Berbisnis itu tidak selalu mujur, terkadang malah buntung. Ada waktu-waktu tertentu yang sudah pasti Anda prediksikan penjualan bakal anjlok karena sudah memasuki masa paceklik. Masa itu pasti selalu akan menghantui Anda. Solusi yang terbaik adalah melakukan evaluasi, apa yang salah dengan bisnis Anda dan bagaimana solusinya.

Artikel ini akan membahas beberapa cara yang dilakukan oleh sejumlah pengusaha dan terbukti berhasil ketika mereka berada di masa paceklik. Berikut rangkumannya:

Mengencangkan sabuk pengaman

Ben Maitland Lewis dari Pretty Instant mengatakan bulan Januari dan Agustus adalah masa paceklik bagi perusahaan. Bisnis selalu anjlok dan makin terasa ketika harus menggaji karyawan. Solusi yang ia lakukan pada saat itu adalah mempersiapkan masa paceklik tersebut untuk melakukan bisnis musiman dan menyesuaikan promosi yang sesuai dengan bujet.

Mengetahui siklus penjualan

Berbeda dengan Jules Taggart (Jules Taggart Marketing Strategy). Ketika masa paceklik tiba, kebetulan pada saat itu dia sedang cuti hamil. Bisa dipastikan ketika dia sedang cuti, penjualan pasti melamban selama beberapa bulan. Setelah dirinya kembali bekerja, dia mengambil alih seluruh penjualan karena dia sudah mengetahui kunci siklus penjualan.

Dari situ dia bisa memprediksi kapan seluruh usahanya bisa memancing klien baru berdatangan dan mendorong dirinya jadi lebih sabar.

Menguasai proses pengembangan bisnis

Christopher Rodgers dari Colorado SEO Pros bercerita bahwa perusahaannya tumbuh secara organik pada tiga tahun pertama. Kemudian mereka harus memformat ulang proses bisnis karena perusahaan kehilangan klien besar. Akhirnya mereka memilih untuk fokus berbisnis di segmen SEO, bayar iklan per klik, pemasaran email, dan media sosial.

“Kami sepenuhnya telah pulih dan sekarang memiliki saluran pengembangan bisnis berkelanjutan untuk perusahaan,” katanya.

Buat segmen niche

Ajmal Saleem dari Suprex Learning mengatakan bisnisnya itu berupa bimbingan, sehingga bisnisnya bersifat musiman. Tahun lalu, kompetitornya menciptakan kampanye besar yang mengeruk segmen bisnis Saleem dan hampir membuat dirinya gulung tikar.

Untungnya dia tidak melakukan hal tersebut. Malah dia memutuskan untuk pindah segmen bisnis yang lebih mengarah ke niche untuk menghindari persaingan besar. Pasalnya segmen niche yang dia pilih tidak memilki banyak pesaing. Menurutnya, sebaiknya tiap bisnis yang Anda jalani itu perlu memiliki segmen yang niche.

Minta banyak rujukan bisnis

Ben Walker dari Transcription Outsourcing menerangkan pihaknya memiliki masalah saat menggaet klien baru. Untuk mengatasi hal tersebut, dia meminta banyak rujukan lewat klien lama agar dapat merekomendasikan pekerjaan baru untuk mereka.

Strategi ini cukup berhasil karena sebelumnya perusahaan telah memprediksi masa paceklik lewat pengalaman sebelumnya. Pada saat itu perusahaan kehilangan 20% dari bisnis dibandingkan tahun sebelumnya dan mulai merencanakan untuk membalikkan keadaan tersebut bila terjadi lagi. Perencanaan seperti ini akan sangat baik untuk perusahaan pada masa depan.

Kembali ke cara lama

O Liam Wright dari True Interaction bercerita ketika Anda mencapai kesuksesan di level tertentu dan siap untuk ekspansi, reaksi otomatis yang muncul adalah mengasumsikan Anda pasti meraih kesuksesan. Anda tidak lagi membutuhkan “strategi lama” untuk dilakukan lagi.

Jika Anda memilih untuk re-invent, jangan lupa tinjau kembali apa saja strategi yang telah berhasil membuat Anda sampai ke jalan tersebut.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.