Categories

Interview

Achmad Zaky Berharap Karyawannya Bisa Telurkan Startup Berkualitas

Hesti Pratiwi - 28 November 2014

Pendiri BukaLapak Achmad Zaky sudah menyukai bisnis sejak duduk di bangku sekolah. Saat mengecap pendidikan di sekolah menengah, ia suka berjualan kaus sablon. Bahkan pernah membuka warung mie ayam saat berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kecintaannya kepada dunia entrepreneurship pun makin kuat saat ia memperoleh kesempatan untuk pertukaran pelajar di Oregon State University, Amerika Serikat. Di sana ia melihat bahwa sejak kecil anak-anak sudah punya cita-cita yang beragam dan memiliki jiwa untuk mengembangkan bisnis.

Terjun ke dunia bisnis sejak sekolah

Meski bisnis warung mie ayamnya tidak berkembang dan harus tutup, Zaky mengatakan itu lebih karena bukan di situ passionnya. “Waktu itu di Bandung susah cari mie ayam, karena dari SMA saya sudah suka berbisnis, maka melihat potensi buka usaha langsung dijalankan. Tetapi memang bukan itu passion saya, dan tidak fokus juga.”

Saat kuliah pun Zaky sudah mendirikan Deft Technology, sebuah startup SMS mobile software dan web development untuk perusahaan di Indonesia. Perusahaan ini dengan berat hati harus ditinggalkannya karena saat itu ia dihadapkan kepada pilihan menyelesaikan kuliah atau membesarkan bisnis. Zaky mengakui hal tersebut adalah keputusan sulit yang harus ia ambil. Dengan berat hati ia memilih untuk fokus dan menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.

“Mungkin karena dari awalnya nilai kuliah dan IPKnya sudah bagus jadi sayang kalau ditinggalkan apalagi sampai tidak selesai,” ujarnya sambil tertawa.

Sebelum BukaLapak ia sempat mendirikan SuitMedia yang saat ini masih berjalan meski kini ia tidak lagi terlibat langsung dalam operasionalnya. Zaky mengakui jiwanya ingin membangun sesuatu, jadi ia mendirikan BukaLapak sebagai IT Company. Sebuah bisnis software as service yang dibangun sendiri.

Belajar dari kisah sukses

Kepulangannya dari Amerika Serikat memantapkan keinginannya menjadi pengusaha yang memang sejak dulu. Ia mengaku justru banyak belajar bisnis justru banyak belajar membaca buku. “Saya suka sekali buku biografi, kisah sukses, dan jatuh bangunnya pengusaha,” ujarnya.

Zaky merasa buku-buku seperti itu justru lebih menginspirasi ketimbang buku-buku self help atau pun tips. “Dalam kisah perjalanan seseorang itu, teorinya sudah tebukti dari pengelamannya. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil,” ujar pengagum Jack Ma ini.

Regenerasi talenta

Sebagai engineer ia memang suka membangun sesuatu atau berkarya. Zaky mengatakan, “Tanya saja sama engineer bagus, pasti mereka lebih suka menciptakan sesuatu yang bisa dipakai banyak orang."

Ini yang menjadi alasan kuatnya untuk tetap di BukaLapak, meski banyak meragukan.

“Saat awat awal ingin fundraising untuk mengembangkan BukaLapak ditolak, padahal waktu itu proposal pendanaan yang dibikin hanya minta 100 juta rupiah. Banyak yang meragukan karena sudah ada Kaskus,” ceritanya.

Tetapi ia tetap jalan dengan mimpinya, hingga akhirnya Februari tahun ini membukukan pendanaan $300.000 dari perusahaan e-commerce Jepang Aucfan.

Zaky berkata, “Saya ingin sekali fokus untuk membangun BukaLapak dan ikut membangun ekosistem. Lima tahun dari sekarang harus ada startup-startup baru yang lebih hebat dari yang ada sekarang. Harus ada yang lebih besar. Saya sangat berharap justru founder tersebut dari karyawan BukaLapak.”

Menurut Zaky, karyawannya yang bekerja di BukaLapak sudah memiliki pengetahuan dari menjalankan bisnis internet. “Mereka bisa belajar dari kesalahan yang dilakukan setiap hari, dan suatu hari nanti bisa mendirikan startup (sendiri),” imbuhnya.

Investasi asing sebagai insentif

BukaLapak memiliki bisnis yang serupa dengan Tokopedia. Belakang ini, Tokopedia menguras banyak perhatian dunia startup Indonesia karena berhasil membukukan investasi dengan nilai fantastis.

Zaky berpendapat, “Bagi saya ini berita baik, karena dapat mendorong intensif. Pada akhirnya bisa menjadi intensif yang baik bagi founder untuk membangun usaha.”

Ia melihat ini sebagai sebuah hal yang baik dalam membangun ekosistem, “Pada dasarnya, bukan lagi masalah BukaLapak versus Tokopedia atau OLX, tetapi bagaimana membangun ekosistem digital Indonesia bersama-sama,” ujarnya.

Ia juga berpendapat bahwa seharusnya investasi asing bukan dihalangi, justru dibuat dibuka dengan transparan. “Dari jumlah engineer, kita dengan Filipina saja sudah kalah banyak. Kalau kita belum-belum sudah menutup diri, nantinya akan banyak ketinggalan bukan hanya dari sisi bisnis tetapi juga talenta. Nanti pola pikrnya akan terus ingin bekerja di perusahaan orang, bukan membangun sendiri perusahaan yang besar,” pungkas Zaky.

[Foto: DailySocial]

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter