang olahraga oleh pemerintah Indonesia.

Jika dibandingkan dengan beberapa negara di Asia, posisi Indonesia masih tertinggal jauh. Di Korea Selatan misalnya, pemerintah serius menjadikan esports sebagai salah satu roda penggerak ekonomi. Esports di Negeri Ginseng ini semakin maju berkat komitmen pemerintah dalam memperkuat pondasi ekosistemnya, misalnya melalui pembangunan jaringan internet cepat.

Sebetulnya ekosistem esports di Indonesia sudah mulai terbentuk. Kita memiliki Asosiasi Olahraga Elektronik Indonesia atau Indonesia eSports Association (IeSPA) yang berdiri pada 2013 dan diakui oleh Kemkominfo dan Kemenpora.

Selain Eddy Lim, ada empat pendiri lainnya, yakni Prana Adisapoetra, Erwin, Richard Permana, dan Terry. Asosiasi ini berdiri untuk memajukan esports Indonesia dengan mewujudkan masyarakat Indonesia yang berprestasi di bidang esports dan menyebarluaskan esports ke seluruh pelosok tanah air.

Kepada DailySocial, Eddy Lim menyebutkan bahwa saat ini visi misi tersebut ingin direalisasikan dengan fokus pada sosialisasi esports ke khalayak luas, terutama anak-anak muda. Untuk merangkul lebih banyak generasi muda di Indonesia, IeSPA membentuk pengurus daerah di 12 provinsi di Indonesia, termasuk hingga di Papua Barat.

Sejatinya asosiasi ini menjadi "rumah" bagi siapapun yang terlibat di industri esports. Tidak hanya tentang pemain profesional dan timnya, bicara dalam lingkup yang lebih luas esports telah melahirkan lebih banyak jenis pekerjaan baru. Ada EO sebagai penyelenggara turnamen, caster, streamer, hingga analis. Mineski Indonesia, Revival TV, dan Supreme League adalah tiga organizer turnamen yang sering menghelat event-event esports besar di Indonesia.

Ekosistem esports Indonesia juga bertambah dengan kehadiran IESPL atau Indonesia Esports Premiere League di awal tahun ini. Berbeda dengan IeSPA, IESPL merupakan liga yang menghadirkan tim-tim esports papan atas. Sejumlah game yang dipertandingkan antara lain DotA 2, Mobile Legends, Counter Strike: Global Offensive, dan Point Blank.

Sebagai liga esports terbesar di Indonesia, salah satu penggagas IESPL Rangga Danu mengungkap bahwa organisasi ini memang ingin merangkul ekosistem esports Indonesia. Apalagi IESPL mengajak 12 tim esports profesional untuk berlaga di dalamnya. Saat ini IESPL telah memulai laga musim pertamanya sejak Juli lalu.

IESPL bahkan berencana untuk membentuk liga esports nasional sebagai upaya untuk lebih memperkuat ekosistem ini di Indonesia. Menurut Penasihat IESPL Danny Oei, pembentukan liga nasional dapat membangun bisnis esports yang lebih sustainable serta menghindari ketergantungan terhadap game publisher.

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia, Yabes Elia

Product
Product Lead: Wiku Baskoro
Design: Rizky Beny
Tech: Bagus Rinaldhi, Prasetyama Hidayat, Yoga Nugraha

Artikel Terkait:


SHARE: