Categories

Interview

Aplikasi Kencan Online Woo Ekspansi ke Indonesia

Lebih ketat menerima pengguna, menggunakan skema undangan untuk terhubung dalam layanan yang termoderasi

Michael Erlangga - 5 November 2015

Banyaknya layanan yang menghubungkan pasangan nampaknya tidak dianggap sebagai sebuah kompetisi dari online dating app, namun penyedia layanan justru mencoba memecahkan masalah sosial yang ada. CEO Woo Sumesh Menon memaparkan kisahnya pada DailySocial kemarin (4/11), bahwa pihaknya mencoba melihat gambaran yang lebih luas mengenai ketertarikan antara individu yang tidak hanya berdasarkan aspek penampilan saja.

Aplikasi Woo berbasis di Singapura dan telah sukses mengambil potongan market besar di India sebagai layanan matchmaking untuk para lajang yang mencari hubungan. Menon mengkonfirmasi kondisi market yang tak jauh berbeda antara India dan Indonesia saat ini. Jumlah populasi yang besar, penetrasi smartphone, dan lain sebagainya.

Online dating app yang ada saat ini mengizinkan pengguna menemukan orang-orang yang baik. Namun sayangnya individu yang tidak terlalu baik juga tidak sedikit. Maksudnya ialah profil palsu, dan status hubungan yang ditutupi,” katanya.

Menon mencoba memvalidasi idenya dengan bertanya pada para wanita yang menggunakan online dating app seperti Tinder dan Paktor. Singkatnya, solusi dari keluhan yang sering diutarakan oleh penggunanya ialah dengan mengenyahkan orang-orang yang telah menikah terlebih dahulu. Hasilnya, Woo menggunakan profil berdasarkan Facebook pengguna dan kembali melakukan verifikasi ulang.

Di antara 1,7 juta unduhan yang kini diklaim pihaknya, ternyata 30% dari pengguna yang mendaftar ditolak lantaran legitimasi profil yang dianggap tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan Woo. Meski hanya dapat diakses melalui invitation, Woo ingin benar-benar menjaga “kebersihan” penggunanya.

Indonesia menjadi langkah pertama Woo untuk ekspansi di luar India. Menargetkan kaum lajang berumur 25-30 tahun, Woo menghubungkan berbagai lapisan masyarakat di kota-kota besar seperti Jakarta. Tak hanya mengandalkan aspek penampilan, Woo mencocokan dari buku apa yang dibaca, musik apa yang didengarkan, dan industri apa yang menarik bagi tiap penggunanya.

Tersedia di Indonesia sejak awal Oktober, Woo masih fokus membentuk komunitas dengan merekrut dua hingga tiga orang dalam beberapa waktu ke depan untuk melancarkan brand awareness mereka.

“Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi kami. Akan ada dana signifikan untuk pasar ini, namun kami masih mempelajari apa yang tepat untuk mengakuisisi pengguna,” kata Menon.

Online dating app dalam kompetisi

"Menurut saya bukan siapa yang berkompetisi dengan siapa. Kita hanya ingin memecahkan masalah yang sama," kata Menon.

Woo bersaing secara langsung dengan Paktor yang menjadi market leader di Singapura. Berbeda dengan Paktor, Woo belum melakukan monetisasi apapun walau telah memiliki beberapa rencana dalam waktu dekat ini. Model bisnis freemium salah satunya.

"Mereka [kompetitor] mengizinkan semua orang masuk ke layanannya. Sedangkan kami menjaga orang-orang yang ingin serius menjalani hubungan sehat. Tinder contohnya, mereka memiliki pengguna yang tidak ingin kami miliki," tandasnya.

Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter