Menapaki Kerikil
di Industri IoT Indonesia

Tak optimalnya manufaktur komponen hingga gap prototyping menghambat ekosistem Internet of Things di Indonesia

Revolusi industri jilid empat atau Industri 4.0 kini sudah di depan mata. Indonesia tak mau ketinggalan memanfaatkan momentum ini sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara.

Memasuki era ini, Presiden Joko Widodo menyiapkan peta jalan (roadmap) bertajuk Making Indonesia 4.0 pada April lalu dengan harapan dapat membuka lapangan kerja serta menarik lebih banyak investasi baru berbasis teknologi.

Secara sederhana, Industri 4.0 merupakan sebuah tren otomasi dan pertukaran data di mana dunia industri akan terdigitalisasi. Tren ini akan mengubah cara kerja manusia di masa depan serta membuka peluang tak hanya bagi pelaku bisnis besar tetapi hingga ke daerah.

Sekilas tentang
Revolusi Industri 4.0

Sumber: Kementerian Perindustrian

1. Pemerintah meluncurkan roadmap Making Indonesia 4.0 berisi strategi untuk masuk ke era Industri 4.0

2. Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menyatakan revolusi ke era Industri 4.0 akan meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global

3. Pemerintah mendorong stakeholder terkait untuk berpartisipasi mengembangkan ekosistem IoT sebagai salah satu penopang Industri 4.0

Sebagai salah satu pilar pengembangan Industri 4.0, Internet of Things (IoT) digadang menjadi enabler atau jalan pembuka Indonesia untuk menuju ke era itu. Sejumlah riset bahkan telah menunjukkan peluang Indonesia untuk membangun ekosistem IoT di Tanah Air.

Pertama, menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Indonesia berpeluang menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, baik di manufaktur maupun industri eceran.

Prediksi ini turut diperkuat Google dan Temasek yang mengestimasi pengguna internet di Indonesia tumbuh 19 persen (CAGR) menjadi 215 juta di 2020. Riset McKinsey di 2016 juga memprediksi ekonomi tahunan Indonesia dapat naik hingga $150 miliar dengan melakukan digitalisasi.

Lalu, bagaimana posisi ekosistem IoT Indonesia dalam menyambut era Industri 4.0 dalam beberapa tahun ke depan?

Sebelum pembahasan lebih jauh, terlebih dahulu kita perlu memahami definisi IoT dan bagaimana IoT memberikan nilai tambah terhadap keberlangsungan bisnis dan kehidupan manusia.

Secara garis besar, IoT merujuk pada konsep di mana antar-perangkat saling terhubung dengan internet tanpa bantuan manusia. Perangkat ini terhubung dengan berbagai komponen yang mengirimkan atau menerima informasi sehingga memungkinkan efisiensi sebuah proses kerja.

Mengutip Makers Institute Indonesia, pesatnya perkembangan teknologi informasi (TI) mengubah sebuah produk menjadi sebuah sistem yang kompleks karena menggabungkan hardware, sensor, software, cloud, mikroprosesor, dan konektivitas.

“Produk yang smart dan connected inilah yang kemudian kerap disebut-sebut dengan terminologi Internet of Things,” demikian tertulis Makers Institute Indonesia dalam blognya.

Tak cuma smartphone yang dapat terhubung, kulkas, lampu, coffee maker, mesin cuci, hingga perangkat wearable juga bisa. Sebagai contoh, sebuah lampu dapat menjadi perangkat cerdas karena dapat dikendalikan melalui aplikasi agar dapat menyala dan padam dengan sendirinya.

Nah, yang membuat IoT menjadi bernilai adalah bukan terletak pada seberapa canggih produk tersebut, melainkan data yang dikirimkan. Analitik data secara real-time dapat menjadi komunikasi langsung sebuah jaringan untuk menghasilkan data yang bernilai.

4 Bentuk Penerapan IoT

Sumber: Microsoft, Forbes, IBM, IoT for All

“Segala perangkat IoT yang terintegrasi perangkat lain akan menerapkan analitik data di mana mereka akan menghasilkan data bernilai dan dapat menjadi solusi atas berbagai masalah,” ungkap IBM dalam blognya.

Artinya, segala macam benda dapat menjadi sebuah perangkat cerdas yang dapat mengubah gaya hidup manusia ke era teknologi modern. IoT juga membuka potensi bisnis besar terutama terhadap perusahaan dan vendor teknologi.

Indonesia IoT Forum memerkirakan nilai pasar IoT Indonesia dapat mencapai Rp 444 triliun di 2022 dengan lebih dari 400 juta sensor terpasang. Nilai tersebut disumbang elemen konten dan aplikasi (Rp192,1 triliun), platform (Rp156,8 triliun), perangkat IoT (Rp56 triliun), serta network and gateway (Rp39,1 triliun).

“Bicara IoT tak cuma soal hardware, connectivity, dan cloud. Tetap harus ada ‘things’ yang terkoneksi satu sama lain untuk melakukan pertukaran data, menciptakan suatu intelligent, dan masuk ke cloud sehingga bisa dinikmati manusia lewat aplikasi.”

CEO DycodeX Andri Yadi

Tak optimalnya industri perakitan hingga gap prototyping

Dengan karakteristik geografi yang luas, Indonesia sebetulnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem IoT dari hulu ke hilir. Sejak beberapa tahun lalu, sudah banyak yang mengembangkan solusi inovatif berbasis IoT.

Indonesia punya solusi pemberi pakan ikan ternak otomatis (eFishery) dan solusi peternakan secara end-to-end (DycodeX). Kemudian, HARA yang merupakan solusi IoT untuk menangani permasalahan di sektor pertanian dan pangan.

Untuk menaungi industri ini dibentuk Indonesia IoT Forum yang digagas Teguh Prasetya. Ada pula Gerakan Menuju 100 Smart City yang diinisiasi lintas Kementerian dengan tujuan memaksimalkan pemanfaatan teknologi dan mengakselerasi potensi di setiap daerah.

Hanya saja, bisnis IoT di Indonesia belum menunjukkan geliatnya. Belum terbentuknya ekosistem secara matang menjadi salah satu penghambat minimnya pengembang IoT (maker) yang ingin menjadikan solusi IoT sebagai sebuah produk komersial.

Hal ini diungkapkan CEO DycodeX Andri Yadi saat DailySocial menyambangi kantornya di Bandung beberapa waktu lalu. Ia mengungkapkan dua hal yang menjadi tantangan besar bangsa kita dalam mengembangkan IoT. Pertama, manufaktur Printed Circuit Board (PCB) di Indonesia dinilai masih sulit diakses para maker IoT.

Sebagai nakhoda startup yang menggeluti pembuatan hardware berbasis IoT dan penggagas komunitas maker IoT, Andri tahu betul bagaimana ekosistem ini berkembang. Perlu diketahui, dalam merakit hardware, ujarnya, proses desain selalu dimulai dari purwarupa (prototype).

PCB menjadi elemen penting dari proses prototyping tersebut. Nah, yang menjadi kerikil selama ini adalah mahalnya biaya pengembangan karena manufaktur PCB di Indonesia belum mau memproduksi sesuai dengan skala kebutuhan maker IoT di Indonesia.

“Manufaktur di sini tidak bisa produksi massal di bawah 100 ribu. Jadi, (kebutuhan kita) 1.000-2.000 terbilang kecil bagi mereka. Manufaktur itu bahkan kaget dengan jumlah yang kami minta, karena terbiasa dengan jumlah pesanan berskala besar hingga satu juta unit,” tutur Andri

Di DycodeX, komponen mentah PCB masih diimpor sepenuhnya dari Tiongkok, sementara desain perakitan PCB dilakukan sendiri. Harga jual PCB ini bisa berkisar Rp600 ribu hingga Rp1 juta. Bagi maker yang berasal dari kalangan anak sekolah dan mahasiswa, harga tersebut sangat tidak bersahabat.

Tantangan selanjutnya adalah adanya gap pada saat prototyping. Gap yang dimaksud adalah kemampuan maker dalam mengoptimalkan perangkat dengan mengubah ukuran purwarupa sesuai dengan standar yang dibutuhkan.

“Mengubah purwarupa ke produk jadi tak harus soal mengubah ukuran besar ke kecil. Ini masalah experience, function, dan cost. Kalau diperkecil purwarupanya, untuk sektor industri, ini menjadi tidak ergonomis. Gap ini yang sebetulnya dialami para maker,” jelas Andri.

Relevansi use case berperan besar dalam penciptaan pasar

CEO eFishery Gibran Huzaifah menilai produk IoT yang diciptakan para maker di Indonesia terlalu berkiblat pada industri IoT di dunia. Maksudnya, use case produk yang digarap terkadang tidak relevan dengan pasar Indonesia yang memiliki kebutuhan berbeda.

Gibran berujar ada perbedaan cara pandang masyarakat dalam melihat konsep smart home. Menurutnya, di luar negeri, orang-orang mulai memikirkan efisiensi energi dan otomasi. Sementara, produk-produk pintar rumahan nyatanya belum diminati di Indonesia.

“Kita terbiasa mengadopsi teknologi dari luar. Di sini maker sering kali kembangin produk smart home atau consumer electronic. Itu yang paling banyak. Padahal sulit cari relevansi smart home untuk pasar Indonesia karena kita sebetulnya belum membutuhkan produk semacam itu,” jelas Gibran.

Jika bicara dari perspektif bisnis, startup yang memproduksi smart home tentu juga akan kalah saing dengan perusahaan elektronik besar, seperti Philips dan Samsung, yang notabene memiliki ekosistem produk yang kuat di pasar Indonesia.

“Adopsi smart home tidak nyambung di sini. Market-nya juga tidak ketemu, perusahaan teknologi raksasa seperti Apple dan Google bahkan menciptakan produk semacam ini,” tambahnya.

Beberapa tantangan di atas hanyalah sebagian kecil dari sekelumit situasi ekosistem IoT di Indonesia jika mengacu pada data Kementerian Komunikasi dan Informatika. Ekosistem IoT mencakup ragam hal yang luas, tak hanya terbatas pada perangkat, sumber daya manusia (SDM), dan masalah non-teknis lainnya.

Mengutip data Kementerian Komunikasi dan Informatika, ekosistem IoT Indonesia terhambat oleh minimnya kemampuan pemasaran sehingga banyak startup yang tak sanggup bertahan. Belum lagi terbatasnya pemodal dan biaya pengembangan perangkat karena harga komponen dalam negeri dan pajak impor modul riset mahal.

Venture capital kita mayoritas tertarik dengan produk consumer atau software-oriented, karena produk hardware berisiko besar, padat investasi, ada inventori dan aset yang harus dibuat. Model (bisnis) ini sesuatu yang belum familiar bagi venture capital di Indonesia,” tambah Gibran.

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia

Product
Product Lead: Wiku Baskoro
Design: Rizky Beny
Tech: Bagus Rinaldhi

Artikel Terkait:


SHARE: