Meluncurkan perusahaan startup itu meski terlihat glamour, tapi kenyataannya tidak berkata demikian. Pada ujungnya, startup harus berorientasi pada bisnis yang perlu menghasilkan uang agar dapat terus bertahan dan menghidupi karyawannya.

Artikel ini bisa jadi diperuntukkan untuk Anda atau tidak, sebab kami akan memperkenalkan bagaimana realita di dunia startup. Sebelum berhenti dari pekerjaan dan menyelam ke dunia yang penuh gejolak, perlu Anda ketahui ada empat aspek penting yang harus dipertimbangkan. Berikut rangkumannya:

1. Memperoleh laba itu butuh waktu

Satu kebenaran yang pasti Anda alami ketika baru meluncurkan startup adalah, Anda tidak bisa mengetahui secara pasti kapan akan memperoleh laba.

Ketika pendiri Fed.Ex Frederick W Smith mendirikan perusahaannya tersebut di 1962, dia tidak langsung memperoleh laba dalam satu malam. Hal ini baru terjadi terjadi pada 1976 setelah dia harus berhutang besar sebanyak US$5 ribu untuk menyelamatkan Fed.Ex dari kebangkrutan. Saat ini perusahaan tersebut telah menghasilkan keuntungan sebesar US$13 miliar, namun jalan menuju sana tidaklah mudah.

Bagaimana dengan startup Anda? Bisa jadi dengan proyeksi perusahaan sudah mencetak laba pada tahun ke lima berdiri, prediksi bisa bergeser dari rencana.

2. Membuat rencana jangka panjang

Meluncurkan startup bukanlah cara cepat jadi kaya. Faktanya meluncurkan startup itu jauh dari kata glamor. Jadi sebelum Anda mengatur rencana bagaimana startup bergerak, Anda perlu tahu berapa besar gaji yang Anda terima hari ini? Seberapa berhasilkah meniti karier di startup? Berapa besar peluangnya?

Intinya, Anda harus memiliki pola pikir jangka panjang dengan tujuan apa saja keuntungan yang bisa didapat setelah “melompat” ke karier baru. Apakah mendirikan startup hanya sebatas batu loncatan karier atau karena Anda tidak memiliki pekerjaan lain di luar bidang lainnya.

Lalu dari sisi gaji dan tunjangan, berapa biaya konservatif yang bisa Anda dapat dalam lima tahun mendatang, apakah startup Anda bisa membayar dengan nilai lebih?

Mendirikan startup itu tidak selalu membicarakan uang. Ada kegembiraan dan kepuasan besar menjadi bos untuk diri sendiri, jika Anda tidak bahagia di lingkungan kerja saat ini.

3. Selalu ada masa surut hubungan dengan rekan kerja

Orang yang menyelamatkan perusahaan yang Anda rintis adalah co-founder Anda sendiri. Dia lah yang bekerja dengan baik bersama Anda, melengkapi kemampuan Anda dan memungkinkan perusahaan untuk sukses di bidang yang bukan keahlian Anda.

Meski begitu, banyak tantangan muncul di antara Anda berdua. Ini bukan berbicara mengenai keahlian saja, tapi chemistry yang terjalin karena Anda harus berbagi tugas dan tanggung jawab. Bagaimana membangun kepercayaan kepada orang lain untuk menangani berbagai urusan yang tidak dapat Anda lakukan sendiri

Perjalanan Anda dengan co-founder juga tidak selalu berjalan mulus, pasti ada rintangannya. Anda bakal bersitegang yang menguji mental. Ada kabar buruk, kemuduran, penundaan janji, dan lainnya. Banyak pasangan yang sudah menikah, namun berujung pada perceraian karena penyebab utamanya adalah pasangan memulai suatu hubungan yang tidak saling mempercayai.

Pada intinya, Anda dan co-founder, baik itu hubungan bisnis maupun pribadi, harus bersedia memberi banyak perhatian untuk seluruh pekerjaan Anda. Ada konsekuensi yang harus Anda ditanggung ketika menerima co-founder sebagai rekan kerja.

4. Penjualan bukan tujuan akhir

Jika Anda memiliki tujuan akhir perusahaan hanya akan bisa berkembang dan sukses bila dijual ke perusahaan lain, artinya Anda sedang berada dalam masalah.

Strategi akhir Anda mendirikan startup bukanlah agar dibeli oleh perusahaan lain. Ekspektasi Anda harus lebih tinggi dari itu. Jika Anda membangun perusahaan yang bagu hanya untuk diserap oleh entitas yang lebih besar dari Anda, lalu bagaimana dengan nasib rencana jangka panjang Anda?

Satu-satunya cara untuk mencapai kemandirian ekonomi sejati adalah membuat perusahaan Anda secara berkelanjutan dan menguntungkan. Tentu saja, untuk mencapainya tidak pernah mudah. Jika Anda melakukannya dengan benar, paling tidak Anda memiliki pilihan untuk menjualnya atau tidak.

Meskipun seseorang akan selalu berada di tingkat stres yang tinggi saat meluncurkan startup, perlu diyakini bahwa kesuksesan itu bisa dicapai. Anda hanya perlu tahu berapa biayanya, dan yang terpenting adalah biaya tersebut layak untuk Anda lakukan.