PASANG SURUT BISNIS UANG ELEKTRONIK MILIK OPERATOR SELULER

Sebagian operator memilih mundur perlahan, namun ada juga yang baru memulainya

“Dengan sistem ini kami dapat melayani masyarakat Indonesia secara menyeluruh, tanpa terpaku pada perusahaan penyedia ponsel mereka.”

Danu Wicaksono, CEO TCash

Telkomsel memiliki segudang mimpi bagi TCash di masa depan, yakni menjadi pemimpin uang elektronik sekaligus menjadi one stop solution untuk berbagai layanan di Indonesia.

Masih sulit untuk menggeser dominasi sektor perbankan yang menjadi penerbit e-money terbesar di Indonesia. Saat ini, pasar e-money masih dikuasai BCA dan Mandiri.

Namun Telkomsel tetap menaruh optimismenya pada layanan yang telah hadir sejak tahun 2007 ini. Pihaknya bahkan berencana untuk melayani pengguna yang bukan pelanggan layanan Telkomsel.

"Dengan sistem ini kami dapat melayani masyarakat Indonesia secara menyeluruh, tanpa terpaku pada perusahaan penyedia ponsel mereka. Kami optimistis harapan ini dapat segera terwujud," ungkap Danu Wicaksono, CEO TCash, dalam keterangan tertulisnya kepada DailySocial.

TCash memiliki visi mendongkrak penetrasi inklusi keuangan dari 40 persen menjadi 80 persen di tahun 2018. Telkomsel memiliki banyak pekerjaan rumah untuk mewujudkan mimpinya tersebut.

Sejumlah inisiasi baru TCash adalah menghadirkan ragam inovasi produk dan fitur, misalnya prosedur e-KYC (Know Your Customer) untuk mempermudah pelanggan melakukan upgrade akun secara tepat.

Kemudian penambahan merchant serta memperluas layanan dan kegunaan produk, seperti transportasi publik, parkir, dan donasi digital. Seluruhnya bertujuan untuk mengakuisisi pelanggan baru.

Menurut Danu, pengembangan secara intensif merupakan salah satu dorongan Telkomsel selaku pemilik lisensi TCash.

"Layanan TCash menjadi salah satu fokus bisnis digital Telkomsel," tuturnya.

Baca juga:

Bisnis Digital Merekah, Operator Seluler Menyerah

Selain Telkomsel, Tri rupanya memiliki rencana untuk memiliki dan mengembangkan produk e-money bagi 59,2 juta pelanggannya. Bedanya, inisiasi awal e-money ini adalah membesarkan layanan Bima+ menjadi sebuah marketplace.

Tri membutuhkan sebuah produk pembayaran digital mengingat Bima+ saat ini sebatas creative hub yang menghubungkan antara penjual dan pembeli. Belum ada transaksi tercipta darinya.

Menurut Wakil Presiden Direktur Tri Indonesia, M Danny Buldansyah, pihaknya menginginkan produk pembayaran yang dapat digunakan sehari-hari dan mampu menghasilkan reload lebih besar dari para pengguna.

“Biasanya pembayaran digital dipakai beli pulsa, saldo Go-Pay, hingga bayar tagihan. Tapi itu cuma dipakai sebulan sekali dengan nilai kecil. Kami ingin seperti Go-Pay yang dipakai setiap hari. Kami lagi pikirkan soal ini, tetapi belum jalan karena kami belum punya lisensi e-money,” ungkap Danny.

Dibandingkan ketiga operator lain, Tri memang terbilang cukup terlambat. Baik Telkomsel, XL Axiata (XL), dan Indosat Ooredoo (Indosat) sudah memiliki layanan ini sejak beberapa tahun lalu.

Telkomsel menjadi operator pertama yang merilis produk e-money bernama TCash pada 2007. Kemudian muncul Dompetku dari Indosat di tahun 2009 dan berikutnya XL Tunai di 2013. Sejauh ini perkembangan produk e-money mereka tidak terlalu signifikan.

Telkomsel yang memiliki basis pelanggan paling besar hingga saat ini memiliki 15 juta pengguna TCash aktif. XL baru mengantongi 1,7 juta pengguna XL Tunai, sedangkan lisensi Dompetku dilebur menjadi PayPro dan kini dikelola PT Solusi Pasti Indonesia.

Menurut data Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) yang dirilis Bank Indonesia (BI), pada tahun 2016 tercatat terdapat 51,2 juta kartu e-money beredar. Jumlah tersebut naik menjadi 69,4 juta pada Juli 2017. Di periode tersebut, total transaksinya mencapai Rp 1,14 triliun, dengan volume transaksi sebanyak 68,6 juta transaksi.

Di balik optimisme di atas, sebagian operator justru mulai mundur perlahan pada layanan ini dan mengalihkan fokusnya ke bisnis utama mereka. Indosat memilih melepas bisnis e-money miliknya untuk dilebur menjadi PayPro pada paruh 2017 lalu.

Peleburan Dompetku ke PayPro adalah hasil kerja sama strategis antara Indosat dengan PT Solusi Pasti Indonesia (SPI), namun lisensi masih sepenuhnya dimiliki Indosat.

Menurut perusahaan saat itu, pengembangan PayPro akan tetap dilanjutkan menjadi sebuah produk yang simpel dan mudah digunakan. Seluruh fitur yang ada di Dompetku diintegrasikan ke PayPro.

Tidak jelas apakah keuntungan atau bagi hasil layanan ini masih akan mengalir ke kocek Indosat se- bagai pemegang lisensi.

Yang jelas, anak usaha Ooredoo Group ini mulai mengerem berbagai aktivitas yang menjurus pada pengembangan unit bisnis digital.

Demikian pula dengan XL Tunai. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) XL beberapa waktu lalu, perusahaan menyatakan bahwa inisiasi pengembangan layanan digital tidak akan seagresif tahun-tahun sebelumnya.

Layanan existing seperti XL Tunai, m-ads, dan cloud akan terus berjalan. Hanya saja XL tidak menggelontorkan investasi baru untuk pengembangannya. XL Tunai bahkan tidak masuk dalam rencana strategis perusahaan tahun ini.

Padahal XL awalnya mengalokasikan belanja modal triliunan rupiah untuk membesarkan layanan e-money ini. Pihak XL menyebutkan inisiasi unit bisnis digital akan dikendalikan induk usahanya.

Baca juga:

Dari E-Commerce hingga IoT, Operator Telekomunikasi Beradaptasi di Era Digital

“Tahun ini semua belanja modal akan dialokasikan untuk ekspansi jaringan. Untuk digital tidak ada, itu disinergikan ke induk usaha. Kontribusinya ke pendapatan kecil sekali,” tutur Mohamed Adlen, Chief Financial Officer XL.

“Siklus mobile money sudah lewat karena sudah terlalu banyak pemain. Di pasar fintech payment, itu sudah dikuasai yang besar-besar. Justru sekarang ada harapan di peer-to-peer.”

Alexander Rusli, mantan CEO Indosat

SULIT BERKEMBANG
***

Pasang surut bisnis e-money yang dioperasikan operator seluler mulai terlihat. Menurut mantan CEO Indosat, Alexander Rusli, tren layanan mobile money di Indonesia mulai menurun.

"Siklus mobile money sudah lewat karena sudah terlalu banyak pemain. Di pasar fintech payment, itu sudah dikuasai yang besar-besar. Justru sekarang ada harapan di peer-to-peer," ungkap Alexander.

Selain semakin banyak pemain, operator telekomunikasi juga terbentur masalah regulasi Bank Indonesia yang membuat ruang gerak berkembang semakin sulit.

Menurut Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys, pengembangan e-money milik operator bukanlah isu utamanya. Struktur industrinya dianggap sangat rumit sehingga menghambat operator meningkatkan pertumbuhan layanannya.

Smartfren sudah lama memiliki produk e-money bernama Uangku, namun namanya hampir tak terdengar. Saat ini, pelanggan Uangku tercatat sebanyak 300 ribu dan platform ini baru saja digandeng sebagai dompet elektronik layanan travel terdepan Traveloka.

"Bukannya kami tidak mau mengembangkannya. Perkembangannya emang lambat dan struktur industrinya memang rumit," ujarnya.

Permasalahan pertama adalah lanskap kemitraan dan struktur industri yang sangat rumit. Pemilik lisensi e-money harus memikirkan jalan masuk dan keluar saldo uang di dalam e-money.

“Kita harus pikirkan dari sisi pelanggan, bagaimana uang itu bisa keluar masuk. Jawabannya adalah merchant. Itu juga yang menjadi tantangannya. Apa merchant mau buka rekening lagi?,” kata pria berkumis ini dihubungi via telepon.

Kedua, saldo yang mengendap di e-money tidak boleh digunakan. Menurutnya tak ada untungnya jika e-money hanya digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan dan mengedarkan uang semata.

“Operator yang bikin e-money tidak bisa berdiri sendiri. Mereka harus kerja sama dengan lembaga keuangan seperti bank. Nah, sekarang kami harus bersaing lagi dengan perbankan dan pemilik e-money lain. Ini seperti persaingan multidimensi. Jadi, ini bukan masalah operator A dan B punya e-money,” paparnya.

Editorial
Editor: Amir Karimuddin
Senior Writer: Corry Anestia

Product
Product Lead: Wiku Baskoro
Design: Ahmad Saufani
Tech: Bagus Rinaldhi

Artikel Terkait:


SHARE: