Categories

Feature

Argumen Mendukung Bisnis Streaming

Perusahaan rekaman dan musisi perlu mendukung bisnis dan layanan baru yang berusaha membangun lebih banyak sumber pemasukan alternatif bagi industri

Guest Post - 1 June 2015

Saya mendengar kalimat “Pemasukan dari bisnis streaming masih kecil” cukup sering belakangan ini, baik di lingkungan saya maupun di Internet. Dari penarikan katalog Taylor Swift secara kejam dari Spotify, pembelaan pemasukan streaming dari pendiri Spotify Daniel Ek, dan banyak contoh kasus lainnya, streaming dapat menjadi penyelamat industri musik, atau justru kejatuhannya, tergantung dari siapa yang Anda ajak bicara. Namun, dari sudut pandang industri, kontoversi seputar streaming musik mungkin telah dimulai sejak era Napster.

Belum lama ini saya menghadiri sebuag acara gagasan Kolaborasi Ide yang membahas mengenai cara untuk mengembangkan industri musik lebih jauh lagi (setidaknya di Indonesia), dengan Robin Malau sebagai pembicara. Diskusi tersebut menetapkan tiga konsep dasar: ruang kreatif bagi para musisi seperti Roundhouse yang ada di Inggris, streaming musik, dan festival musik. Salah seorang perwakilan label yang hadir pada saat itu mengatakan bahwa “Kondisi jaringan internet hanya akan optimal bagi layanan streaming musik pada 2020” dan “Streaming tidak menghasilkan banyak pemasukan”.

Saya kemudian membaca sebuah artikel ketika CEO Deezer pada dasarnya mengatakan bahwa “musisi harus sabar”. Lebih menarik lagi ketika saya membaca kolom komentar, d imana hanya ada satu komentar (seperti pada kebanyakan situs) yang mengatakan:

TIDAK ADA “…pasar yang sangat potensial.”

Batas global bagi semua layanan streaming inklusif, dengan atau tanpa Apple/Beats, hanya $20 miliar pada 2025!

Inflasi menyebabkan industri CD  bernilai $60 miliar pada tahun 1999.

Saya tidak yakin dari mana “batas global” muncul, saya belum menemukannya di artikel manapun yang saya baca. Inilah tanggapan saya terhadap kalimat “streaming tidak menghasilkan”:

Baru seumur jagung

Pertama-tama, layanan yang kita tahu sebagai “streaming musik” masih terbilang baru. Berbagai model bisnis telah dicoba, dengan kebanyakan menggunakan “streaming berbayar” dan “streaming gratis dengan konten berbayar”. Saat ini model bisnisnya “masih diuji coba” dalam skala global.

Ini 2015, bukan 1999

Saya pikir tidak adil untuk membandingkan pemasukan yang diterima oleh industri CD (seperti komentar di atas, bernilai $60 miliar karena inflasi) dengan “batas global” yang bernilai $20 miliar. CD sebagai produk musik nyaris memonopoli industri karena saat itu hanya berkompetisi dengan produk inferior (kaset) atau berskala kecil (vinyl), dan angka $60 miliar juga dapat menggambarkan nilai sebenarnya konsumsi musik pada saat itu.

Ini tahun 2015. Kita punya smartphone yang dapat memutar berbagai data musik digital, dan dapat menjalankan program seperti yang dilakukan komputer pada 1999. Kedua pasar jelas berbeda, karena tidak akan ada lagi sistem pemutar musik yang dominan seperti CD pada 1999. Konsumsi musik saat ini juga mencakup konsumsi pernak-pernik, konser, dan banyak lagi-dan jika Anda menghitung nilai dari semua industri tersebut dan menjumlahkannya dengan unduhan musik, seperti streaming musik dan produk musik fisik lainnya, saya yakin jumlahnya akan sama dengan $60 miliar, tidak kurang dari itu.

Hal yang kecil akan menjadi besar jika dikonsumsi oleh jutaan

Pemasukan dari streaming musik memang terlihat kecil jika dibandingkan dengan pemasukan dari penjualan CD atau unduhan musik. Namun bagaimana jika kita menjumlahkan penjualan per unit? Saya belajar dari bisnis layanan SMS premium, lebih sedikit berarti lebih banyak-keuntungan $0.005 sen per unit tetap dapat menjadi besar jika Anda dapat menjualnya ke jutaan orang.

Industri musik rekaman mungkin bukan jenis bisnis yang bagus

Industri musik rekaman terus berubah-model bisnis lain akan selalu berusaha untuk mencari uang melalui model bisnis yang berbeda-beda dan beradaptasi dengan pasar, dibandingkan dengan melaporkan pembajakan, sementara pada saat yang bersamaan keluhan tentang kurangnya pemasukan datang dari layanan-layanan yang baru dan sedang bertumbuh. Sejauh yang saya tahu, jenis bisnis yang baik tumbuh setahap demi setahap, daripada mencapai pemasukan besar yang cenderung tidak stabil.

Tidak ada uang yang masuk dengan cepat

Jika perusahaan rekaman (dan/atau musisi) ingin mendapatkan pemasukan dengan cepat, maka mereka berada di bisnis yang salah. Logika yang sama berlaku, sebenarnya, terhadap para musisi yang tengah berkembang: tentu saja Anda dapat menghabiskan banyak uang untuk pemasaran dan promosi seorang musisi sehingga ia dapat menjadi terkenal dalam semalam, namun saya jamin investasi yang berlebihan di awal sulit untuk dipertahankan dalam jangka waktu yang lama. Bahkan album P&Ls membatasi pengeluaran untuk pemasaran. Bukankah lebih baik untuk membangun basis fans yang kuat agar penjualan dapat dilakukan lebih lama? Hal yang sama juga berlaku untuk layanan.

Layanan streaming perlu untuk ditingkatkan

Apakah ada potensi kerugian bagi perusahaan rekaman dan/atau musisi? Di luar pembajakan, streaming hanyalah sebuah metode pendistribusian musik. Streaming tidak akan “membunuh” unduhan dan unduhan akan tetap memiliki pasar tersendiri. Model bisnis freemium yang diusung Spotify telah berhasil mengurangi jumlah pembajakan di negara asalnya dan kita dapat berasumsi bahwa hal yang sama akan terjadi di negara-negara lainnya saat penetrasi internet telah berada pada tingkat seperti di Swedia. Layanan streaming perlu untuk ditingkatkan untuk memberikan pemasukan bagi perusahaan rekaman dan para musisi.

Berhenti mengharapkan uang hanya dari rekaman

Saya rasa perusahaan dan musisi yang mengharapkan uang hanya dari rekaman sungguh naif. Bahkan industri film menunjukkan bahwa memperbanyak pilihan produk yang ditawarkan-berdasarkan satu sumber yang sama-dapat menghasilkan berbagai saluran pemasukan. Studio film mendapat pemasukan dari tiket bioskop, DVD/Blu-ray, layanan internet seperti Netflix, dan hak siar dari stasiun TV atau TV kabel. Dan ini baru dari film, belum dari pernak-pernik, buku, komik, dan sebagainya. Teknologi telah membuka banyak cara bagi musisi untuk mendapatkan pemasukan, baik itu secara langsung maupun tidak langsung dari rekaman – mengapa mempermasalahkan streaming? Bagaimana dengan pembajakan?

Meninjau ulang kontrak

Masalah lain adalah fakta bahwa Spotify membayar 70% dari pemasukan mereka kepada label, namun para musisi tetap mengeluhkan pemasukan yang kecil. Tunggu dulu, apakah ketentuan yang ada pada perjanjian Anda dengan perusahaan rekaman? Ada sesuatu yang janggal disini. Sesuatu yang dapat dijelaskan oleh kebocoran terbaru tersebut. Berdasarkan sudut pandang saya, saya rasa Spotify mundur karena tidak dapat memenuhi ketentuan dari Sony – kesepakatan mengenai ruang iklan gratis yang Sony dapat jual kembali memang kurang pantas.

Pembajakan berarti orang-orang menginginkan cara yang lebih mudah untuk menikmati musik

Jika kita dapat memutar waktu dan memilih untuk tidak memperkenalkan layanan streaming kepada publik, akankah layanan unduhan mencapai nilai $60 miliar seperti yang dicapai oleh CD pada tahun 1999? Saya rasa tidak. Banyak orang masih akan membajak lagu dari internet. Inilah kebiasaan yang coba dirubah oleh layanan streaming – mengubah pembajakan menjadi konsumsi musik legal, dengan menyediakan sebuah metode yang lebih mudah untuk mengakses musik. Para pembajak seperti RIAA yang membajak lagu, perangkat lunak atau film tidak berniat untuk menghancurkan dunia, mereka hanya ingin akses terhadap musik yang lebih mudah dan lebih terjangkau. Memang ada beberapa yang benar-benar jahat, namun saya rasa mereka akan menjadi minoritas setelah layanan yang lebih komprehensif dan merata dihadirkan.

Startup musik dan perusahaan rekaman memainkan permainan yang berbeda

Spotify, sebuah startup musik, pada dasarnya mendapatkan pendanaan dari VC dan memainkan permainan yang sama sekali berbeda. Investasi yang ditanam di Spotify akan meningkatkan nilai ekuitas perusahaan sehingga pada satu titik mereka dapat mencapai IPO, di mana kemungkinan besar para pemangku kekuasaan – di antaranya perusahaan rekaman-akan menguangkan saham mereka. Perusahaan rekaman akan mendapatkan uang tunai yang tidak termasuk dalam pembayaran royalti untuk musisi, para pemangku kekuasaan Spotify akan mendapatkan uang, dan kita akan mendapatkan layanan musik yang mungkin dapat atau tidak dapat bertahan lama. Tergantung dari besaran yang dapat mereka kelola sebelum memutuskan untuk IPO.

Perusahaan rekaman dan musisi perlu mendukung bisnis dan layanan baru yang berusaha membangun lebih banyak sumber pemasukan alternatif bagi industri. Inovasi semacam inilah yang perlu untuk diperbanyak, karena inovasi tersebut tidak datang dari dalam industri itu sendiri. Saya juga tidak mengharapkannya, karena industri musik sebaiknya berkonsentrasi pada kompetensi utamanya, yaitu membuat, memasarkan dan mendistribusikan musik, termasuk membuat peraturan yang jelas bagi pembuatan bisnis berbasis musik, transparansi bagi semua pihak, dan perlindungan hukum yang pantas bagi semua pihak yang terlibat.

Mari berhenti mengeluh, dan mulai membangun.

_
Artikel ini dipublikasikan kembali atas seizin dari Ario Tamat. Sumber asli dari artikel ini dapat dilihat di Medium.

Ario Tamat adalah Co-Founder Ohdio, sebuah layanan streaming musik Indonesia. Ia bekerja di indutsri musik Indonesia dari 2003 hingga 2010, dan pernah bekerja di industri film dan TV di Vietnam. Anda dapat menghubungi Ario Tamat melalui Twitter di @barijoe atau blog di http://barijoe.wordpress.com.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter