Dunia teknologi masih didominasi oleh kaum pria dan fenomena tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga pada skala global. Meskipun demikian bukan berarti perempuan kalah hebat dibanding pria. Co-founder dan CTO Nulisbuku Aulia Halimatussadiah, yang akrab dipanggil Ollie, adalah satu dari sedikit perempuan Indonesia yang aktif berperan di kancah dunia teknologi.

“Saya pikir saat founder bekerja dengan efisien, maka jenis kelamin tidak berpengaruh di dunia IT, karena kita dinilai dari kinerja kita. Minimnya jumlah executive perempuan menurut saya karena keputusan yang diambil untuk menaruh prioritas mereka di tempat lain, seperti anak dan keluarga,” menurut Ollie, tentang minimnya partisipasi perempuan di dunia IT.

Ollie memberikan gambaran tentang  peran serta  perempuan dalam dunia digital di Indonesia. Menurutnya secara kasar jumlah perempuan di dunia IT dibandingkan dengan laki-laki hanya 20 persen saja.  Sisanya masih dikuasai oleh laki-laki. Ollie berpendapat, “Perlu effort untuk menggiring perempuan memasuk ranah industri Internet. “

Sebenarnya bisnis dan perempuan itu sangat melekat. Perhatikan saja kawan-kawan perempuan Anda di sekitar yang banyak menjalankan bisnis secara kecil-kecilan dan menawarkannya melalui grup chat atau melalui media sosial. Kebanyakan dari mereka menjadikannya sebagai sampingan dan jarang sekali terjun untuk menjadikannya bisnis serius, meski era digital membuat kesempatan menuju ke sana terbuka lebar.

Ollie yang juga adalah penulis buku “Girls in Tech”, mengatakan bahwa ketika mendengar kata teknologi, perempuan cenderung berpikir hal yang ribetnya. Padahal untuk menjadi founder, hanya perlu menemukan passion-nya.

Sejak kecil Ollie menyukai membaca buku, bahkan bisa satu buku sehari. Berawal dari komik hingga buku apa saja. Kegemarannya akan bukulah, yang mendorongnya untuk selalu berburu buku dan memburu buku yang praktis adalah melalui berbelanja secara online. Nah, saat itu ide membuat toko buku online dengan sendiri pun muncul.

Lulusan jurusan IT salah satu universitas swasta  di Depok ini memulai bisnisnya bermodalkan patungan dari hasil gajinya bekerja sebagai web developer.  Sejak didirikan tahun 2006, Kutukutubuku saat ini sudah memiliki 80 ribu anggota terdaftar.

Membaca dan menulis adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Orang yang memiliki kegemaran membaca cenderung menumbuhkan kecintaan pada menulis.  Tahun 2010, Ollie mendirikan Nulisbuku sebuah penerbitan online pertama di Indonesia. Sekarang Nulisbuku telah melayani lebih dari 30.000 calon penulis baru dan membantu mereka menerbitkan bukunya sendiri. Terdapat pula komunitas yang disebut Nulis Buku Klub yang sudah tersebar di seluruh Indonesia dan membuat meetup rutin untuk menginspirasi lebih banyak orang untuk menulis dan mempublikasikannya. Ollie sendiri sudah menerbitkan sekitar 20 buku.

Upaya Menggiring Perempuan ke Ranah Digital

Sebagai entrepreneur IT yang sukses dan sadar akan masih minimnya peran perempuan di dunia ini, Ollie berupaya untuk menularkan ilmu dan pengalamannya kepada para perempuan lain. Salah satunya dengan aktivitas di Girls In Tech Indonesia (GIT-ID).

GIT-ID adalah satu bagian dari organisasi global Girl in Tech di Amerika Serikat. GIT-ID didirikan Ollie bersama dua orang perempuan lainnya, yaitu co-CEO Think.Web Anantya Van Bronckhorst dan Managing Director Talk Link Ria Ariyanie.

GIT-ID merupakan wadah atau komunitas untuk perempuan di bidang teknologi dengan visi dan misi yang sama dan berusaha untuk menghadirkan tambahan pengetahuan, tempat ngobrol dan juga tempat untuk berkembang bersama dengan bantuan teknologi.

Di komunitas GIT ini dia rajin membagi ilmu dan pengalamannya. Salah satunya yang paling berkesan, bahkan dia sebut sebagai pengalaman mind opening and life changing, adalah saat beberapa tahun lalu dia diundang oleh US State Department untuk ikut International Visitor Leadership Program di Washington DC dan New York. Ollie berujar, “Bersama 28 pengusaha sukses dari 28 negara, saya berkesempatan menggali ilmu dari peserta lain dan dari para mentor, berbagai hal mengenai entrepreneurship.”

Salah satu event lain yang berkesan baginya adalah La Journee de la Femme Digitale, ajang konferensi internasional para wanita digital di Paris. “Di ajang ini saya memahami bahwa meski pebisnis perempuan di Prancis punya fasilitas yang lebih bagus seperti koneksi internet yang sangat baik dan sistem pendidikan yang mendukung, tetapi punya tantangan yang sama dengan di Indonesia. Yakni banyak perempuan yang masih ragu dan tidak percaya diri untuk masuk ke dunia IT karena merasa dunia IT itu adalah dunia yang susah dimengerti dan sulit untuk masuk,” pungkas Ollie.

[Foto: Dok pribadi. (1) Ollie bersama CEO Ruby Receptionists Jill Nelson dan CEO CB Group dan Co-Founder La Journée de La Femme Digitale Catherine Barba (2) Komunitas GIT-ID]