Categories

Interview

Sebagai Chatbot, Chatbiz Fokus Menyederhanakan Pengalaman Konsumen

Sudah dapatkan pendanaan awal dari angel investor tahun lalu

Bintoro Agung - 22 May 2020

Chatbot kerap digadang-gadang sebagai bagian tak terpisahkan layanan teknologi paling mutakhir. Maka tak heran jumlah bisnis yang memanfaatkan chatbotterus bertambah banyak seiring waktu. Chatbiz adalah salah satu yang mencoba peruntungan di tengah maraknya adopsi teknologi chatbot.

Chatbiz adalah startup asisten virtual yang didirikan oleh Terry Djony. Mulai diperkenalkan ke publik sejak pertengahan tahun lalu. Ide chatbot ini berawal dari keresahan Terry yang kesulitan menghubungi toko untuk membeli barang yang ia butuhkan. Ia lalu mengembangkan kegelisahan itu menjadi ide untuk menciptakan asisten virtual yang fokus pada pengalaman pengguna sekaligus efektif untuk meningkatkan angka konversi sebuah bisnis.

Chatbot harus bisa menyederhanakan user journey sehingga angka konversi (conversion rate) pelanggan bisa naik hingga 20%, bukan justru mempersulit user journey. Bila dilihat, ada banyak sekali chatbot yang malah mempersulit user journey karena desain waterfall yang bisa jadi tidak tepat,” ucap Terry.

Fokus di angka konversi

Terry yang juga berperan sebagai CEO Chatbiz beranggapan antarmuka percakapan (interface conversational) tak selalu cocok bagi kebutuhan pengguna. Baginya perlu ada fungsi cari-dan-pilih yang dipadukan untuk asisten virtual. Ini yang ia coba terapkan di Chatbiz lewat salah satu fitur andalan mereka yakni Chat & Shop.

Chatbiz membagi pasarnya menjadi UKM dan korporasi. Sejak berdiri, Chatbiz sudah melayani enam klien mulai dari UKM bidang fesyen hingga organisasi nonprofit luar negeri. Sejauh ini mereka dapat menjawab sekitar 2 ribu chat pelanggan per bulan untuk setiap pelanggan mereka.

Bagi Terry, yang membedakan Chatbiz dengan pemain chatbot lain adalah angka konversi yang bisa mereka capai. Menurutnya rata-rata angka konversi dari chatbot yang hanya mengedepankan antarmuka percakapan hanya sekitar 2 persen.

“Kita fokus di user journey dan conversion. Conversion rate kita bisa sampai 10 persen,” klaim Terry.

Model bisnis dan target

Produk Chatbiz sejauh ini tersedia secara omnichannel. Ia bisa dipasangkan di WhatsApp, LINE, Telegram, ataupun situs web klien itu sendiri. Namun sejauh ini WhatsApp masih jadi kanal terpopuler untuk mereka.

Adapun model bisnis yang mereka pakai adalah sistem berlangganan bulanan. Biaya yang mereka patok untuk jasa chatbot mereka berkisar Rp1,5 juta per bulan. Angka ini bervariasi bergantung pada kebutuhan bisnis klien mereka.

Tahun ini mereka menargetkan 50 klien, UKM maupun korporasi, bergabung dengan Chatbiz. Tak tanggung-tanggung, angka konversi yang mereka ingin capai pun dipasang hingga 15 persen tahun ini.

Target Chatbiz ini tak mustahil untuk dicapai lantaran masa pandemi ini memaksa banyak bisnis beralih membuka lapak daring. Dalam kasus Chatbiz, mereka menyebut jumlah percakapan yang mereka tangani di WhatsApp meningkat hingga 40 persen.

“Namun kita tahu bahwa pekerjaan administratif seperti merekap order, menjawab pertanyaan, cek stok barang, dan lainnya memakan sumber daya yang tidak sedikit,” ungkap Terry.

Sokongan finansial Chatbiz saat ini datang dari angel investor yang mereka peroleh tahun lalu. Terry mengaku pihaknya masih fokus mengembangkan produk dan bisnis mereka sehingga tak begitu mengejar babak pendanaan selanjutnya.

Kedatangan Chatbiz menambah daftar startup yang mencoba peruntungan lewat inovasi chatbot. Kata.ai dan Botika adalah dua nama yang bisa dianggap paling harum dalam menyediakan layanan chatbot di Indonesia.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter