Bisnis e-commerce di Indonesia memang menggiurkan. Selain banyak sekali potensi dari sisi konsumen secara umum, masih besar juga kesempatan yang ada dari beragamnya pasar niche yang masih bisa dieksplorasi. Salah satu yang coba mengeksplorasi peluang tersebut adalah Prelo. Startup hasil pivotKleora ini berusaha bersaing untuk sukses di sektor niche barang pre-loved, atau barang tangan kedua.

Salah satu semangat yang diusung oleh Prelo adalah memerangi peredaran barang palsu. Minimal dari layanan yang mereka kembangkan, Prelo memastikan bahwa barang-barang yang ada di sistem mereka merupakan barang asli yang berkualitas.

Founder Prelo Fransiska Hadiwidjana menyebutkan pihaknya memiliki mekanisme tersendiri untuk memastikan kualitas barang yang mereka sajikan. Kurasi sendiri dilakukan oleh tim internal Prelo dengan membandingkan dengan barang sejenis di domain publik.

Fransiska menjelaskan:

“Proses kurasi barang di Prelo dilakukan oleh tim internal, dengan membandingkan barang yang diunggah dengan barang serupa di public domain, berdasarkan keterangan barang berupa merek, model, dsb. Proses ini dilakukan secara semi-otomatis, yang melibatkan kurasi. Pengetahuan terkait barang-barang KW dan tidak ini sendiri juga terus diperkaya melalui dialog dengan komunitas barang tersebut, misalnya dengan komunitas sneakers seperti Converse, di mana mereka memberikan instruksi lebih lanjut terkait pengecekan yang perlu dilakukan untuk membedakan barang autentik dengan barang KW.”

Selain itu, Prelo juga memberikan insentif pada pengguna untuk mengunggah barang autentik (via pemberian batch The Authentic Club) dan juga untuk melaporkan barang apabila ditemukan kecurigaan, via fungsi report dan juga pemberian badge The Inspector.

Prelo lebih siap

Sejak dimulai pada tahun 2015, startup yang berasal dari Bandung ini tercatat telah memfasilitasi transaksi senilai lebih dari 1 juta dolar AS. Kini Prelo yang menurut data internal telah memiliki puluhan ribu pengguna aktif setiap bulannya dan memiliki 200.000 produk yang tersedia dalam platform.

“Dari segi ide, Prelo sama baiknya dengan Kleora. Namun perbedaan terbesar terletak pada faktor eksekusinya. Kleora dibangun dengan terburu-buru, sehingga menyebabkan banyak permasalahan teknis. Sebaliknya, Prelo dibangun dengan fondasi yang solid. Sehingga, menambahkan fitur baru bukanlah hal yang sulit. Setiap produk dikurasi dengan cermat dan memiliki kualitas yang tinggi. Bagaimana pun juga, ideas are cheap and execution is hard,” jelasnya.

Fransiska juga menjelaskan bahwa Prelo memiliki tujuan untuk bisa menyediakan tempat jual beli barang bekas yang berkualitas. Di tahun 2017 ini Prelo memiliki target untuk bisa memperbesar basis penggunanya di samping itu Prelo juga fokus pada branding dan marketing.

“Banyak strategi yang Prelo terapkan untuk mendapatkan pengguna sesuai dengan target market-nya, baik online dan offline. Untuk online, beberapa strategi misalnya melalui fitur kode referral di mana user dapat mengundang user lain untuk mendapat bonus, untuk offline misalnya melalui berbagai kegiatan komunitas,” pungkas Fransiska.

Application Information Will Show Up Here