1. Startup

Dekonstruksi GovTech Edu, Unit Edtech Telkom untuk Mendukung Ekosistem Pendidikan Indonesia

Sebagai unit independen, GovTech Edu berada di bawah Direktorat Digital Business and Technology Telkom

Proses belajar berbasis teknologi merupakan tren yang, jika eksekusi dengan tepat, dapat memperbaiki akses dan kualitas proses belajar. Edukasi berbasis teknologi (edtech) tidak hanya mengubah media penyampaian dengan menggunakan perangkat teknologi belajar, tetapi juga memahami paradigma dan proses kognitif siswa untuk menjalankan model pembelajaran berbasis digital.

Pendekatan solusi edtech dan target penggunanya memang beragam. Dalam menyelesaikan isu ini di Indonesia, perlu pemetaan melalui riset mendalam agar menghasilkan teknologi yang tepat guna. Hal inilah yang dilakukan GovTech Edu saat pertama kali dirintis.

“Hasil riset ini kami jadikan sebagai landasan dalam menciptakan dan mengembangkan teknologi tepat guna. Teknologi yang diciptakan dan dikembangkan harus bersifat inklusif dan dengan skala yang besar karena target dari pengguna teknologi ini tidak hanya terbatas pada kriteria tertentu. Cakupannya sangat luas dan beragam,” ucap COO GovTech Edu Daniel Tumiwa kepada DailySocial.id.

Pengenalan solusi GovTech Edu

Apa itu GovTech Edu

GovTech Edu adalah unit independen yang dibentuk Telkom Indonesia untuk mengambil bagian dari tantangan besar yang ingin diselesaikan  Kemendikbudristek. GovTech Edu berada di bawah Direktorat Digital Business and Technology yang dipimpin Fajrin Rasyid, mantan President Bukalapak.

Tim GovTech kini berjumlah lebih dari 300 orang dengan pengalaman kerja di perusahaan teknologi dan multinasional. Mereka semua sepenuhnya bekerja secara online, mengingat dirintis pertama kali saat pandemi sedang hebat melanda. Jajaran petinggi GovTech Edu diisi tiga orang. Selain Daniel, ada Ibrahim Arief (CTO) dan Rangga Husnaprawira (CPO).

Berbeda dengan startup edtech pada umumnya, GovTech Edu memosisikan diri sebagai mitra Kemendikbudristek. GovTech Edu fokus mengembangkan teknologi untuk membantu pengelolaan sekolah dan peningkatan mutu pendidikan sesuai arah kebijakan Kemendikbudristek. Hal inilah yang menjadi pembeda eksklusif dibandingkan startup yang dibangun pihak swasta.

Kedua belah pihak melakukan riset untuk mendapatkan gambaran mengenai apa yang mendasari krisis pendidikan di Indonesia. Saat ini GovTech Edu masih fokus menciptakan solusi untuk Kemendikbudristek, dengan tujuan menciptakan inovasi yang tepat guna sehingga mendukung proses akselerasi transformasi pendidikan.

Output yang dihasilkan adalah area inovasi yang secara tata kelola bukan dirancang untuk kepentingan komersialisasi, melainkan untuk melayani masyarakat.

“Pembiayaan sepenuhnya dari Kemendikbudristek dengan menggunakan dana APBN,” ujar Daniel.

Seluruh karya pekerjaan ini sepenuhnya milik Kemendikbudristek. Telkom bertindak sebagai pihak yang menyediakan solusi secara menyeluruh. Solusi tersebut termasuk desain produk dan platform, pengembangan produk dan platform, mendukung proses transformasi digital dalam kementerian,  management project dan talenta digital yang sekarang berjumlah lebih dari 400 orang, dan pendalaman & pengembangan skema pendanaan dan organisasi yang ideal untuk pekerjaan sejenis.

Payung kebijakan Merdeka Belajar yang dikeluarkan kementerian merupakan terobosan dan solusi yang diharapkan membuka peluang bagi seluruh pemangku kepentingan, baik itu guru, murid, mahasiswa, dosen, agar dapat berpartisipasi aktif dan kompetitif dalam mengenyam pendidikan. Dua turunan dari kebijakan tersebut adalah hadirnya Kurikulum Merdeka dan platform Merdeka Mengajar yang diluncurkan pada Merdeka Belajar episode kelima belas.

Dalam membawa perubahan ini, guru punya peranan penting. Menteri Kemendikbudristek Nadiem Makarim menyampaikan, guru harus di-merdeka-kan, guru harus merdeka untuk mengajar, belajar, dan berkarya.

Jika guru memiliki kemampuan tersebut, GovTech Edu dapat mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan relevan untuk peserta didik.

“Hal inilah yang mendasari seluruh ekosistem teknologi pendidikan ini diciptakan dan dikembangkan. Agar guru dan seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem pendidikan saling terkoneksi satu sama lainnya, saling menginspirasi sehingga dapat berkembang bersama untuk mencapai tujuan transformasi pendidikan Indonesia.”

GovTech Edu

Tak hanya kementerian, GovTech Edu juga mengandeng berbagai mitra dalam berbagai inisiatif dengan beragam skala dan tujuan. Misalnya, mitra yang fokus pada pengayaan materi untuk platform Merdeka Mengajar dari berbagai penggiat pendidikan, NGO, dan edtech.

Contoh lainnya, mitra yang terlibat dalam penyusunan dan implementasi program-program kegiatan di luar kampus guna mendukung program Kampus Merdeka dan mitra lainnya yang berfokus pada penguatan SIPLah, dan AkunBelajar.id.

Daniel menuturkan, proses kerja sama dengan kementerian ini jadi tantangan yang dirasakan di awal. Misalnya, perbedaaan cara kerja yang harus mencocokkan antara cara kerja ala tim digital dengan pola kerja birokrat, dan sebaliknya. Kemitraan antara kedua belah pihak sejauh ini sudah berjalan selama dua tahun dan bekerja sama dengan beberapa direktorat jenderal.

Pada tahap awal GovTech Edu dianggap sebagai vendor, padahal sebenarnya adalah mitra. Seiring dengan peluncuran produk, fokus beralih pada performa dan hasil intervensi teknologinya, membuat segala sesuatu menjadi sangat selaras.

“Saat ini teknologi sudah menjadi bagian inti dari setiap perencanaan program di kementerian dan hal ini dapat dikatakan menjadi salah satu pembeda dari Kemendikbudristek dibandingkan institusi pemerintah lainnya.”

Produk GovTech Edu

CTO GovTech Edu Ibrahim Arief mengatakan, ada tantangan tersendiri bagi GovTech Edu saat mengembangkan produk yang tepat guna. Misalnya saat fase product design, harus memikirkan bagaimana produk dapat diterima dengan baik pengguna, langsung terasa manfaatnya, mudah digunakan, dan benar-benar membuat pekerjaan pengguna lebih baik.

Delighting our users adalah core philosophy kami. Dan semua aktivitas lainnya juga sejalan dengan filosofi yang berfokus pada pengguna. Kemudian tantangan lainnya adalah membangun infrastruktur cloud yang andal untuk menangani perubahan skala yang dibutuhkan setiap saat,” ucap Ibrahim, yang sebelumnya pernah bekerja di Bukalapak sebagai VP of Engineering.

Meski demikian, tantangan terbesar yang harus diselesaikan adalah menemukan teknologi terbaik yang bisa membantu memecahkan masalah yang dihadapi pemerintah dan masyarakat.

Siklus iterasi yang cepat antara Product Discovery, Product Development, dan Product Feedback yang sudah lazim dilakukan di industri digital adalah konsep yang baru bagi pemangku kepentingan di sisi pemerintah.

“Tapi seiring berjalannya waktu mereka [pemerintah] bisa berjalan seiring dengan semangat ini.”

Sejauh ini ada lima produk yang sudah dirintis GovTech Edu: Merdeka Mengajar; Rapor Pendidikan; ARKAS, SIPLah dan TanyaBos; AkunBelajar.id; dan Kampus Merdeka. Masing-masing produk menyasar kebutuhan berdasarkan masalah spesifik yang ingin dipecahkan.

GovTech Edu

Merdeka Mengajar adalah platform Learning Management System (LMS) yang membantu guru dalam mengajar sesuai kemampuan murid, mengakses materi pelatihan mandiri, membantu guru menginspirasi rekan sejawat dan terkoneksi dengan komunitas guru yang berlokasi di seluruh Indonesia.

“Kurang lebih sekitar enam bulan platform ini dirilis sudah memiliki 1,6 juta unduhan dengan rating 4.8 di Play Store. Juga memiliki 2,7 juta penguna aktif di situs dan aplikasi, serta menyediakan lebih dari 55 ribu konten di dalamnya.”

Kemudian, Rapor Pendidikan adalah dasbor tunggal yang membantu kepala sekolah dan guru mengidentifikasi, merefleksi, dan membenahi kualitas sekolah sesuai dengan kompilasi data hasil Asesmen Nasional, Data Pokok Pendidikan (Dapodik), Kompetensi Guru dan berbagai data terkait pendidikan lainnya yang diolah menjadi lebih dari 280 indikator.

Output yang dihasilkan dari produk ini adalah menyajikan data capaian murid (literasi dan numerasi), iklim keamanan sekolah, dan data lainnya. Sejak diluncurkan pada 1 April 2022, dalam empat bulan, Rapor Pendidikan telah terhubung dengan lebih dari 100 ribu satuan pendidikan dan 30 dinas pendidikan dna 475 dinas kabupaten/kota.

Berikutnya, ARKAS, SIPLah dan TanyaBos punya keterikatan satu sama lainnya karena dapat terintegrasi untuk memudahkan tata kelola, pengadaan barang, dan forum untuk berbagi informasi dan tanya jawab. ARKA adalah aplikasi tunggal tata kelola anggaran sekolah yang terintegrasi dengan data pusat dan regulasi terkini, sehingga membantu Satdik dalam proses administrasi yang lebih cepat, nyaman, dan aman.

SIPLah adalah platform pengadaan yang terintegrasi dengan mitra e-commerce dan puluhan ribu penyedia barang dan jasa. Para vendor ini telah memenuhi peraturan keuangan terkini karena sudah melengkapi dirinya dengan fitur regulasi pajak terbaru yang membua pelaporan satuan didik jadi lebih mudah. Terakhir, TanyaBos adalah forum tanya jawab seputar penggunaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Setidaknya ada 3 ribu topik dalam forum tersebut.

AkunBelajar adalah akun resmi untuk akses berbagai program dan teknologi yang dibuat oleh Kemendikbudristek dan platform eksternal yang mendukung proses belajar mengajar yang lebih baik. Sebanyak 9 juta akun murid, guru, kepala sekolah, dan operator sekolah teraktivasi di dalamnya.

Terakhir, di tingkat lanjutan tersedia Kampus Merdeka untuk membantu persiapan karir bagi mahasiswa melalui berbagai pengalaman di luar kampus, menyediakan akses ke ribuan mitra industri dan organisasi, dan kesempatan mengembangkan diri dan pertukaran budaya. Saat ini terdapat lebih dari 720 ribu mahasiswa teregistrasi, 2.655 perguruan tinggi berpartisipasi, dan 2.700 mitra industri mengambil bagian dalam program tersebut.

Angka-angka di atas bakal terus didorong demi mencapai titik critical mass. Critical mass menggambarkan bahwa dalam konsep konsumsi kolaboratif sebuah platform harus mampu memberikan beragam pilihan yang cukup demi merangkul konsumen potensial mereka. Sehingga sebuah platform diharapkan memiliki fitur yang beragam serta memiliki ketersediaan unit produk/layanan yang cukup agar dapat bertahan dalam jangka panjang. Jika platform tersebut tidak dapat memberikan pilihan yang cukup, maka konsumen kemungkinan besar tidak dapat menemukan apa yang mereka cari.

Pasalnya, istilah "ganti menteri, ganti peraturan" memiliki pengaruh yang kuat dalam suatu program kerja pemerintah Indonesia. Risiko itu juga bakal menghantui GovTech Edu. Dengan kata lain, GovTech Edu harus mencapai pertumbuhan pengguna yang signifiikan agar dapat memberikan dampak yang lebih besar. Namun begitu, struktur di bawah naungan Telkom Group menjadi jaminan bahwa ambisi tersebut dapat tetap dilanjutkan, didukung dengan model bisnis yang solid.

Perjalanan GovTech Edu tidak sampai di sini saja. Perusahaan tetap merekrut lebih banyak talenta baru untuk berkontribusi secara positif pada pendidikan Indonesia. “Kesempatan untuk berkontribusi meningkatkan produk-produk teknologi yang sudah terbukti memiliki jutaan pengguna aktif yang bisa membentuk masa depan pendidikan Indonesia juga menjadi daya tarik bagi talenta-talenta yang memiliki keselarasan dengan misi kami.” tandas Ibrahim.

Ekosistem edtech Indonesia

Sektor edtech di Indonesia cukup berkembang pesat. Dua pemain yang saat ini mendominasi adalah Ruangguru dan Zenius – secara statistik kunjungan situs dan unduhan aplikasi Ruangguru lebih unggul. Varian sub-produk yang dimiliki keduanya juga nyaris memiliki kesamaan.

Satu hal yang selalu digaungkan Zenius adalah di sisi materi. Alih-alih mengajak peserta didik hanya menghafal, materi di Zenius mengedepankan pada pemahaman konsep fundamental dan cara berpikir kritis melalui berbagai studi kasus.

Produk Ruangguru

Pendanaan di sektor ini juga cukup kencang. Berdasarkan laporan Startup Report 2021, pendanaan yang dikucurkan ke vertikal bisnis edtech terus tumbuh, baik dari startup yang menerima maupun nominal investasinya.

Di skala regional, menurut laporan e-Conomy SEA yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company, healthtech dan edtech tetap menjadi sektor yang baru lahir sejak pandemi. Tercatat startup healthtech menerima investasi $1,1 miliar pada Semester 1 2021, sementara edtech mengumpulkan $200 juta pada periode yang sama.

Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter
Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again