Dari E-Commerce Hingga IoT, Operator Telekomunikasi Beradaptasi di Era Digital

Potensi pelanggan baru hanya 40 juta hingga tahun 2020, pencarian sumber pendapatan baru terus dilakukan

Bisnis digital menarik perhatian berbagai macam kalangan, mulai dari individual, startup, hingga perusahaan di berbagai macam sektor, termasuk telekomunikasi. Hal ini tidak mengherankan. Dalam enam tahun terakhir, bisnis digital di Indonesia disebut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto tumbuh dua kali lipat dibanding pertumbuhan ekonomi nasional, yakni 9,98 - 10,7 persen.

Airlangga memproyeksikan pertumbuhan bisnis digital akan mencapai 11 persen di 2019 karena seluruh wilayah Indonesia bakal terhubung internet.

Presiden RI Joko Widodo bahkan mengumandangkan mimpinya untuk menjadikan Indonesia sebagai digital hub terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa tahun mendatang.

Bagi perusahaan telekomunikasi, partisipasi di industri digital tak cuma mengikuti tren, tetapi juga untuk beradaptasi menghadapi perkembangan teknologi saat ini.

Sejumlah operator, sejak beberapa tahun yang lalu, meyakini sektor digital dapat menjadi layanan pendamping bisnis infrastruktur jaringan miliknya. Jenis usaha yang dilakoni bermacam–macam, mulai dari konten, marketplace, hingga uang elektronik dengan skala bisnis yang berbeda-beda.

Awalnya mereka memulainya dengan layanan konten gaya hidup. Pengguna dapat membeli konten value added service (VAS), games, dan aplikasi.

Berikutnya operator telekomunikasi menjajal bisnis digital berskala besar, seperti e-money dan e-commerce. Pertumbuhan kedua sektor ini melesat seiring dengan meningkatnya penetrasi internet di Indonesia.

Raksasa telekomunikasi Telkom membentuk usaha patungan Blanja.com dengan eBay. XL Axiata (XL) dan SK Planet untuk situs belanja Elevenia dan Indosat Ooredoo (Indosat) membentuk situs belanja Cipika.

Selain produk e-commerce, operator telekomunikasi juga memeriahkan industri mobile money dengan mengembangkan uang elektronik. Telkomsel mengembangkan TCash, XL memiliki XL Tunai, Indosat dengan Dompetku (kini PayPro), dan Smartfren dengan Uangku.

Ledakan penggunaan data (big data) juga mendorong operator mengembangkan layanan pendamping lain yang ditujukan untuk segmen di luar pelanggannya, yakni UKM dan enterprise. Contohnya layanan cloud, Internet of Things (IoT), Machine-to-Machine (M2M), dan IT outsource.

Artikel Terkait:

PERTUMBUHAN INDUSTRI TELEKOMUNIKASI MELAMBAT
***

PERTUMBUHAN INDUSTRI TELEKOMUNIKASI MELAMBAT
***

“Dalam beberapa tahun terakhir, sektor telekomunikasi rata-rata tumbuh 10 persen.”

Ridwan Effendi, Pengamat telekomunikasi ITB

Meski diakui hanya sebagai layanan pendamping, tak dapat dimungkiri kehadiran layanan digital dapat menciptakan potensi pendapatan baru. Selain itu, dorongan untuk masuk ke bisnis digital didukung dengan sumber yang memadai, yaitu basis pelanggan dan ketersediaan dana.

Studi terbaru ABI Research pernah menyebutkan operator telekomunikasi harus bertransformasi menjadi digital service provider ketimbang ambil risiko kalah saing dari perusahaan teknologi, seperti Google dan WhatsApp.

Muncullah sejumlah layanan digital yang dikembangkan dan dijalankan operator, baik melalui pengembangan sendiri maupun dalam bentuk kemitraan.

Menurut pengamat telekomunikasi ITB Ridwan Effendi, bisnis digital dapat menjadi peluang untuk menghasilkan lini pendapatan baru di tengah stagnannya pertumbunan industri telekomunikasi.

“Sektor telekomunikasi tumbuh moderat mengingat penetrasi seluler sudah melampaui populasi jiwa di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor telekomunikasi rata-rata tumbuh 10 persen,” ungkapnya kepada DailySocial.

Ketatnya persaingan antar operator, tingginya biaya pembangunan jaringan dan pemeliharaan, hingga semakin murahnya tarif data membuat ruang gerak industri telekomunikasi semakin terhimpit.

Data yang kami himpun menyebutkan bahwa harga kuota data per Gigabyte (GB) di Indonesia hanya sekitar Rp15.000 (atau sekitar $1), termasuk yang paling murah di dunia.

Sebelum pemerintah menetapkan kebijakan registrasi prabayar, kartu perdana pun dijual bebas dengan harga sangat murah. Hal ini memicu banyak pelanggan hanya “aktif” di awal karena mereka mengincar bonus telepon, SMS, dan kuota.

Saat ini layanan suara (voice) dan pesan singkat (SMS) semakin kurang diminati mengingat pengguna kini mulai beralih ke layanan data. Telepon kini bisa menggunakan koneksi internet dan berkomunikasi via teks kebanyakan dilakukan lewat aplikasi pesan singkat.

“Apabila operator hanya mengandalkan bisnis jaringan tanpa diversifikasi usaha, mereka akan sulit untuk bertahan. Menurut data GSMA, potensi pelanggan baru di Indonesia cuma ada 40 juta orang saja selama periode 2017 hingga 2020,” tutur Ridwan.

Sayang, bisnis digital milik perusahaan telekomunikasi terbilang masih melempem. Kontribusinya terhadap pendapatan belum signifikan. Bahkan, seperti yang disebutkan di atas, beberapa sudah melepas bisnisnya dan kembali fokus ke bisnis utama sesuai expertise-nya.

Berbeda dengan Ridwan, menurut analis sekuritas PT Indosurya William Suryawijaya, justru industri telekomunikasi di Indonesia akan tetap tumbuh tanpa perlu memiliki bisnis digital. Ia memprediksi pertumbuhannya mencapai double digit.

“Ada sejumlah faktor mengapa kenaikannya bisa double digit. Tahun ini hingga tahun depan akan ada Pilkada, Pemilu, Asian Games, dan Piala Dunia. Siapa yang akan diuntungkan? Operator telekomunikasi tentunya karena layanan seluler dan data akan banyak digunakan,” jelasnya.

Menurut William, industri telekomunikasi masih bisa bertahan tanpa diversifikasi usaha karena layanan seluler kini telah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Pulsa masih akan tetap dibutuhkan setiap orang. Justru pelaku industri perlu memperhatikan dampak positif jangka panjang registrasi kartu SIM yang berlaku sejak akhir Oktober 2017 lalu.

“Registrasi membuat operator semakin sulit untuk dapat pelanggan baru. Tapi pikirkan dampak jangka panjangnya. Operator justru dapat lebih terproyeksi dengan tepat dalam membuat rencana bisnis karena pelanggannya telah terdaftar dan jelas,” ungkapnya.

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia

Product
Product Lead: Wiku Baskoro
Design: Ahmad Saufani
Tech: Bagus Rinaldhi

Artikel Terkait:


SHARE: