Berita-berita tahun lalu nampaknya kembali mencuri perhatian. Jejaring sosial Islami Salam World mengumumkan kehadirannya secara resmi akhir tahun ini. Seperti dikemukakan oleh Brand Manager Salam World, Erol Toksoy seperti dikutip dari Kompas, Salam World bakal diluncurkan di Indonesia dan negara-negara lainnya di bulan November. Saat ini Salam World versi beta diklaim tengah diuji coba oleh seribu orang di seluruh dunia.

Jadi apa beda Salam World dan jejaring sosial mainstream seperti Facebook dan Twitter? Seperti dikemukakan oleh Erol, Salam World bakal fokus terhadap komunitas-komunitas, misalnya komunitas arsitek, komunitas penggemar mobil, komunitas pengusaha dan lain sebagainya. Nah, konsep Islami di sini lebih ke arah preventif terhadap konten-konten yang tidak pantas, misalnya muatan seks dan obat-obatan terlarang sehingga aman bagi keluarga dan anak-anak.

Pengguna Salam World dibatasi dengan usia minimal 15 tahun, di mana konten-konten di Salam World nantinya juga bisa dibagi ke jejaring sosial lain, seperti Facebook dan Twitter. Belum jelas apakah ada muatan Islami tertentu, yang berkaitan ajaran agama, yang diimplementasikan di situs ini.

Apakah terbuka kesempatan bagi umat non Muslim untuk bergabung dengan jejaring sosial ini? Erol mengatakan bahwa umat non muslim  boleh menjadi pengguna, asalkan tetap menghargai nilai-nilai Islami. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia tentunya menjadi target utama Salam World. Salam World menargetkan untuk memiliki 300 juta pengguna dalam tiga tahun ke depan. Jumlah yang saat ini bahkan mungkin belum dicapai oleh Twitter.

Saya sempat mengemukakan skeptisisme soal pendirian Salam World ini. Berdasarkan jabaran tentang Salam World ini, tidak tampak ada tonjolan nuansa ajaran agama yang diunggulkan untuk memberi manfaat bagi penggunanya secara langsung. Berusaha bermain “aman”, yang diusung oleh Salam World adalah nilai-nilai normatif dan komunitas, sesuatu yang sebenarnya bisa ditemui di jejaring sosial lainnya. Sampai sekarang pun jika kita berkunjung ke situs Salam World, belum tampak sesuatu yang menjanjikan sebagai suatu jejaring sosial yang revolusioner.

Wajar saja Indonesia merupakan target utama dengan jumlah penduduk Muslim mencapai lebih dari 180 juta. Toh, baru sedikit yang sudah terhubung melalui jejaring sosial. Bisa saja embel-embel Islami bakal menarik minat orang-orang yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan social media. Tapi itu semua baru sekedar spekulasi. Apakah Salam World nantinya bisa mencapai target pasar yang diinginkan, itu masih akan kita lihat.

[sumber gambar: Flickr/tdayal]

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.