Pendiri BigEvo Andy Santoso lahir di sebuah kecamatan kecil di kawasan Slawi, Jawa Tengah.  Ia tumbuh besar di sana. Setelah menamatkan SMU, dia hijrah ke ibu kota Jakarta untuk melanjutkan kuliah di Universitas Bina Nusantara dan bermimpi suatu saat dapat bekerja di Blizzard atau Squaresoft (sekarang Square Enix). Namun hidup punya kejutan lain untuknya. Alih-alih bekerja di tempat impiannya, ia malah menjadi pengusaha yang memiliki perusahaan sendiri.

Andy mengakui termasuk penyuka game, kecintaannya tersebut yang membuatnya memilih jurusan Teknologi Informasi. Saat masih kuliah ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya tidak berbakat di bidang programming dan design. Ia pun akhirnya memutuskan untuk mendalami networking security.

Pekerjaan pertamanya setelah lulus adalah sebagai staff IT di kantor pusat jaringan restoran A&W. Andy sehari-hari  berurusan dengan printer, PC, atau mesin kasir yang rusak. Suatu ketika akhirnya ia melihat peluang untuk mengejar mimpi lamanya kembali untuk bekerja  di perusahaan game. Ia bergabung dengan Ragnarok, sebuah perusahaan game yang sempat merajai pasar game online Indonesia. Tanggung jawabnya selama bekerja di sana adalah berurusan dengan ratusan server game supaya tetap online 24 jam. Di sana dia bekerja selama dua tahun.

Perjalanan kariernya berlanjut dan pertemuan dengan seseorang yang mengajaknya memimpin sebuah perusahaan social media developer CyStage yang ingin mengkloning media sosial tersukses di Korea bernama CyWorld, atau Mixi di Jepang. “Produk yang saya buat saat itu sebenarnya sangat menarik, dan mungkin sukses jika launching sekarang ini, dengan business model in-site purchase memungkinkan user bisa membeli aksesoris untuk avatar dan profilnya,” cerita Andy kepada DailySocial.

Andy pun menuturkan bahwa saat itu pengalamannya masih sangat hijau di dunia bisnis, khususnya hubungan dengan partner dan legal. Meski produk yang dibuatnya sempat ramai, dia terpaksa menjual seluruh sahamnya, bahkan bisa dibilang hampir bangkrut karena menghabiskan semua tabungannya.

“Saya masih ingat saya sampai minta diajarin masak nasi goreng sama pembatu kontrakan demi menghemat pengeluaran makan dan hampir setiap hari makan nasi goreng sampai saya sempat sakit radang tenggorokan.”

Andy mengakui berkat hasil gemblengan ayahnya yang membuat ia mampu bertahan saat masa-masa sulit tersebut. “Ayah saya mengajarkan hal penting dan mendasar bahwa kesuksesan bisa diraih oleh kerja keras, jangan mudah menyerah jika gagal hingga berbisnislah dengan fondasi yang baik. Produk atau servis kita bisa membantu orang lain, the rest will follow,” ucapnya.

Kegagalan awal yang membuatnya hampir bangkrut tidak membuatnya berhenti. Tak lama ia bergabung dengan perusahaan Singapora yang menjadi representative advertising business Friendster, MSN, dan Facebook saat itu. Sejak itulah ia menemukan pilihan karier dan jatuh cinta kepada digital marketing.

Pada saat Yahoo Indonesia hadir di sini, dia bergabung dan menjabat sebagai Senior Sales Manager pertama untuk Yahoo Indonesia. Andy mengenang, “Sewaktu saya kuliah, Yahoo sedang mengalami masa jaya-jayanya. Ketika bergabung dengan Yahoo Indonesia rasanya seperti tidak percaya.”

Tak lama kemudian Google pun datang ke Indonesia dan menawarkan Industry Head pertama Google Indonesia. “Saya melewati enam tahap interview di Google, terakhir dengan Country Manager Google Indonesia & Managing Director Google APAC. Saya ingat pertanyaan pertama adalah ‘Bagaimana cara mengatasi kemacetan di Jakarta?’ hingga ‘Bagaimana strategi untuk mengembangkan Google Advertising business di Indonesia?’.”

Ketika di Google, Andy banyak belajar bisnis model yang terjadi antara Google, Advertiser dan Google Partner. Ia melihat kesempatan untuk menjadi Google Partner. Pengetahuannya tentang Google memberikannya kepercayaan diri mampu memberikan servis yang sesuai dengan standar Google Partner sesuai level regional atau global.

Melihat kesempatan ini Andy pun memberanikan diri untuk mulai membangun startup-nya sendiri BigEvo, sebuah Google Specialist Agency, yang mencapai pertumbuhan menggembirakan di tahun pertamanya.

BigEvo sendiri dibangun bersama partnernya sebagai angel investor. Andy mengungkapkan, “Saat saya memulai BigEvo, ada beberapa tawaran dari beberapa angel investor, dan juga beberapa VC dari German maupun Jepang. Namun saya mengambil keputusan  ber-partner dengan satu angel investor lebih dulu.”

BigEvo berencana berekspansi lebih besar lagi dalam waktu dekat dengan membuka kerja sama dengan partner yang sesuai.

Andy berujar, “Mendirikan startup adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya. Sangat mengerikan sebenarnya dan jauh lebih menantang daripada yang dibayangkan. Di sisi lain bisa sangat menyenangkan jika benar-benar menyukainya dan tahu yang akan dilakukan, ditambah bantuan partner dan tim yang tepat.”

“Bila ingin mendirikan startup buat bisnis model yang solid terlebih dahulu, dengan bisnis model yang jelas sekalipun, tidak mudah untuk sebuah startup menjadi sukses apalagi tanpa bisnis model,” sarannya. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa jangan ragu untuk memulai startup selagi muda. Dengan mantap, Andy mengatakan, “Start earlier, fail earlier, learn a lot, try again or just give up.

[Foto dok. pribadi]

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.