RAGAM KOMPLEKSITAS

INDUSTRI ESPORTS

DI INDONESIA




PRESS START TO BEGIN

Ekosistem dan asosiasi belum harmonis dalam mendorong industri ke arah yang lebih baik


Meskipun memiliki potensi yang begitu besar, ekosistem esports yang baru berdiri di Indonesia masih mencari titik keseimbangannya. Ada ketidakpuasan di sana-sini yang mengharapkan peran aktif asosiasi untuk mendorong industri ke arah yang lebih baik.

Salah satu hal yang mendesak adalah standarisasi agar pemain esports memiliki kekuatan di mata hukum. Pemain menjadi elemen utama dalam dunia esports. Standarisasi ini bisa mencakup kontrak, gaji pemain, dan sponsor. Ini yang membedakan antara gamer casual dan gamer profesional.

Saat ini memang belum ada standar gaji yang paten, dan umumnya setiap organisasi esports punya perhitungan sendiri tentang ini. Dari informasi yang kami himpun, skill atau kemampuan bukan satu-satunya indikator yang menentukan besaran gaji pemain.

Penggagas Indonesia Esports Premiere League (IESPL) Rangga Danu P. mencontohkan standar gaji CS: GO bisa rendah karena kini sulit untuk mencari pemainnya. Turnamen CS: GO juga tidak sebanyak turnamen Mobile Legends yang saat ini sedang naik daun.

“CS: GO, meski sudah lama, standar gajinya rendah karena mencari pemain susah. Memang gaji pemain tergantung skill, tetapi sebagai contoh, gaji Mobile Legends lebih besar karena event lebih banyak. Setiap minggu ada turnamen. Game mobile memang lagi populer,” ungkapnya.

“Wajar turnamen jarang karena dedengkot pemain esports ada di CS: GO, mereka sudah berjuang mati-matian sejak dulu. Tidak ada yang tahu mereka membawa nama Indonesia. Kami mau semua pelaku industri tidak memikirkan bisnis untuk [game] yang terkenal saja,” tambah Rangga.

Bahasannya berikutnya adalah kontrak pemain. Meski terdengar seperti profesi “senang-senang”, pada kenyataannya kontrak kerja tetap berlaku di dunia esports. Tanpa kontrak sebagai surat perjanjian resmi, pemain bisa mendapat ketidakjelasan perihal gaji, pembagian uang hadiah, sponsorship, fasilitas yang diterima, hingga jam kerja. Bottom line-nya adalah esports tetap diikat dengan profesionalisme.

Salah satu kasus kontroversial yang pernah terjadi perihal kontrak adalah saat CEO Speed Gaming Marco A Fernandez menunjukkan kontrak para pemain di laman resmi Facebook Speed Gaming. Saat itu, Fernandez berkilah karena tujuan transparansi. Kontrak ini dipamerkan ke publik tanpa diskusi atau seizin para pemain.

Menurut Glen Richard Pangalila, pemain profesional di tim DG Esports, ia mendambakan esports punya memiliki standarisasi pola latihan yang jelas. "Sebetulnya, yang kami butuhkan [di ekosistem esports] adalah pelatih dan pola latihan. Beda feel-nya ketika ada pelatih. Di Asian Games, ada hal-hal yang selama ini kita keliru pemahamannya, seperti peraturan dasar game, timing, dan skill," ujar Glen yang juga memimpin timnas AoV Indonesia di Asian Games 2018.

Hal lain yang tak luput dari perhatian adalah perihal transfer pemain. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah saat EVOS melakukan poaching dengan pemain tim GGWP yang masih terikat kontrak ASL. Poaching adalah tindakan mendekati pemain lain saat pemain tersebut masih di bawah kontrak tim lain.

“Sebetulnya tidak boleh poaching tanpa ngomong dulu ke manajemennya. Karena kemarin kondisinya adalah teman, makanya kami ajak ngobrol. Dalam kontrak memang tidak boleh. Ini memang salah dari EVOS, tapi sudah diselesaikan,” ungkap Yansen Wijaya, Brand Manager EVOS Esports.

Tak kalah penting, sponsor masih menjadi sandungan bagi industri esports untuk berkembang. Tanpa sponsor, sebuah turnamen tidak akan berjalan. Sponsor juga membutuhkan medium untuk memperkenalkan dan memasarkan produknya.

Sejak awal masuk ke Indonesia, tim esports maupun organizer turnamen telah mengalami jatuh bangun dalam mencari sponsor. Ketidaktahuan masyarakat terhadap esports menjadi tantangan terbesar dalam membentuk ekosistemnya di Indonesia.

COO Mineski Indonesia Nadya Sulastri bercerita tentang bagaimana kelima founder Mineski, saat masih menjadi pemain, profesional dicurangi organizer saat bertanding di turnamen internasional. Dengan kejadian ini, Mineski akhirnya membangun standar tinggi dalam membangun bisnis EO di Indonesia. Malah menurut Nadya, semenjak Mineski masuk ke Indonesia, pemain mulai berani untuk bersuara apabila ada masalah terjadi.

"Sebelum Mineski masuk ke Indonesia, [tim esports] tidak semua ke-entertain. Setelah kami masuk, standarisasinya meningkat, kami kasih standar bagus untuk semua pemain dan kami penuhi KPI sebaik-baiknya. Begitu juga penonton. Kami masuk bisnis ini bukan mandatory, kami perhatikan tiga elemen, yaitu viewer, player, dan sponsor," jelasnya.

Semakin banyak EO semakin bagus karena membuat ecosystem cost terjaga. Player bisa menghasilkan lebih banyak, sponsor juga mau investasi. EO yang ada sekarang sudah level up, berbeda dengan 2-3 tahun lalu. Bisa dibilang setelah Mineski masuk, standarisasi naik. Ini meningkatkan kualitas esports.

AGUSTIAN HWANG
CEO MINESKI INDONESIA

CEO Mineski Indonesia Agustian Hwang menambahkan brand non-endemik mulai terbuka untuk menjadi sponsor berkat tren Mobile Legends. "Dulu pertama kali mulai di 2017, kami cuma bisa mengharapkan sponsor endemik dari produk IT dan gaming gear, karena non-endemik belum tahu esports seperti ini. Sekarang sudah terbuka karena mereka lihat esports bisa menarik pasar lebih luas."

Pemerhati esports Yabes Elia menilai sponsor non-endemik atau sponsor perusahaan non-endemik masih sulit untuk mengucurkan investasi. Padahal sponsor non-endemik memberikan sirkulasi pendanaan lebih banyak ketimbang sponsor endemik.

"Ekosistem kita belum bisa meyakinkan sponsor non-endemik karena esports masih dipandang sebelah mata. Makanya, mereka juga belum mau jor-joran investasi," tuturnya.

Kini sejumlah perusahaan raksasa di Indonesia sudah mulai berinvestasi, seperti Telkomsel dan Indofood. Bahkan juga startup unicorn, seperti Go-Jek, Tokopedia, dan Traveloka. Salah satunya Tokopedia menjadi sponsor Tokopedia Battle of Friday untuk IESPL.

BERBURU KUE BISNIS
ESPORTS DI INDONESIA


Startup unicorn, operator telekomunikasi, hingga perusahaan konglomerat berbondong-bondong menjadi sponsor esports di Indonesia



TRAVELOKA


Belum seagresif unicorn lainnya, tetapi menjadi sponsor tim esports EVOS



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

GOJEK


Menjadi sponsor tim EVOS akhir 2016
Divisi Go Live menjadi sponsor Indonesia Game Xperience (IGX) bersama Metrodata
Membuat payment gateway Go Pay Arena untuk Mobile Legends: Bang Bang



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

TOKOPEDIA


Tokopedia Garuda Cup menjadi hajatan esports nasional pertama
Bersama IESPL menggelar Tokopedia Battle of Friday
Sponsor tim esports besar, yakni EVOS dan RRQ



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

TELKOMSEL


Memiliki divisi game sendiri, yakni media online Dunia Games
Memiliki tim DG Esports sejak akhir 2017
Menggelar Indonesia Games Championship (IGC) yang kini menjadi turnamen tahunan



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

XL


Sponsor tim esports tertua di Indonesia, TEAMnxl>
Bersama Garena memasukkan turnamen AoV ke dalam festival musik dan game pertama di Indonesia, yaitu XL Axiata Digifest



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

SMARTFREN


Sponsor ajang World of Gaming (WOG) Goes To Campus



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

Indomie - Salim Group


Sponsor untuk gelaran AEL University Cup 2018 di Australia
Induk usahanya, Salim Group menjadi sponsor Southeast Asia Cyber Arena (SEACA) 2018



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

BCA


Belum seagresif unicorn, BCA mengadakan promo dengan Unipin untuk top up Sakuku di ajang SEACA 2018



(Sumber: DailySocial.id, Liputan6.com, Esports.id)

TAK BERJALAN
BERIRINGAN

IeSPA sebagai asosiasi yang menaungi industri esports di Indonesia memiliki legitimasi kuat karena didukung dua kementerian sekaligus, yakni Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Meski demikian, hal ini tak lantas membuat industri esports Indonesia berkembang pesat.

Berbeda dengan negara-negara lain yang ekosistem olahraganya matang, kondisi esports Indonesia saat ini dianggap masih tertinggal. "Sekarang sudah 2018, kondisinya masih seperti ini. Padahal sudah ada asosiasi, tapi dukungan pemerintah kurang. Ini seperti kondisi esports kita 4-5 tahun lalu, tidak bergerak," tutur Glen.

Klaim pegiat media online sekaligus pemerhati industri game Yus Lianson, asosiasi esports kita tidak memberikan kontribusi atau peran terhadap pertumbuhan esports di Indonesia.

"Esports kita belum sehat. Masih ada dirty business karena hanya memikirkan untung semata. Asosiasi esports kita pun seperti ada dan tiada. Makanya perlu ada regulasi dan badan pengawas," ungkapnya.

Komunitas menuntut adanya regulasi untuk membuat ekosistem esports lebih kuat dan jauh dari potensi persaingan tidak sehat atau kecurangan, terutama yang berkaitan dengan pendidikan serta kesejahteraan pemain yang sebagian besar masih sangat muda.

Sejumlah narasumber yang DailySocial wawancarai sepakat menginginkan perubahan besar terhadap IeSPA, yakni melakukan pembenahan di dalam tubuh asosiasi dan mengganti seluruh pengurus satu-satunya asosiasi esports di Indonesia tersebut.

Menurut mereka, pengurus IeSPA saat ini tidak memiliki visi-misi yang sejalan dengan apa yang diinginkan ekosistem. Ada juga yang menyebut bahwa IeSPA tidak berupaya merangkul siapa saja yang termasuk di dalam ekosistem esports.

Sebagai asosiasi yang bernaung di bawah dua kementerian sekaligus, IeSPA memang memiliki posisi kuat dalam merealisasikan visi misinya. IeSPA kini diketuai oleh Eddy Lim, sosok senior yang mengetahui seluk-beluk pertumbuhan esports sejak awal. IeSPA juga punya divisi beragam dan pengurus yang tersebar di 12 provinsi Indonesia.

Namun ada kesan bahwa ekosistem esports dan IeSPA seolah berjalan sendiri sesuai kepentingan masing-masing. Berdasarkan informasi yang kami kumpulkan, ada sejumlah turnamen esports yang tidak ingin diasosiasikan dengan IeSPA.

"IeSPA biasanya muncul di event-event besar, seperti skala nasional," ungkap sebuah sumber.

Sementara menurut Yansen Wijaya, secara pribadi, asosiasi ini dinilai tidak memiliki peran signifikan terhadap ekosistem. IeSPA juga dianggap hanya muncul di event-event besar yang membawa nama Indonesia. Ia merasa IeSPA tidak memberikan dukungan penuh, terutama dalam hal pengurusan administrasi izin saat ada turnamen di luar negeri.

"Mereka hanya ada di event-event besar dan muncul apabila event itu berhasil. Padahal mereka tidak bantu sama sekali. Yang perlu dibenahi sebetulnya adalah orang di dalam organisasinya. Kenapa organisasi tidak jalan padahal sudah didukung dua kementerian?" ujarnya.

Yansen juga menilai bahwa seharusnya IeSPA bisa lebih berperan aktif dalam meyakinkan pemerintah untuk mengakui keberadaan esports di Indonesia. Namun, hal ini tidak mungkin terjadi selama IeSPA tidak mencoba merangkul semua tim dan siapapun di dalam ekosistem ini.

KLARIFIKASI
IeSPA

Dalam klarifikasinya, Eddy Lim menampik anggapan bahwa IeSPA tidak memiliki peran sama sekali. Ia balik mempertanyakan karena pihaknya merasa banyak pelaku bisnis esports tidak pernah berdialog, bertemu, atau menghubungi mereka.

"Mereka minta macam-macam, dukungan dari pemerintah. Dukungan [dalam bentuk] apa? Kok [merasa] tidak dapat apa-apa? Lah, tim kamu juara tidak? Kalau belum juara, ya jangan minta-minta. Kalau mereka bilang asosiasi ini tidak kelihatan, karena yang mereka minta apa? Soal perizinan kita bantu, kita keluarkan surat, sampai ke Kemenpora. Mereka minta tidak?" tanya Eddy.

Eddy juga merasa IeSPA selalu dikecualikan dalam sejumlah event atau pertandingan esports sehingga memunculkan pemikiran bahwa ekosistem esports tidak menganggap asosiasi ini eksis.

"Mereka bikin event dan tak didukung IeSPA, lalu ada [masalah] tidak dapat visa. Apa pemerintah harus tanya ada yang bisa dibantu? Kalau tidak minta, bagaimana kita bisa bantu? Coba tanya kembali ke mereka, apa pernah bertemu IeSPA? Pernah meminta yang masuk akal? Tidak ada angin atau hujan, tahu-tahu minta keluar negeri mau turnamen," tambahnya.

Menurut Eddy, bukti jelas IeSPA telah memberikan kontribusi adalah Menpora hingga dinas di daerah menjadi tahu tentang olahraga esports, dan esports bahkan masuk menjadi cabang ekshibisi di Asian Games 2018. "Tandanya, kami sudah mengerjakan pekerjaan rumah (PR) kami," akunya.

Esports banyak yang berangkat dari bisnis, makanya banyak sekali organizer turnamen. Yang terjadi [mereka] saling mengejek karena banyak yang anggap IeSPA sebagai saingan, jadi yang beredar itu negatifnya aja. Kami hanya bisa rangkul kalau mereka hubungi kami.





EDDY LIM

Ketua Umum Indonesia eSports Association IeSPA

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia, Yabes Elia

Product
Product Lead: Wiku Baskoro
Design: Rizky Beny
Tech: Bagus Rinaldhi, Prasetyama Hidayat, Yoga Nugraha