BlackBerry telah memutuskan untuk tidak membangun handset-nya sendiri dan di Indonesia memboyong produksi dan distribusi ke PT BB Merah Putih,joint venture antara BlackBerry dan Tiphone. Kesepakatan ini tentu akan membawa Tiphone “menguasai” proses produksi perangkat yang sempat sangat populer di Indonesia tersebut. Bersama Tiphone, BlackBerry yang diproduksi akan menggunakan sistem operasi Android. Hal ini adalah bagian agenda “tebar” lisensi yang dilakukan BlackBerry. Pihaknya masih bernegosiasi untuk menjalin kemitraan dengan lebih banyak produsen ponsel di negara lain.

PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk sendiri sebagai perusahaan manufaktur ponsel sejauh ini belum memiliki produk signifikan di Indonesia. Sebanyak 25 persen sahamnya dimiliki oleh Telkom Group. Tiphone telah bermitra dengan pembuat ponsel asal Taiwan bernama Arima Communication, juga dalam sebuah joint venture. Perusahaan gabungan tersebut membangun pabrik di Delta Silikon, Cikarang, seluas 7.000 meter persegi dan memiliki kapasitas produksi hingga 300 ribu ponsel per bulan. Kemungkinan perangkat baru BlackBerry juga bakal diproduksi di sini.

Fokus Tiphone mau ke mana?

Tantangan Tiphone sebenarnya adalah menghasilkan perangkat yang mampu mengangkat kembali merek BlackBerry di pasaran. Tak mudah memang dan sejumlah orang merasa skeptis tentang kemungkinan kembalinya kejayaan BlackBerry di Indonesia. Salah satu yang berpendapat demikian adalah pengamat industri ponsel Herry SW. Mengawali perbincangan seputar kerja sama kedua perusahaan ini, ia justru menuturkan kedua pihak sebaiknya jangan terlalu menggembor-gemborkan fakta seputar produksi hardware BlackBerry adalah racikan Tiphone.

“Dengan memperhatikan perilaku konsumen di Indonesia, hal itu bisa berdampak negatif terhadap penjualan BlackBerry di sini. Tiphone dikenal sebagai merek lokal yang tidak terlalu populer. Kualitasnya tidak istimewa. Hal yang saya khawatirkan, kalau fakta bahwa peranti BlackBerry di sini diproduksi oleh Tiphone terlalu banyak disebarluaskan, hal itu bisa menjadi bumerang. Bukan mustahil muncul persepsi kalau kualitas peranti terbaru BlackBerry akan seperti Tiphone,” ujar Herry.

Konsumen tidak rasional, ada banyak faktor penyebabnya

Banyak hal yang mempengaruhi popularitas merek smartphone. Mau sebagus apapun spesifikasi dan kemampuan smartphone-nya, konsumen itu tidak rasional. Demikian menurut pandangan pengamat industri digital Aulia Masna. Dari pandangan tersebut ia mengatakan bahwa saat ini terlalu dini menjustifikasi sebuah handset akan sukses atau tidak cuma karena diproduksi oleh pabrikan tertentu.

Ia mencontohkan Xiaomi yang punya merek besar dan kualitas bagus nyatanya di Indonesia tidak terlalu laris, masih kalah jauh dari Oppo dan Andromax yang dari sisi kualitas dan kemampuan sebenarnya tidak jauh berbeda.

“Sekarang pembeli smartphone lebih banyak yang price conscious sedangkan BlackBerry itu brand premium. Jadi Tiphone harus memilih mau memasarkan BlackBerry ke segmen mana. Pesaingnya sudah terlalu banyak,” ungkap Aulia.

Sejumlah orang menyebutkan bahwa perusahaan masih memiliki kekuatan melalui platform BlackBerry Messenger (BBM). BBM kini tengah digunakan oleh lebih dari 60 juta pengguna ponsel di Indonesia. Saat ini kualitasnya pun terus dijaga dan dikembangkan oleh EMTEK untuk membuat para penggunanya betah. Pertanyaannya tentu kepada relevansi BlackBerry untuk mengandalkan BBM dalam memasarkan handset terbarunya.

“BBM jelas masih relevan. Penggunanya masih puluhan juta di Indonesia dan termasuk satu dari tiga aplikasi messaging yang paling populer di negara ini, jadi opportunity-nya masih besar untuk EMTEK selama mereka tetap mempertahankan BBM sebagai aplikasi yang relevan,” ujar Aulia.

Namun tak sedikit informasi yang mengabarkan bahwa pengguna BlackBerry pun banyak yang mulai move on ke layanan lain. Herry menuturkan:

“Masa keemasan BBM sebenarnya sudah berlalu. Kini BBM bukan lagi sesuatu yang menarik dan digemari. Contoh paling mudah adalah melihat orang-orang di sekitar kita. Telah banyak pengguna BBM yang beralih ke WhatsApp, Telegram, dan aplikasi lain. Meskipun masih ada, jumlah pedagang, agen properti, bahkan tukang sayur yang memanfaatkan BBM untuk media berjualan sudah jauh lebih sedikit dibandingkan beberapa tahun lalu.”

Menjadi BlackBerry yang dicintai konsumen Indonesia

Kasat mata terlihat jelas bahwa BlackBerry dihadapkan pada persaingan yang begitu sengit melawan jajaran ponsel Android. Kendati demikian, menurut Herry, ada beberapa hal yang bisa mendongkrak kembali penjualan ponsel BlackBerry, seperti harus memakai platform Android dan mendukung dual SIM.

Herry menambahkan bahwa merek BlackBerry masih lekat dengan penggunaan keyboard fisik dengan kenyamanan yang ditawarkan. Ini bisa menjadi poin plus, terlebih pemainnya sangat sepi. Terkait dengan harga jual, BlackBerry disarankan mulai mencoba merangkul kelas menengah, menjual perangkat dengan kisaran Rp 1,5 – 3 juta dengan spesifikasi setara dengan merek global di kisaran harga yang sama.