Artboard 5
Artificial Inteligence
Artificial Inteligence
Artificial Inteligence
Artificial Intelligence / Part 2

Kecerdasan Buatan Menuju Pilar Ekonomi Indonesia


Ketakutan akan risiko kecerdasan buatan belum sebanding dengan nilai tambah yang diciptakannya
Robot Robot
You got the message

Percakapan di atas terdengar seperti percakapan biasa yang terjadi antar-pelanggan dan penjual. Namun, contoh barusan sebetulnya adalah gambaran simulasi interaksi manusia dengan program komputer atau chatbot yang bakal banyak kita temui di masa depan. Bayangkan suatu hari nanti akan ada pekerjaan yang diselesaikan dengan otomasi. Efisiensi tercipta, begitu juga lapangan kerja baru. Kita juga dapat membayangkan sebuah analisis terprediksi yang dapat menyelesaikan berbagai macam masalah di berbagai sektor industri.

Contoh-contoh di atas menjadi salah satu use case atau model paling sederhana dari sekian banyak model yang dapat kita kembangkan dengan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Teknologi ini memampukan mesin untuk mereplikasi cara berpikir manusia. Mesin akan dilatih berdasarkan kumpulan data agar dapat memecahkan persoalan termasuk dalam mengambil keputusan. AI bak teknologi super keren yang bakal merevolusi kehidupan manusia berkat nilai positif yang ditawarkan.

Pada kenyataannya, ada juga yang menentang keras gagasan ini. Ahli fisika brilian Stephen Hawking sudah jauh-jauh hari memperingatkan bahaya AI. Menurutnya, AI dapat mengancam eksistensi kehidupan karena dapat melampaui kecerdasan manusia.

“Kesuksesan dalam menciptakan AI yang efektif dapat menjadi peristiwa terbesar dalam kehidupan kita atau justru yang terburuk. Kita tidak tahu. Kita tidak bisa tahu jika kita terbantukan oleh AI secara tak terbatas, atau terabaikan, atau dihancurkan olehnya,” ucapnya saat berbicara di konferensi teknologi Web Summit beberapa tahun lalu.

Oke, mari kita bicara risikonya. Pakar kecerdasan buatan Bernard Marr menyebutkan, AI dapat berisiko besar apabila diprogram untuk membunuh. Dalam opininya yang dimuat di laman Forbes, hal tersebut dapat menjadikan AI sebuah senjata otonom yang mematikan. Jika hal ini terjadi, akan sulit untuk memeranginya.

ADU GAGASAN TENTANG KECERDASAN BUATAN

Kemudian ada ketakutan lain bahwa AI akan menggantikan pekerjaan manusia. Menurut Andrew McAfee, salah satu Direktur di MIT Initiative on the Digital Economy, setidaknya ada delapan pekerjaan yang bakal tergantikan oleh robot di masa depan, seperti pengemudi, pilot, guru, dan agen perjalanan.

Prediksi ini terlihat nyata ketika kantor berita Xinhua, Tiongkok, mencoba menggunakan presenter robot untuk membaca berita selama 24 jam. Tujuannya tak lain untuk mengurangi biaya produksi. Masih banyak lagi beragam ramalan dan prediksi yang jauh dari kata manfaat.

Belum apa-apa kita sudah ditakut-takuti dengan berbagai macam prediksi yang belum tentu benar-benar terjadi. Kita perlu tahu bahwa robot bukanlah satu-satunya hasil akhir dari ciptaan AI.

Apakah hal ini menjadi sebuah pesan yang harus kita abaikan? Apakah AI menjadi hal yang patut kita waspadai? Ya dan tidak juga. Bagaimana kita menarik manfaat dari sebuah kecerdasan yang diciptakan?

AI Menjadi Motor
Penggerak
Ekonomi

Indonesia pernah merasakan "kemiskinan" internet pada beberapa tahun silam. Laporan Akamai di tahun 2014 mengungkap Indonesia hanya memiliki kecepatan internet rata-rata 1,5 Mbps atau kedua terbawah di Asia Pasifik.

Mantan Menkominfo Tifatul Sembiring menanggapi "prestasi" tersebut dengan guyonan lewat cuitannya di Twitter: "Tweeps Budiman, memangnya kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?...:D *MauTauBanget*".

Pertanyaan “Internet untuk apa?” sesungguhnya menunjukkan ketidaktahuan kita terhadap manfaat masif dari internet.

Kita lupa Indonesia merupakan negara besar yang terpisahkan oleh 17.000 pulau. Kita tidak melihat big picture bahwa internet dapat membuka pandangan masyarakat terhadap hal baru. Kita lupa masih banyak di antara kita, hingga saat ini pun, belum terjamah dengan infrastruktur dan fasilitas modern, seperti internet.

Dalam skala besar, internet dapat mendorong perekonomian Indonesia dan hal ini terbukti. Siapa yang menyangka layanan ride-sharing Go-Jek kini menjadi kiblat industri digital Indonesia? Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) mencatat Go-Jek menyumbang Rp44,2 triliun terhadap perekonomian Indonesia di sepanjang 2018.

Angka tersebut adalah sebuah nominal yang sangat mewah bagi perusahaan teknologi yang mungkin kalah strata dengan perusahaan-perusahaan korporat kelas atas. Go-Jek bahkan menjadi startup berstatus unicorn pertama di Indonesia yang kini valuasinya lebih dari Rp135 triliun.

Di balik layanan tersebut, ada manusia dan teknologi yang menjadi penopangnya. Mengapa kita tidak menggunakan analogi yang sama untuk AI? Mengapa kita tidak memberi kesempatan bagi AI untuk menunjukkan nilai positifnya?

Ada beberapa hal yang perlu diketahui. Saat ini, AI masih dinilai sebagai teknologi mahal di Indonesia. Implementasinya belum seberapa dan itupun masih berkutat untuk keperluan bisnis. Riset IDC yang diikuti 112 pemimpin bisnis dan 101 karyawan menyebutkan, adopsi AI untuk bisnis di Indonesia baru mencapai 14 persen.

Kebanyakan pebisnis atau korporasi mengadopsi AI untuk meningkatkan hal-hal yang berkaitan dengan konsumen. Hal ini berdasarkan data IDC yang mencatat lima alasan mereka mengadopsi AI, antara lain customer engagement yang lebih baik (40%), persaingan tinggi (17%), marjin lebih besar (24%), percepatan inovasi (11%), dan produktivitas karyawan (6%).

Riset di atas cukup menggambarkan banyaknya produk asisten virtual atau chatbot yang dikembangkan perusahaan untuk meningkatkan pengalaman konsumen. Beberapa contoh yang sudah komersial di antaranya asisten virtual Veronika (Telkomsel), Sabrina (BRI), dan Vira (BCA).

Dalam skala besar, Head of Operations IDC Indonesia Mevira Munindra mengungkap, teknologi AI punya peran besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. AI juga digadang-gadang menjadi motor atau pilar utama dari Industri 4.0.

Meskipun demikian, selama AI hanya dipersepsikan sebagai teknologi pendorong customer experience, rasanya akan sulit untuk melihat kontribusi AI terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini masih dikatakan wajar mengingat adopsinya masih baru.

Beda halnya jika AI digunakan untuk menyokong industri-industri besar dalam proses bisnisnya, seperti industri manufaktur atau supply chain. Manusia akan mengandalkan mesin automasi. Hal ini akan meningkatkan efisiensi dari sisi operasional dan waktu. Tenaga manusia dapat digunakan untuk mendorong produktivitas lain.

“Saat ini, kami belum melihat ada use case implementasi AI untuk industri yang sesungguhnya. Kontribusinya [terhadap ekonomi Indonesia] akan cepat terlihat apabila AI benar-benar dimanfaatkan untuk proses bisnis, bukan hanya peningkatan customer experience,” ujar Mevira kepada DailySocial.

Dalam jangka pendek, lanjut Mevira, AI dan cloud diprediksi menjadi kontributor terbesar di sektor digital. Sementara, sektor digital diestimasi menyumbang 61 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2022. Setidaknya sebanyak 10 persen sistem dan endpoint perangkat akan menggunakan algoritma AI pada 2020.

“Di 2024, AI akan banyak diadopsi sebagai User Interface (UI) baru atau yang berkaitan dengan otomasi [sebuah layanan]. Konteksnya tidak hanya chatbot atau voice recognition.”

Perlu Transformasi
Menyeluruh

Untuk mencapai skala yang lebih besar, sulit mengandalkan implementasi dari sisi bisnis saja. Jangankan bicara Industri 4.0. Sejumlah perusahaan belum melihat AI sebagai elemen penting dalam bisnis mereka ke depan. Siapa yang akan mengimplementasikan AI jika kita tidak punya talenta yang berkompetensi?

Adopsi AI di kalangan bisnis baru menyentuh 14 persen di Indonesia. Bagaimana dengan organisasi lain? IDC menyebutkan bahwa 14 persen organisasi belum berminat menjadikan AI sebagai strategi utama, 30 persen masih menunggu ekosistem AI di Indonesia matang, dan 42 persen sudah mulai melakukan eksperimen melibatkan teknologi AI.

Ini artinya masih banyak perusahaan yang belum tahu, belum sepakat, dan belum memiliki kompetensi terhadap pengembangan AI di dalam bisnisnya. Mevira mencatat sejumlah tantangan yang dihadapi perusahaan di Indonesia. Ini berlaku bagi mereka yang belum mau melakukan transformasi digital. Kalaupun sudah, perusahaan berada di posisi stuck.

Apa yang menjadi tantangannya?

1. Komitmen C-Level

Ia menilai masih banyak level eksekutif yang belum punya komitmen terhadap perubahan. Padahal, transformasi harus dilakukan dari atas, bukan dari tengah atau bawah. Perlu perencanaan sehingga perusahaan dapat mempersiapkan budaya dan mindset kerja yang akan dibangun.

2. Transformasi Talenta

Ini menjadi turunan dari komitmen bertransformasi. Menurutnya, mayoritas perusahaan belum sadar terhadap pentingnya perubahan di era mendatang. Maka itu, perusahaan belum memiliki divisi khusus yang fokus terhadap pengembangan skillset dan teknologi baru.

3. Integrasi Data

Rendahnya kemauan untuk bertransformasi diakibatkan tidak adanya integrasi data yang solid. Ia menyebutkan masih banyak perusahaan yang belum mau terbuka terhadap data. Bahkan di lingkup internal atau antar divisi. “Bisa jadi karena struktur organisasi masih tradisional. Ada yang harus comply dengan aturan,” ujarnya.

Tantangan di atas tak hanya berlaku di lingkup perusahaan. Sektor pemerintahan yang dianggap sebagai sektor paling konvensional dan memiliki sejarah birokrasi panjang juga menghadapi hal serupa. Inisiasi dari pemerintah diperlukan untuk memberikan cerminan positif terhadap sektor-sektor yang lain.

Sayangnya, pemerintah belum menganggap teknologi AI sebagai prioritas utama. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyatakan belum berencana membentuk roadmap khusus atau strategi nasional untuk mengembangan AI dalam waktu dekat. Strategi ini bisa berupa pengembangan talenta atau adopsi AI di sektor-sektor strategis di Indonesia.

“Kita belum ada [pembicaraan] ke arah sana karena kecerdasan buatan masih sangat baru sekali di Indonesia,” ujar Dirjen SDPPI Kemkominfo Ismail saat ditemui beberapa waktu lalu.

DUNIA BERLOMBA MENJADI PEMIMPIN
KECERDASAN BUATAN

Dalam tulisan peneliti kebijakan AI, Tim Dutton, bertajuk “An Overview of National AI Strategies”, tercatat lebih dari 20 negara merancang kebijakan ini. Tak satupun strateginya sama, dan fokus yang ingin dicapai juga berbeda-beda.

Kredit: Medium.com

Kanada

Menjadi negara pertama di dunia yang menetapkan strategi AI nasional dengan periode lima tahun sejak 2017

Key policy:

  • Menambah jumlah lulusan dan peneliti AI

  • Menyusun tiga kelompok ilmiah berkualitas

  • Membangun kepemimpinan pada ekonomi, etik, kebijakan, dan implikasi legal pada AI

  • Mendukung komunitas peneliti AI nasional

Tiongkok

Menetapkan ambisinya untuk menjadi kiblat di bidang AI sejak mengumumkan peta jalan nasional di 2017

Key policy:

  • Fokus pada pengembangan produk cerdas dan terhubung, seperti kendaraan dan robot

  • Pengembangan sistem pendukung AI, seperti sensor cerdas dan chip jaringan saraf

  • Mendorong pengembangan industri manufaktur cerdas

  • Memperbaiki ekosistem AI melalui investasi di sumber daya, standardisasi uji coba, dan keamanan siber

Malaysia

Telah mengumumkan rencananya untuk menyusun framework AI nasional sejak Oktober 2017

Key policy:

  • Framework ini akan mengutamakan pada ekspansi big data analytic yang akan dijalankan oleh Malaysia Digital Economy Corporation (MDEC)

Singapura

Menggelontorkan S$150 juta untuk peta jalan nasional AI selama lima tahun yang diterbitkan pada Mei 2017

Key policy:

  • Penelitian AI mendasar pada penelitian ilmiah yang akan berkontribusi pada pilar-pilar utama pengembangan AI di Singapura

  • Menghasilkan solusi inovatif untuk menghadapi tantangan utama di sejumlah sektor

  • Mendanai pengembangan solusi yang dapat diimplementasikan untuk masalah yang lebih besar

Untungnya masih ada angin segar terhadap pengembangan talenta. Menurut Head of Nvidia dan Binus AI R&D Center Bens Pardamean, pihaknya tengah melakukan pembicaraan dengan Menristekdikti Mohamad Nasir untuk membentuk edukasi tentang Industri 4.0. Wacana tersebut dapat menjadi langkah dini untuk mengedukasi generasi muda tentang teknologi yang menjadi pilar Industri 4.0.

“Edukasi ini belum tentu dalam bentuk kurikulum. Yang penting bukan itu, tetapi bagaimana AI bisa di level implementasi. Kita tidak bisa chicken and egg, menunggu apa dulu yang dilakukan. Saya ingin AI tidak sebatas pada teori, tetapi sampai prototype,” paparnya.

Menurutnya, hal lain yang dapat dilakukan adalah melakukan sharing knowledge. Upaya ini dapat dilakukan dengan membuat fasilitas R&D AI sebagai sebuah fasilitas terbuka bagi siapa saja. Pemerintah tidak perlu membangun sekian fasilitas lab, tetapi berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menyediakan fasilitas R&D AI.

MENGGUGAH SEMANGAT AKADEMIK
LEWAT KOLABORASI

Aliansi antara perguruan tinggi dan perusahaan teknologi dibangun atas keinginan untuk melahirkan lebih banyak talenta dan ragam penemuan kecerdasan buatan

binus univesity Nvidia

Binus University - NVIDIA

  • Membangun Artificial Intelligence Research and Development (AI R&D)

  • Membuka peluang kolaborasi pengembangan AI antara akademisi dan industri

  • Membuka pelatihan untuk percepat perluasan pengetahuan AI di Indonesia

Universitas Multimedia Nusantara - Renom Infrastruktur Indonesia

  • Kolaborasi menghadirkan Lab AI UMN

  • Bertujuan untuk mencetak lebih banyak data scientist, ahli big data, dan AI

Universitas Multimedia Nusantara Renom Infrastruktur Indonesia
Universitas Multimedia Nusantara Institut Teknologi Bandung

Bukalapak - Institut Teknologi Bandung

  • Membangun Bukalapak-ITB Artificial Intelligence & Cloud Computing Innovation Center

  • Bertujuan untuk memancing ide segar para mahasiswa dengan mengandalkan data Bukalapak

Tokopedia - Universitas Indonesia

  • Membangun AI Center of Excellence sebagai pusat pertemuan akademisi dan akademisi

  • Pengembangan AI berbasis teknologi deep learning dari NVIDIA, yakni NVIDIA® DGX-1

Tokopedia Universitas Indonesia

Dari sejumlah pandangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa mengadopsi teknologi baru tidak dapat dilihat dari kacamata chicken and egg. Kita tidak pula bisa menolak kehadirannya karena teknologi adalah sebuah keniscayaan yang pasti terjadi.

Saat ini, AI masih dianggap sebagai teknologi mahal karena memerlukan proses pengembangan yang kompleks. Bagaimana kita dapat menghadapinya apabila kita tidak memiliki sumber daya manusia? Yang patut kita lakukan saat ini adalah mempersiapkan talenta-talenta baru.

Talenta-talenta ini dapat diandalkan untuk membangkitkan kembali usaha kecil menengah (UKM), agrikultur, dan kelautan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi dan identitas Indonesia di mata dunia.

Terlepas dari nilai-nilai positifnya, ramalan buruk mengenai implementasi AI memang sudah menjadi konsekuensi yang harus dihadapi manusia. AI membuat mesin terus belajar dan berkembang. Yang terjadi, mesin menjadi pintar dan manusia menjadi bodoh.

Kita tidak perlu resisten terhadap nilai buruknya, tetapi justru menjadikan hal tersebut sebagai antisipasi menghadapi AI di masa depan. Sepatutnya AI tidak menggulingkan otoritas manusia.

"AI akan terus belajar sampai menciptakan kondisi ideal. Dengan begini, kebutuhan manusia akan terpenuhi, tetapi kreativitasnya diam di tempat. Ini membuat manusia bergeser fungsi dan menjadi pemalas. Maka itu, kita tidak bisa melawan AI. Yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki kualitas manusia dan kembali ke hal-hal dasar untuk mempertahankan kehidupan," papar Pengamat Teknologi Tommy Dian Pratama.

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia

Product
Product Lead: Gisella Soselisa
Design: Rizky Beny
Tech: Prasetyama Hidayat, Yoga Nugraha, Ray Azrin Karim, Yafonia

Artikel Terkait


SHARE: