Kemajuan pesat teknologi komputer menjadi suatu keniscayaan. Teknologi telah menjadi bagian dari kebutuhan primer yang dapat merangkul semua aspek kehidupan manusia. Rasa ketergantungan manusia terhadap teknologi pun akhirnya jadi tidak bisa dipisahkan.

Atas latar belakang tersebut, para akademisi dan praktisi di bidang Human Computer Interaction (HCI) yang bernaung ke dalam CHI UX Indonesia kembali menggelar konferensi skala global, CHIuXID 2017. Acara ini menjadi wadah bagi para peserta untuk saling belajar, mendalami permasalahan, dan mencari solusinya.

Tema konferensi yang dipilih untuk tahun ini adalah “Experience Design for All”. Alasannya, pihak penyelenggara ingin memperluas penggunaan HCI dan UX demi membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi masyarakat, bagaimana cara menghasilkan user experience yang baik dalam hubungan interaksi antara manusia dengan komputer.

Rangkaian acara CHIuXID 2017 diisi dengan workshop, business stories, design challenges, dan presentasi. Pihak penyelenggara menghadirkan berbagai pembicara dari lokal maupun internasional untuk berbagi mengenai HCI dan UX, di antaranya Henky Prihatna (Google Indonesia), Vishnu K Mahmud (Ogilvy Public Relations Indonesia), Allison Druin (US National Park Service), Sophian Jones (Google), Youn Kyoung Lim (KAIST), dan lainnya.

“Tema kami sesuaikan dengan perkembangan, saat ini banyak yang mengira hubungan UX itu hanya UI saja. Padahal tidak demikian, UX itu ada hubungannya dengan HCI. Dengan UX yang tepat, maka produk yang dibuat industri kreatif bisa tepat sasaran sesuai target konsumen mereka. Penggunaan UX juga tidak eksklusif, semua orang bisa mengembangkannya. Makanya kami usung tema Experience Designs for All,” terang CEO dan Founder UX Indonesia Eunice Sari, Kamis (13/4).

Vishnu K Mahmud dari Ogilvy Public Relations Indonesia menambahkan, “Saya bersemangat menjadi mentor dalam acara ini karena menampilkan specialist UX dan UI untuk Indonesia di masa mendatang. Lewat upaya dari multi industri akan mendorong munculnya generasi UX berikutnya yang lebih spesialis menguasai bisnis, mengembangkan, dan menciptakan solusi kelas dunia.”

Youn Kyoung Lim dari KAIST, Korea Selatan juga sependapat. Menurut Lim, dirinya akan belajar dengan para peserta lokal untuk mendalami permasalahan yang mereka hadapi. Dia berharap informasi mengenai teknologi pemanfaatan UX yang sudah diterapkan di Korea Selatan dapat memicu timbulnya ide baru untuk masyarakat Indonesia.

Talenta Indonesia kreatif namun takut gagal

Direktur dan Co-Founder UX Indonesia Adi Tedjasaputra menambahkan bila membandingkan kualitas UX yang dibuat talenta lokal dengan luar negeri rupanya tidak memiliki perbedaan jauh. Keduanya sama-sama memiliki keahlian yang mumpuni dan cukup kreatif untuk dipekerjakan.

Hanya saja, dari sisi pola pikirnya, talenta lokal cenderung lebih senang cari aman dan bergerak secara linear. Sedangkan, talenta luar negeri senang eksperimen tanpa takut mengalami kegagalan.

“Pola kerja seperti ini harus diubah, manusia itu boleh gagal dan belajar dari kesalahannya tersebut. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di tingkat pelajar saja, tapi juga di profesional. Banyak dari mereka yang takut gagal karena tingkat persaingan yang ketat,” ucap Adi.

Adi berharap, dengan turut bergabungnya peserta dari berbagai kalangan dalam acara konferensi ini dapat menjadi bahan latihan agar mereka dapat lebih menerima kegagalan dan belajar dari kesalahan. Kegiatan ini dihadirkan dalam salah satu acara dalam CHIuXID, yakni design challenge.

Design challenge memberi kesempatan bagi peserta untuk unjuk gigi dalam keterampilan desain HCI dan UX, dengan menciptakan prototipe dan memberi simulasi untuk setiap masalah yang telah ditetapkan.

“Dari kegiatan tersebut, kami berharap peserta bisa mempelajari bahwa setiap hal itu ada proses belajarnya, tidak selalu harus benar, ada kesalahan yang bisa dipelajari. Dengan demikian, talenta lokal dapat lebih berkualitas dalam setiap pekerjaan yang dilakukan,” pungkas Adi.


Disclosure: DailySocial adalah media partner Konferensi CHIuXID ke-4