Mengoptimalkan Potensi
Perangkat iot di segmen b2b

Monetisasi bisnis IoT di segmen lebih jelas sehingga peluang adopsinya bisa lebih luas

Tren Internet of Things (IoT) sudah menggema di Indonesia sejak beberapa tahun lalu.

Akan tetapi bagi mereka, teknologi ini belum terlalu memberikan relevansi dan pengaruh kuat dalam kehidupan sehari-harinya.

Tengok saja, kehidupan masyarakat urban belum banyak mengadopsi sistem otomatisasi rumah (home automation), di mana pemiliknya dapat mengendalikan berbagai perangkat di dalamnya (pintu, kulkas, lampu) lewat aplikasi.

Berbeda dengan negara-negara luar yang mulai mengadopsi IoT untuk kebutuhan hidup mereka. Misalnya, masyarakat di Eropa atau Amerika yang mengadopsi konsep smart living dengan perangkat smart lock dan smart lamp di rumahnya.

Pemerintah sendiri sebetulnya mendorong adopsi secara lebih luas, terutama di segmen consumer. Hal ini demikian karena pelaku bisnis IoT di Indonesia kebanyakan melirik segmen Business-to-Business (B2B) karena berkaitan erat dengan pertumbuhan bisnis dan organisasi.

Padahal IoT digadang-gadang sebagai salah satu terobosan mutakhir yang akan mengubah cara hidup manusia di masa depan. IoT juga dikatakan sebagai pondasi produk teknologi canggih lainnya, seperti kecerdasan buatan dan robotik.

Bagi Ketua Indonesia IoT Forum, Teguh Prasetya, segmen B2B jelas lebih dilirik di industri karena segmen ini punya model bisnis lebih visible dan pasarnya jelas. Dapat dikatakan, adopsi IoT di kalangan consumer belum semasif B2B.

“Tren teknologi di luar negeri, bisa tren juga di Indonesia. Berbeda dengan IoT yang investasi hardware-nya lebih tinggi. Kita sulit kasih competitive price yang lebih oke karena produknya kurang relevan.“

CEO eFishery Gibran Huzaifah

Adopsi IoT di lingkup B2B dianggap lebih menjanjikan karena pelaku bisnis dapat menawarkan solusi IoT beragam, tak terbatas pada perangkat saja, bisa platform, network, dan aplikasi.

Approach bisnis consumer dan B2B memang berbeda. Monetisasi B2B bisa berdasarkan per usage atau device misalnya. Banyak sekali kombinasinya. Kalau consumer, kita tidak tahu apakah data yang diambil itu dijual ke pihak ketiga karena produk consumer biasanya berupa perangkat,” ucapnya.

Bicara kue pasar, pasar consumer memang selalu lebih unggul dibanding B2B. Namun, pasar consumer tidak selamanya menguntungkan karena sulit menentukan model bisnis yang sustainable.

Memperkuat hal di atas, CEO eFishery Gibran Huzaifah mengungkap banyak maker di Indonesia mengembangkan produk yang sebetulnya kurang relevan dengan pasar dalam negeri.

Para maker cenderung menciptakan produk di segmen consumer. “Hampir semua startup itu consumer-oriented. Padahal, market size produk IoT untuk B2B sangat besar di Indonesia,” ujarnya.

Ini menjadi tanda bahwa kue bisnis IoT, baik hardware, software, platform, dan aplikasi, di Indonesia masih sangat besar. Pelaku bisnis, maker, atau startup berpeluang untuk mengeruk keuntungan dengan mengembangkan produk B2B.

Di sisi lain kehadiran solusi B2B justru membuka jalan bagi perusahaan untuk melakukan transformasi digital. IoT menjadi salah satu dari sekian teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk mengakselerasi inovasi dan pertumbuhan bisnis di masa depan.

Gartner Trend Insight Report tentang IoT di 2017 menyebutkan adopsi IoT dapat menciptakan sebuah pengalaman konsumen yang baru, termasuk model bisnis, serta meningkatkan efisiensi pada operasional perusahaan.

Di Indonesia, survei Asia IoT Business Platform mencatat sebanyak 91,1 persen perusahaan di Indonesia telah melakukan transformasi digital. Namun, baru sebanyak 8,4 persen pebisnis di Indonesia yang betul-betul merasakan manfaat dari implementasi IoT.

Menurut CEO DycodeX Andri Yadi, banyak sekali solusi berbasis IoT yang sebetulnya dapat diaplikasikan secara B2B, misalnya untuk kawasan industri. Sebuah produk bisa sama, namun target pasar yang berbeda juga akan mengubah bagaimana produk tersebut relevan atau tidak.

“Ini masalah shifting persepsi saja, produk sama tapi kalau sasarannya untuk sektor industri mungkin lebih tepat ketimbang ke pasar consumer,” jelas Andri.

Ia justru meng-embrace para maker untuk melihat peluang di segmen lain, seperti kawasan industri yang membutuhkan manfaat dari perangkat IoT.

“Pasar kita belum terbuka dan teredukasi tentang solusi IoT. Ini menjadi PR besar Indonesia untuk provide solusi. Jangan sampai industri ingin solusi tetapi tidak ada yang layani. Ini yang kita sebut makan kue ramai-ramai, sebisa mungkin pemain lokal harus banyak.”

CEO DycodeX Andri Yadi

Mendorong adopsi Iot lebih masif lewat 5 sektor strategis

Sesuai misinya, pemerintah ingin memastikan bahwa pengembangan ekosistem IoT tersebar secara merata dan terarah. Di tahap awal ini, pemerintah menetapkan lima sektor strategis yang dianggap dapat mendongkrak populasi maker di Tanah Air.

Kelima sektor ini antara lain industri pengolahan, logistik, transportasi, pertambangan dan pertanian, serta kehutanan dan perikanan. Pemerintah akan memberikan insentif di kelima sektor tersebut apabila investasi terjadi. Pengembangan di lima sektor strategis ini termasuk dalam strategi jangka pendek pemerintah untuk periode 2019-2021.

Dengan mendorong pertumbuhan industri IoT dari hulu ke hilir, pemerintah menargetkan Indonesia dapat menguasai 50 persen industri IoT lokal pada 2020. Adopsinya akan didorong tak terbatas di lingkup pemerintah, tetapi juga industri dan UMKM.

Pemerintah juga mendorong lahirnya lebih banyak maker-maker di Indonesia. Jika sesuai target, rencananya pemerintah akan membangun wadah bagi para maker agar dapat melakukan komersialisasi produk purwarupanya melalui jejaring pengembang, investor, dan pengguna akhir.

Laboratorium yang dilengkapi teknologi 2G/3G/LTE/NB-Iot/LoRa beserta perangkat uji coba solusi IoT. Lewat fasilitas, pemerintah mengharapkan adanya kolaborasi dengan stakeholder terkait dalam pembangunannya, mulai dari universitas, perusahaan telekomunikasi, dan komunitas untuk menjalankan beragam aktivitas, seperti pengembangan dan pengujian produk, serta pelatihan dan inkubasi.

“Kami mendukung terjadinya partisipasi aktif oleh stakeholder untuk (pembangunan) Lab IoT ini,” ucap Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kemkominfo Ismail.

Ia menyebutkan fasilitas ini diharapkan dapat diutilisasi untuk berbagai aktivitas, mulai pengembangan use case yang dapat dicontoh untuk beragam kebutuhan, pengujian perangkat IoT, sarana bertemunya produsen dan pengguna, termasuk penciptaan maker dan inovator.

Demi menuju transisi di era maker, pemerintah juga memastikan bahwa kolaborasi menjadi syarat mutlak bagi utilisasi fasilitas lab IoT nantinya. Maka itu, keberhasilan lab IoT akan sangat ditentukan dari rancangan program yang dijalankan.

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia

Product
Product Lead: Wiku Baskoro
Design: Rizky Beny
Tech: Bagus Rinaldhi

Artikel Terkait:


SHARE: