Belajar dari kesalahan pemilik startup saat membangun sebuah startup bisa menjadi pelajaran yang cukup membantu Anda calon pemilik startup. Sudah banyak startup yang muncul kemudian dalam waktu satu tahun berjalan, terpaksa harus gulung tikar, karena tidak mampu menjalankan bisnis. Salah satu alasan utama startup tidak bisa bertahan adalah, ide yang cukup ambisius, yaitu ingin menjadi the next big thing, pemilihan nama atau logo yang telalu cepat hingga latar belakang pemilik startup yang bukan seorang coder atau engineer.

Untuk merangkum semua kesalahan tersebut, artikel berikut ini akan memaparkan hal-hal yang wajib dihindari jika Anda berniat untuk membangun startup.

Hubungan dengan co-founder yang tidak harmonis

Saat ini sudah banyak pemilik startup yang memiliki co-founder dari kalangan keluarga terdekat hingga teman kuliah dan SMA. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki latar belakang yang tepat dan sesuai dengan startup yang ingin Anda bangun dan berisiko terjadinya konflik karena hubungan yang terlalu dekat. Idealnya seorang co-founder adalah mereka yang memiliki kemampuan atau skill yang tidak Anda miliki.

Misalnya Anda berasal dari kalangan teknologi (programmer, developer) carilah co-founder dari kalangan manajemen, pemasaran hingga bisnis yang menguasai bidang tersebut. Anda sebagai pemilik dan co-founder bisa saling melengkapi. Intinya pilih Co-founder untuk alasan yang tepat dan hindari dari kalangan teman hingga keluarga.

Terlalu cepat menentukan nama dan logo

Kebanyakan dari startup di masa awal kerap berganti model bisnis, layanan bahkan produk yang ada. Ketika pivot tidak dapat dihindarkan, tentunya akan lebih mudah dilakukan jika startup yang Anda bangun belum mencetak nama dan logo yang permanen. Tentukan dengan jelas terlebih dahulu model bisnis yang ada, rencana monetisasi, target pasar dan hal-hal terkait lainnya, sebelum Anda menentukan nama yang bersifat permanen.

Tidak melakukan validasi pasar

Hal yang satu ini nampaknya wajib dilakukan oleh startup di masa awal, yaitu validasi pasar. Tentunya sebelum Anda melakukan validasi, lakukan riset pasar sambil menentukan dengan tepat siapa target pasar yang diincar. Kemudian lakukan dialog secara langsung dengan target pasar Anda, jelaskan dan tawarkan produk yang ada. Jika memang ada konsumen atau calon pelanggan bersedia membayar produk yang bakal Anda jual, artinya produk atau layanan Anda telah tervalidasi, dan langkah selanjutnya bisa ditentukan.

Terlalu banyak fitur di situs dan aplikasi

Layanan atau produk yang ideal adalah yang berawal dari fitur yang sederhana terlebih dahulu. Ketika feedback telah didapatkan dan terdapat request atau demand tertentu dari target pasar untuk menambah fitur yang dibutuhkan, baru mulai buat fitur tersebut. Jangan hadirkan layanan atau produk yang terlalu banyak dan terkesan sophisticated, namun faktanya tidak terlalu dibutuhkan target pasar.

Terlalu fokus dengan kegiatan penggalangan dana

Kebanyakan pemilik startup terlalu fokus dengan kegiatan penggalangan dana di masa awal, sehingga menghambat proses pengembangan produk dan layanan. Idealnya jika Anda ingin mengawali bisnis yang sehat, manfaatkan uang pribadi terlebih dahulu untuk membuat prototipe dan tahap awal lainnya, sebelum melakukan penggalangan dana kepada investor. Kegiatan panjang dan melelahkan ini akan berisiko tidak jadinya produk atau layanan yang akan Anda hadirkan.

Tidak menghasilkan pendapatan sejak hari pertama

Kesalahan lain yang juga kerap dilakukan oleh pemilik startup adalah kebiasaan untuk memberikan promo gratis, harga diskon dan penawaran lainnya. Jika startup ingin berjalan stabil dan bertahan, Anda sebagai pemilik startup sudah harus bisa memikirkan sejak awal strategi monetisasi. Jangan menunggu terlalu lama kegiatan ‘membakar’ uang yang akan berisiko gagal hingga bangkrutnya startup.