1. Startup

Bukalapak Konfirmasi "Perampingan" Jumlah Pegawai

Untuk mendukung bisnis yang berkelanjutan sebagai "perusahaan dewasa"

Marketplace bervaluasi di atas $1 miliar Bukalapak mengonfirmasi bahwa memang terjadi perampingan bisnis, yang berdampak pada pengurangan pegawai, untuk mendukung  yang berkelanjutan. Hal tersebut menjawab informasi yang berseliweran di media saat ini, termasuk dari sumber kami yang dikonfirmasi secara terpisah. Meskipun demikian, perusahaan tidak memberikan informasi detail tentang berapa jumlah pegawai yang terdampak dan bagian apa saja yang terkena perampingan.

Kepada DailySocial, Head of Corporate Communications Bukalapak Intan Wibisono mengatakan, "Bukalapak sudah tumbuh sebesar dan secepat ini dalam kurun waktu singkat. Di skala perusahaan seperti ini tentunya kami perlu menata diri dan mulai beroperasi layaknya perusahaan yang sudah dewasa, atau bisa kami sebut sebagai a grown up company, terutama untuk menjamin visi kami untuk terus tumbuh sebagai sustainable e-commerce dalam jangka panjang.

More Coverage:

BukaTabungan Diluncurkan, Realisasi Sinergi BaaS Bukalapak dan Standard Chartered

"Tentunya sudah lazim untuk perusahaan manapun melakukan penataan internal secara strategis untuk mendukung implementasi strategi bisnisnya. Demikian pula dengan Bukalapak," lanjutnya.

Menurut beberapa sumber media, ada ratusan pegawai yang terkena dampak perampingan ini, termasuk kabar penutupan pusat R&D di Medan dan Surabaya. Bukalapak saat ini memiliki sekitar 2000-an pegawai dengan 1100 di antaranya, per Juli 2019, adalah engineer.

More Coverage:

Bukalapak Luncurkan "BukaBangunan", Layanan Pengadaan Bahan Bangunan Lewat Jaringan Mitra

Konsep perampingan atau fokus ulang bisnis bukanlah barang baru bagi startup Indonesia. Gojek sebelumnya pernah menutup pusat R&D di Yogyakarta, sementara Sorabel (dulu bernama Sale Stock) dan Berrybenka di tahun 2016 pernah melakukan langkah yang sama. Sampai sekarang perusahaan-perusahaan tersebut tampak baik-baik saja, bahkan mendapatkan pendanaan baru sebagai bukti kepercayaan investor.

Bukalapak tahun ini memprediksi memperoleh annualized GMV hingga $5 miliar (sekitar 70 triliun Rupiah) dan mengklaim laba kotor bulanan naik dua kali lipat ketimbang perolehan bulan Desember 2018.

Kepemilikan terbesar Bukalapak saat ini disebut dipegang oleh Emtek, Ant Financial, dan GIC Singapura.

More Coverage:

Bukalapak Kantongi Laba Bersih Rp8,59 Triliun di Semester I 2022

"Menjadi suatu perusahaan e-commerce berkelanjutan adalah hal penting bagi kami, karena meskipun pertumbuhan GMV adalah metrik penting di sektor e-commerce, perusahaan kami telah melangkah ke tahap selanjutnya dan telah sukses memperoleh peningkatan pendapatan menuju profitabilitas, yang sudah sesuai harapan dan bahkan lebih cepat dibanding ekspektasi kami," klaim Intan.

Application Information Will Show Up Here
Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter
Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again