Artboard 1 Artificial Inteligence
Artificial Intelligence / Part 3

Menjadi Enabler Kecerdasan Buatan
di Negeri Sendiri


Meski memiliki misi berbeda, ekosistem AI di Indonesia sama-sama ingin menjadi pemenang di tanah kelahirannya

Bagi mereka yang tidak melek teknologi, rasanya sulit membuat paham apa itu internet, aplikasi chatting, dan media sosial. Apalagi bicara teknologi canggih seperti AI. Pemberian manfaat yang relevan sepertinya jauh lebih menarik untuk membuat sebuah teknologi lebih dipahami dan bernilai.

Nilai-nilai ini, tanpa kita sadari, sebetulnya sudah kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat menonton film atau serial TV di Netflix, atau saat mengotak-atik playlist Spotify. Layanan ini mampu mendeteksi apa yang kita sukai berdasarkan perilaku menonton kita setiap hari.

Pada implementasi sesungguhnya, Tokopedia sudah menggunakan AI untuk pencarian produk. Lewat fitur Image Search, pengguna dapat mencari barang dengan foto. Kemudian, mesin akan mencari produk serupa dari penjual lain. Ke depan, Tokopedia ingin memanfaatkan AI untuk tujuan yang lebih besar, yakni pemerataan ekonomi dengan melebarkan bisnis UKM ke seluruh Indonesia.

Gojek juga demikian. Teknologi AI dimanfaatkan untuk menangkal order-order fiktif yang sering kali terjadi. Gojek bahkan mengklaim order fiktif ini dapat dibasmi sebelum sampai ke konsumen dengan tingkat akurasi hingga 98 persen.

Untuk mendapat nilai yang lebih praktis, banyak sekali use case yang dapat diterapkan. Sebetulnya kita bisa saja berkiblat ke Amerika Serikat, tetapi tidak semua use case menjadi relevan. Beda negara, beda juga permasalahannya.

Raksasa teknologi, seperti Google, Amazon, Apple, dan Microsoft sudah lama mengembangkan AI. Beberapa produk yang mereka ciptakan adalah produk rumahan, seperti Google Home. Ketika dibawa ke mari, produk ini menjadi tidak relevan karena pasarnya tidak sesuai.

Saat ini, chatbot menjadi implementasi sungguhan dari AI yang sering kita temui. Apakah chatbot menjadi use case terbaik untuk menciptakan nilai dan dampak yang luas bagi masyarakat Indonesia?

Artboard 8
buble buble buble buble buble

Aplikasi Chat Menjadi
Entry Penetrasi yang Tepat

Indonesia merupakan salah satu pasar penting di ranah global. Rencana Indonesia menjemput Industri 4.0 menjadi sasaran empuk perusahaan teknologi global dalam menawarkan inovasi terbarunya. Kondisi tersebut melahirkan banyak sekali mimpi dan tujuan anak-anak bangsa untuk menjadi enabler teknologi di negeri

Indonesia punya sejumlah startup berbasis AI sebagai teknologi utama. Menariknya, Natural Language Process (NLP) menjadi cabang AI yang paling banyak dikembangkan, misalnya melalui Kata.ai, Bahasa.ai, dan BJTech. Sementara Nodeflux menjadi satu-satunya startup di Indonesia yang mengembangkan Computer Vision dan Deep Learning.

Salah satu produk pengembangan NLP adalah chatbot. Chatbot umumnya dipakai perusahaan untuk meningkatkan efisiensi waktu, biaya, dan tenaga. Yang menjadi pertanyaan besar, mengapa chatbot menjadi use case yang seringkali kita temui?

Menurut Co-Founder dan CEO Kata.ai Irzan Raditya, chatbot menjadi produk yang tepat untuk penetrasi ke pasar karena masyarakat Indonesia gemar menggunakan aplikasi chatting. Indonesia juga memiliki populasi besar sehingga potensinya pasarnya juga luas.

Hal ini diperkuat survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di tahun 2017 yang menyebutkan layanan pesan instan menjadi aplikasi yang paling sering dikunjungi, mengalahkan media sosial. Survei ini mengungkap masyarakat Indonesia memakai lebih dari satu aplikasi chatting, seperti WhatsApp, Line Messenger, dan Facebook Messenger.

Dari perspektif bisnis, ujar Irzan, chatbot menjadi use case yang menarik karena dapat memberikan peluang besar bagi perusahaan yang berinvestasi besar di media sosial untuk mengutilisasi konsumennya. Selain itu, chatbot dapat menjadi senjata pemasaran baru karena keunggulannya menciptakan interaksi lebih aktif antara perusahaan dan konsumen.

"Banyak sekali perusahaan yang investasi di media sosial dengan interaksi jutaan, tapi tidak bisa diutilisasi, tidak bisa ROI, tidak ada interaksi dua arah, sehingga perusahaan tidak bisa jualan langsung. Maka itu, kami percaya aplikasi chatting menjadi entry yang pas untuk masuk ke pasar Indonesia,” ucap Irzan.

Di contoh kasus Telkomsel, asisten virtual Veronika yang dikembangkan Kata.Ai mampu melayani pelanggan untuk hal-hal yang bersifat transaksional, seperti membeli pulsa. Veronika disebut telah membantu utilisasi pelanggannya di media sosial hingga 799 persen. Veronika juga dapat membalas 90 persen pesan sehingga mengurangi jumlah pesan yang harus dibalas customer service.

Artificial Inteligence

SERBA-SERBI ADOPSI CHATBOT

Sejumlah perusahaan di Indonesia sudah mulai mengandalkan chatbot sebagai salah satu alat pemasaran serta upaya untuk meningkatkan customer experience dan engagement.

Di sisi lain, lanjutnya, chatbot juga membuka kesempatan bagi startup-startup lain untuk menjadi enabler NLP di negeri sendiri. Irzan mengakui perusahaan global seperti IBM, Facebook, dan Google sudah lama mengembangkan AI. Meskipun demikian, mereka tidak masuk ke NLP karena tidak punya kompetensi lokal terhadap percakapan di Indonesia.

Sementara, menurut CEO BJTech Diatce G. Harahap, chatbot memberikan customer engagement lebih baik di sektor e-commerce. Ia menyebutkan saat ini 50 persen transaksi e-commerce di Indonesia masih terjadi melalui aplikasi chatting. Chatbot dinilai dapat memberikan personal touch kepada konsumen.

"Saat berbelanja, pembeli di Indonesia cenderung ingin pesannya cepat dibalas, bisa dikirim hari ini tidak. Kalau tidak dibalas, mereka pindah ke lapak lain. Ini menjadi peluang bagi kami. Siapapun yang bisa utilisasi messenger bakal jadi pemenang,” tutur pria yang karib disapa Ache ini.

Chatbot juga dinilai dapat memberdayakan 59 juta UKM untuk di Indonesia yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Saat ini, baru sebanyak 3,8 juta UKM Indonesia sudah go-online, dan diharapkan tahun ini dapat mencapai 8 juta UKM.

building

Kecerdasan Buatan Memperbaiki Sistem Keamanan Negara dan Tata Perkotaan

Chatbot bukanlah satu-satunya use case untuk membuat produk AI menjadi lebih relevan dan mudah diterima. Teknologi Computer Vision dan Deep Learning memiliki sejumlah use case yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan negara.

Di Indonesia, belum banyak startup yang melirik kedua cabang ilmu tersebut karena area pengembangannya lebih rumit. Saat ini, Nodeflux menjadi satu-satunya startup yang mengembangkan Computer Vision dan Deep Learning lewat Intelligent Video Analytics (IVA) di Indonesia.

Pada salah satu real case, Nodeflux mengimplementasikan sistem keamanan dan pertahanan untuk Kepolisian Republik Indonesia, yang mencakup Face Recognition, License Plate Recognition (LPR), Crowd and Behavior Analytics, dan Time Compression Analysis.

Teknologi ini menjadi bernilai karena dapat memberikan bantuan signifikan terhadap sistem keamanan nasional. Kepolisian juga dapat merespon dengan cepat dan tanggap pada kasus terorisme, kriminal, dan pelanggaran lalu lintas. Sebagai contoh, IVA mampu mengidentifikasi pelaku kriminal dan teroris.

Selain sistem keamanan, IVA juga dapat diterapkan untuk menyelesaikan masalah perkotaan. Jakarta menjadi salah satu contoh kota yang tepat untuk menyelesaikan beragam permasalahan dengan IVA, misalnya banjir, kemacetan, hingga kerusakan jalan.

GAME CHANGER LEWAT ANALITIK VIDEO

Meski belum sepopuler chatbot dan kawan-kawannya, kemampuan Intelligent Video Analytics (IVA) telah menarik banyak perhatian tentang bagaimana sebuah analitik video dapat menjadi game changer di masa depan.

Previous Next

Pada real case selanjutnya, Nodeflux berkolaborasi dengan Jakarta Smart City untuk menerapkan sejumlah solusi, mulai dari traffic analytic hingga pengukuran tinggi air. Pihaknya juga tengah melakukan pilot untuk License Plat Recognition (LPR) di beberapa ruas jalan di Jakarta untuk mendeteksi pengendara yang telat bayar pajak.

"Secara area, [IVA] bisa dipersepsikan sulit. Harapannya kalau kami berhasil [mengembangkannya], kami dapat mendorong ekosistem [Computer Vision dan Deep Learning]. Kami ingin menjadi katalis kemajuan teknologi di Indonesia," ungkap Meidy kepada DailySocial.

building

Pelokalan Vertikal Bisnis

Jadi Kunci Adopsi

yang Lebih Masif

AI saat ini belum menjadi bisnis yang sudah menghasilkan keuntungan di Indonesia karena adopsinya masih sangat baru. Jika diamati, startup di bidang AI rata-rata baru mengantongi pendanaan di tahap seed, kecuali Kata.ai yang saat ini sudah masuk ke pendanaan seri A. Belum banyak pula venture capital (VC) yang berinvestasi pada startup AI di Indonesia.

Artificial Inteligence

PARA ENABLER AI ASLI INDONESIA

Kecerdasan buatan masih dianggap sebagai teknologi mahal dan belum relevan untuk pasar Indonesia. Akan tetapi, banyak anak bangsa yang telah mengembangkan teknologi ini untuk memberikan dampak besar terhadap sosial, bisnis, dan ekonomi.

Hal ini berbeda dengan startup mancanegara yang sudah berstatus unicorn. Data CB Insights mencatat startup asal Hong Kong SenseTime yang bergerak di bidang Computer Vision, memiliki valuasi sebesar $4,5 miliar. Kemudian, Tanium asal Amerika Serikat yang mengembangkan sistem keamanan siber, menjadi startup AI bernilai tinggi dengan valuasi $6,5 miliar.

Sebagai VC yang belum masuk ke portfolio ini, Venturra Discovery melihat AI sebagai salah satu bisnis potensial di masa mendatang. Menurut Partner Venturra Discovery Raditya Pramana, adopsi AI di Indonesia masih terbilang "bayi" di mana implementasinya terbatas pada chatbot, video analytic, dan social commerce.

Ia berujar saat ini pihaknya masih menanti adopsi AI lebih matang untuk melihat lebih banyak use case yang aplikatif, terutama untuk sektor industri berskala besar di Indonesia. Dengan begitu, ketika AI telah menjadi komoditas, adopsi di pasar akan naik dengan sendirinya.

"Ketimbang berinvestasi pada bisnis yang sudah ada di pasar, kami lebih memilih [untuk berinvestasi] pada use case yang lebih inovatif. Utilisasi AI seharusnya menjadi sesuatu yang menyeluruh ke perusahaan, bukan sekadar tambah fitur saja," papar Raditya.

Sementara itu, CEO MDI Ventures Nicko Widjaja menilai adopsi AI akan lebih matang apabila teknologi ini diimplementasikan di berbagai vertikal bisnis digital yang besar. Contohnya, sektor e-commerce yang menjadi lokomotif industri digital Indonesia.

Sektor lain yang berpeluang menciptakan adopsi yang masif di Indonesia adalah fintech dan new retail. Kedua sektor ini diprediksi menjadi lokomotif industri digital selanjutnya setelah e-commerce. Dengan keuntungan basis pengguna yang besar, sektor-sektor tersebut dapat menciptakan use case yang bernilai.

"Sebenarnya yang kita lakukan mirip dengan Tiongkok, everything based on transaction and commerce . Makanya untuk Indonesia, sektor yang besar itu e-commerce, kemudian fintech. Selanjutnya adalah new retail. Use case tidak harus relevan, tetapi lihat ke mana inovasinya berjalan," paparnya.

Dari sisi bisnis, Nicko menilai bahwa saat ini belum ada perusahaan AI di Indonesia yang telah mendapat traction dan menghasilkan keuntungan. Menurutnya, butuh waktu 3-5 tahun lagi di Indonesia untuk betul-betul mengimplementasi use case sungguhan, bukan sekadar prototyping.

Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Willson Cuaca menilai dari perspektif berbeda. Kearifan lokal (local wisdom) menjadi kunci untuk membuat bisnis AI menjadi relevan dan berbeda dari startup-startup di luar. Elemen ini juga penting untuk memenangkan pasar Indonesia.

Ditambah lagi, adopsi digital di Indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia pada periode 2012-2017 dan akan semakin banyak data point yang bisa diproses oleh AI. Ini menjadi peluang besar bagi startup AI untuk terus berkembang.

"Kami melihat AI sangat penting dan akan menjadi lebih penting. AI akan tumbuh baik di tempat yang adopsi digitalnya tinggi, karena butuh machine learning dan proses proses big data yang berkesinambungan," ungkapnya.

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia

Product
Product Lead: Gisella Soselisa
Design: Rizky Beny
Tech: Prasetyama Hidayat, Yoga Nugraha, Ray Azrin Karim, Yafonia


SHARE: