TAHUN INI JADI AWAL
"PILOT PROJECT" BLOCKCHAIN

Indonesia diprediksi memasuki tahap awal implementasi blockchain

IDC memaparkan prediksi menarik tentang adopsi blockchain di dunia. Dalam risetnya, sebagaimana dikutip dari Enterprisers Project, tahun 2018 akan menjadi tahun yang sangat krusial. Perusahaan di dunia akan membuat batu loncatan besar dengan bergeser dari fase proof of concept (POC) ke fase implementasi secara penuh. Dalam prediksinya, belanja untuk solusi blockchain di dunia mencapai $2,1 miliar tahun ini.

Prediksi di atas cukup relevan dengan situasi di Indonesia. Berdasarkan pengamatan GM Banking and Financial Markets IBM Indonesia Inge Halim, masyarakat Indonesia telah melalui fase “melihat-lihat” atau bereksperimen dengan teknologi blockchain sejak tahun lalu. Tahun ini perusahaan di Indonesia diprediksi sudah mulai "piloting" atau menuju tahapan implementasi.

Menurutnya, fase ini dapat terlewati mengingat sektor pemerintahan hingga petinggi negara sudah mulai sadar dengan keberadaan blockchain dan manfaatnya. “[Presiden] Jokowi sudah mulai ngomong blockchain, begitu juga [Menkeu] Sri Mulyani yang meminta untuk cari tahu lebih dalam soal blockchain. Kita saat ini sedang cari use case-nya di Indonesia,” ungkap Inge.

Perusahaan-perusahaan di Indonesia sebetulnya sudah mulai menyadari manfaat dari implementasi blockchain. Sejumlah asosiasi, komunitas, dan penyedia solusi blockchain agresif mengadakan program workshop dan training untuk mempertajam pemahaman publik tentang blockchain. Namun, masih butuh waktu untuk mulai benar-benar mengadopsi teknologi ini.

Selain itu, layanan alternatif solusi perpajakan online, yakni OnlinePajak baru saja mengimplementasikan blockchain pada sistem pembayarannya. Dengan dukungan blockchain, pihak-pihak yang terlibat pajak akan memiliki catatan dari setiap transaksi pembayaran pajak dan dapat saling mengecek keberlangsungan pembayaran pajak.

Pihak-pihak yang terlibat dalam rantai sistem ini antara lain Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Direktorat Jenderal Pembendaharaan (DJPb), Bank Indonesia (BI), bank persepsi, dan pihak ketiga lainnya.

Dari sumber yang kami himpun, sejumlah sektor sudah mulai melakukan pilot project dengan mengembangkan solusi berbasis blockchain untuk mendorong pertumbuhan bisnisnya. Beberapa di antaranya berasal dari sektor kesehatan (healthcare), supply chain, pemerintah, dan e-commerce.

Pihak-pihak yang terlibat dalam rantai sistem ini antara lain Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Direktorat Jenderal Pembendaharaan (DJPb), Bank Indonesia (BI), bank persepsi, dan pihak ketiga lainnya.

STUDI KASUS YANG DAPAT DISELESAIKAN
DENGAN BLOCKCHAIN

Salah satu alasan implementasi blockchain masih terbatas di Indonesia adalah sulitnya menentukan use case yang memiliki nilai tambah (value added) sesuai kebutuhan bisnis. Hal ini perlu dibarengi dengan sumber daya manusia (SDM) yang memadai dan paham dengan implementasinya.

IBM sendiri telah mematenkan sebanyak 400 use case atau proof of concept (POC). Masih banyak jenis use case yang dapat digali selagi teknologi blockchain masih dalam fase early adoption. Selain itu, jenis use case akan dapat diterumakan seiring dengan meningkatkanya skala bisnis dan kompleksitas masalah yang dialami oleh pelaku usaha.

Berikut ini, beberapa contoh use case yang bakal merevolusi cara kita mengakses sebuah informasi, bertransaksi, dan melakukan pertukaran data:

IDENTITAS
DIGITAL

Inge mengungkapkan bahwa memiliki identitas penduduk berbasis digital dengan menggunakan teknologi blockchain merupakan salah satu mimpi IBM di Indonesia.

Blockchain diharapkan dapat menyelesaikan berbagai macam masalah terkait data kependudukan di Indonesia. Blockchain memungkinkan setiap warga untuk memiliki dan mengakses identitas pribadi berbasis digital melalui aplikasi.

Data pribadi masyarakat yang tersimpan secara terdesentralisasi memungkinkan mereka untuk dapat mengakses informasi, rekam medis (medical record), hingga boarding check tanpa meminta bantuan pihak ketiga. Dengan demikian, warga dapat memutuskan kapan mereka akan mengubah atau membagikan informasi tersebut.

INVENTORY
MANAGEMENT

Supply chain merupakan sektor yang kompleks dan memiliki rantai proses panjang karena melibatkan banyak pihak. Dalam kaitannya dengan inventory management, perusahaan dapat menekan potensi persediaan mengendap. Pasalnya, semakin banyak persediaan mengendap, semakin banyak pula uang atau aset bisnis yang mengendap. Hal ini akan mengurangi nilai kualitas dari sebuah barang yang akan diproduksi.

Di mana letak nilai tambah blockchain dalam hal ini? Blockchain dapat mengolaborasikan sejumlah pihak yang terlibat dalam satu sistem jaringan komputer terdesentralisasi. Masing-masing pihak dapat mengirimkan informasi dan mengetahui status stok persediaan, jumlah barang yang sedang dan sudah diproduksi, hingga barang tersebut dikirim.

Selain menekan biaya, pihak-pihak terlibat dapat meningkatkan efisiensi waktu tanpa harus menunggu lama untuk mengetahui sudah sampai mana proses sebuah barang diproduksi hingga dikirimkan. Apabila terjadi suatu masalah, seperti penundaan produksi, pihak terkait dapat langsung memberikan notifikasi langsung ke bagian pengiriman atau distribusi barang.

PEMBAYARAN
LINTAS NEGARA

JUAL-BELITANAH

Jasa keuangan (financial services) merupakan sektor bisnis yang digadang-gadang paling merasakan manfaat dari adopsi blockchain. Teknologi ini memampukan transaksi terverifikasi dan tervalidasi tanpa bantuan pihak ketiga.

Salah satu contoh layanan yang akan menikmati keuntungan blockchain adalah pembayaran lintas negara (cross border payment). Dalam literaturnya, Director of Sales GroundBreaker Ron Sulkin menyebutkan bahwa blockchain dapat mensimplifikasi, mempercepat, dan mengurangi biaya sangat signifikan pada transaksi antarnegara.

Sebagai contoh, umumnya apabila seseorang ingin mengirimkan uang dari Kanada ke relasinya di Rusia, transaksi ini harus melalui proses verifikasi oleh banyak bank sebelum uang tersebut sampai di rekeningnya.

Nah, blockchain dapat memangkas proses tersebut karena transaksi yang terjadi akan tercatat dan terdistribusi secara merata. Setiap bank akan memiliki replika data transaksi. Menurut riset Deloitte, blockchain dapat mengurangi biaya 2-3 persen dari total uang yang dikirimkan ke lintas negara.

Saat ini proses pendaftaran tanah maupun jual-belinya di Indonesia masih terbilang rumit. Selain database kepemilikan tanah belum semua terdigitalisasi, banyak faktor eksternal yang menjadi penghambatnya. Misalnya, konflik dengan pemilik sebelumnya atau masalah pembebasan lahan.

Apabila database kepemilikan tanah seluruhnya telah berbasis digital dan menggunakan blockchain, siapapun dapat lebih mudah untuk melakukan pendaftaran tanah termasuk menjual dan membeli properti. Selain mencatat dan membagikan data transaksi ke seluruh sistem komputer, blockchain dapat melacak data hingga serinci apapun.

Masyarakat dapat mengetahui masalah yang menghambat pendaftaran atau jual-beli tanah, mulai dari pemilik terdahulu, pengecekan pajak properti, hingga birokrasi dokumen yang memakan waktu.

TRANSAKSI E-COMMERCE

Chief Scientist Cyber Miles, Michael Yuan pernah menyebutkan blockchain sangat potensial untuk sektor e-commerce. Adopsinya akan menghasilkan keamanan yang lebih baik dan kolaborasi lebih mudah dengan sistem yang terdesentralisasi. Hal ini akan membuat cyber attacker kesulitan untuk melumpuhkan sistemnya.

Dalam implementasinya, blockchain dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan transaksi yang lebih cepat dan transparan. Bayangkan, sistem berbasis blockchain dapat merekam segala jejak transaksi pelanggan, rincian order, hingga proses pengiriman.

Kemanapun dan berapa kali sebuah produk dibeli dan dikirimkan, seluruh data tersebut akan tercatat dan tersimpan dalam jaringan blockchain. Dengan demikian, blockchain akan mengeleminasi potensi penipuan dan meningkatkan transparansi baik kepada konsumen maupun merchant.

SISTEM PEMUNGUTAN SUARA

Blockchain dapat mengurangi potensi kecurangan yang terjadi pada saat pemilihan umum (pemilu). Mereka yang tidak memilih atau golput biasanya menjadi target kecurangan oleh oknum tertentu demi memenangkan kandidatnya.

Suara-suara kosong tersebut berpotensi untuk disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Blockchain dapat memastikan bahwa setiap warga mendapat hak secara sah dan legal untuk voting sesuai dengan identitasnya.

Tentu, manfaatnya akan lebih terasa apabila sebagian besar prosesnya telah terdigitalisasi. Terutama dalam hal integrasi dengan data kependudukan masyarakat.

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia

Product
Product Lead: Wiku Baskoro
Design: Rizky Beny
Tech: Bagus Rinaldhi

Artikel Terkait:


SHARE: