Xbox One X merupakan salah satu primadona di acara E3 2017 yang dilangsungkan minggu kemarin. Console yang sebelumnya dinamai Project Scorpio itu diklaim sebagai sistem gaming 4K sejati, dan di E3 2017, Microsoft sungguh-sungguh berkeinginan untuk memperlihatkan seluruh kemampuannya lewat demo game-game blockbuster seperti Forza Motorsport 7 dan Anthem.

Salah satu kekhawatiran terbesar konsumen terhadap Xbox One X terletak pada harganya. Console disiapkan sebagai perangkat gaming mainstream, sebuah device yang mampu menghidangkan pengalaman paling optimal di harga masuk akal. Bagi gamer core, console ialah alternatif lebih terjangkau dibanding sistem seperti PC. Namun premis Xbox One X boleh jadi menyebabkannya tidak begitu bersahabat bagi dompet gamer.

Xbox One X 1

Bersamaan dengan penyingkapan Xbox One X, Microsoft juga mengumumkan harganya. Device ini dibanderol di angka estimasi terendah: US$ 500. Cukup masuk akal bukan? Memang, tapi mayoritas konsumen masih menganggapnya terlalu mahal, khususnya jika dibandingkan dengan varian standar – Xbox One S dibanderol mulai dari US$ 250 sedangkan PlayStation 4 dijual di harga US 300.

Dalam wawancara bersama Business Insider, sang bos Xbox Phil Spencer menegaskan bahwa Microsoft tidak mengambil keuntungan dari penjualan Xbox One X. Seperti sebelumnya, mereka menganggapnya sebagai investasi (Meski begitu, Microsoft juga enggan untuk bilang bahwa proses produksi, distribusi dan pemasaran One X membuat mereka rugi). Pemasukan tentu saja dapat diperoleh lewat penjualan game dan konten.

Tapi apakah Xbox One X layak ditawarkan di US$ 500? Beberapa hal perlu kita ketahui:

  • Chip ‘Scorpio Engine’ lebih canggih 15 sampai 20 persen dibanding prosesor PlayStation 4 Pro. Ia adalah komponen termahal di console.
  • Xbox One X punya tambahan memori GDDR5 4GB, dan harganya pun sudah pasti tidak murah. Kabarnya, AMD membutuhkan modal US$ 30 untuk meng-upgrade memori di R9 390 dan 390X dari 4GB ke 8GB.
  • Ruang pendingin Xbox One X memanfaatkan teknologi serupa kartu Grafis GTX 1080 dan GTX 1080 Ti.
  • Bandwidth di unit hard drive juga telah ditingkatkan dari 40MB/detik menjadi 60MB/detik. Itu artinya ada kenaikan sebesar 50 persen (mungkin berkat penggunaan drive 7.200rpm). Performa lebih tinggi tentunya membuat harganya meningkat.
  • Keberadaan UHD Blu-ray juga berpengaruh pada harga, walaupun kenaikannya tidak terlalu signifikan karena Xbox One S juga memiliki optical disk drive sejenis.
  • Di dalam, Xbox One menggunakan teknologi bernama ‘Hovis Method’, bertugas untuk menyesuaikan pasokan tenaga di motherboard pada Scorpio Engine. Hal ini sudah pasti menambah ongkos produksi.

US$ 500 memang cukup memberatkan mayoritas gamer, dan kita belum tahu berapa harga Xbox One X setelah masuk ke Indonesia. Namun perlu kita ingat, kecanggihan Xbox One X baru betul-betul bisa dirasakan bagi mereka yang mempunyai TV 4K, dan saya rasa mereka yang sanggup mengeluarkan uang untuk membeli televisi high-end tak akan keberatan meminang console seharga US$ 500.

Sumber: Eurogamer.