DJI boleh memimpin pasar drone dengan segala kecanggihan yang ditawarkannya. Namun sejatinya adalah Airdog yang memelopori tren fitur Follow Me yang sekarang ini sudah menjadi standar mayoritas drone. Diperkenalkan via Kickstarter pada tahun 2014, Airdog saat itu merupakan satu dari segelintir drone yang dapat bergerak mengikuti seseorang dengan sendirinya.

Tiga tahun berselang, Helico Aerospace Industries selaku pengembangnya sudah siap dengan sekuel Airdog, yaitu Airdog ADII. Premis yang ditawarkan ADII secara garis besar masih sama: ditujukan buat penggemar olahraga ekstrem, dengan kemampuan bergerak mengikuti secara otomatis tanpa mengandalkan remote control sama sekali.

Airdog ADII

Komponen kunci Airdog sejak versi pertamanya adalah perangkat pendamping bernama AirLeash. AirLeash inilah yang bertugas mengirim data posisi ke drone secara wireless. Tidak seperti computer vision, kombinasi drone dan tracker semacam ini lebih superior dalam hal memantau posisi, terutama saat objeknya sedang tertutupi sesuatu – pepohonan atau ombak misalnya.

Sama seperti versi orisinilnya, AirLeash untuk ADII juga tahan air dan dilengkapi sejumlah tombol untuk mengganti mode maupun mengaktifkan sederet fitur drone. Yang baru dari ADII adalah layar LED milik AirLeash kini dibekali backlight sehingga jauh lebih mudah dilihat di bawah terik matahari.

Airdog ADII

Pengembangnya kini juga percaya diri melabeli ADII “all-terrain ready”, sebab di bagian perutnya kini terdapat sensor LIDAR yang bertugas untuk mendeteksi rintangan sehingga drone bisa menghindarinya secara otomatis, terutama ketika ada perubahan tingkat elevasi selagi drone melesat dalam kecepatan tinggi – ADII mencatatkan kecepatan maksimum 72 km/jam.

Pembaruan lainnya ada pada gimbal-nya, yang kini beroperasi dalam tiga axis sehingga video bakal terlihat lebih stabil dan mulus. Tentu saja, gimbal ADII sekarang menerima action cam GoPro Hero5 ketimbang Hero4. Bonus: kamera akan otomatis merekam saat ADII lepas landas, dan sebaliknya berhenti merekam saat drone mendarat.

Fisik ADII sendiri masih cukup ringkas sekaligus perkasa; selain tahan terhadap cuaca tak bersahabat, ADII yang berbobot cuma 2 kg ini juga bisa menstabilkan diri meski diterjang angin sekencang 30 knot. Ini penting karena ADII dapat mengudara hingga setinggi 3.500 meter di atas permukaan laut, meski jarak maksimum koneksinya dengan AirLeash hanya 150 meter.

Airdog ADII

Baterainya berkapasitas 5.550 mAh, dan diestimasikan bisa bertahan selama 10 – 20 menit pemakaian, tergantung kecepatan drone. Soal pemasaran, Helico rupanya kembali berkunjung ke Kickstarter untuk mengumpulkan pendanaan buat ADII.

Di Kickstarter, Airdog ADII dibanderol seharga $1.099, sedangkan harga retail-nya diperkirakan berkisar $1.500. Kecuali Anda benar-benar penggemar olahraga ekstrem sejati, mungkin drone besutan DJI bisa jadi alternatif lain yang lebih menarik – plus lebih terjangkau.

Sumber: The Verge.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.