Kumpulan 17 Perusahaan E-commerce Indonesia yang Gagal Eksis Sejak Era 2000-an

Kumpulan 17 Perusahaan E-commerce Indonesia yang Gagal Eksis Sejak Era 2000-an

Industri e-commerce kita terlihat sangat prospektif, tapi tidak semua pemain di dalamnya berhasil memanen keuntungan
Beberapa layanan e-commerce Indonesia yang akhirnya tidak melanjutkan debut / Unsplash
Beberapa layanan e-commerce Indonesia yang akhirnya tidak melanjutkan debut / Unsplash

Menurut data Google-Temasek, penduduk “internet” di Indonesia berjumlah sekitar 150 juta orang. Infrastruktur internet juga sudah menjangkau daerah-daerah yang jauh dari perkotaan. Banyak perusahaan bisnis melihat dua hal ini sebagai bekal untuk menumbuhkan industri e-commerce.

Kemudian mereka dengan percaya diri ambil bagian di dalam industri. Tapi panggang ternyata jauh dari api. Peruntungan sejumlah perusahaan tidak sebaik yang dibayangkan hingga kemudian terpaksa menghentikan kegiatannya.

Baru-baru ini platform e-marketplace khusus kerajinan tangan bernama Qlapa menutup layanan operasinya setelah aktif hampir 4 tahun di industri e-commerce tanah air. Qlapa bukanlah yang pertama keluar dari industri jual beli berbasis internet ini. Sejatinya ada banyak perusahaan yang lebih dulu gugur di ranah e-commerce Indonesia. Melalui artikel ini, tim iPrice merangkum perusahaan e-commerce yang gagal bersinar sejak era 2000-an hingga saat ini.

Multiply

Di periode 2008-2010, Multiply mampu menjadi jejaring media sosial yang sangat populer di Indonesia. Dengan aktivitas pengguna yang cukup intens itu, Multiply mencoba mengaplikasikan strategi bisnis e-commerce dalam situsnya. Terlebih, Naspers yang menjadi investor utama Multiply ingin mengembangkan industri e-commerce di Indonesia.

Platform marketplace bernama Multiply Commerce pun dirilis pada tahun 2011. Untuk menunjukkan komitmen pada pengembangan e-commerce, Multiply turut memindahkan kantornya dari Florida ke Jakarta. Sayangnya, perubahan strategi bisnis menjadi platform marketplace ini tidak membawa keuntungan berarti.

Salah satu penyebabnya karena pihak Multiply tidak mampu merespons masalah-masalah yang muncul di kalangan pengguna dalam transisi model bisnis jejaring sosial ke e-commerce. Hingga kemudian Naspers menghentikan keseluruhan investasi di Multiply dan beralih ke Tokobagus. Multiply mau tak mau menutup operasionalnya pada tahun 2013.

Tokobagus

Tokobagus adalah situs jual beli yang awalnya menggunakan konsep iklan baris jenis consumerto consumer (C2C). Artinya, setiap pengguna bisa dengan langsung mengunggah postingan jualan ataupun pencarian barang. Mulai beroperasi pada tahun 2005, situs jual beli online ini merupakan salah satu pionir industri e-commerce di Indonesia.

Tahun 2010 situs ini mendapat investasi dari Naspers yang pada saat bersamaan memiliki situs jual beli di pasar global bernama OLX. Tahun 2013 menjadi momen keemasan Tokobagus. Dilansir dari e27.co ada 1 miliar pengunjung per hari di situs itu. Pencapaian ini membuat Tokobagus masuk sebagai salah satu dari lima situs iklan baris terbesar di dunia.

Karena pencapaian gemilang ini pula, Tokobagus akhirnya diakusisi sepenuhnya oleh Naspers dan berganti nama menjadi OLX Indonesia pada tahun 2014. Namun kepopuleran OLX di Indonesia tidak seperti ketika bernama Tokobagus. Situs ini kalah saing dengan platform e-commerce lokal yang muncul belakangan, seperti Bukalapak, Tokopedia, ataupun Blibli.

Rakuten

Rakuten resmi hadir di industri e-commerce Indonesia pada tahun 2011 dengan menggandeng MNC Group sebagai mitra bisnis lokal alias joint venture. Menurut catatan DailySocial, Rakuten memiliki 51% saham, sedangkan MNC Group mendapat 49% saham. Total investasi awal kedua belah pihak adalah sekitar Rp60 miliar.

Aktivitas Rakuten di industri e-commerce lokal ternyata hanya berlangsung 5 tahun. Perusahaan asal Jepang ini menghentikan aktivitasnya di Indonesia pada tahun 2016. Dilansir dari Reuters, penarikan diri Rakuten dari pasar lokal tanah air karena adanya pergeseran model bisnis yang tidak sesuai dengan konsep awal. Perusahaan e-commerce itu ingin lebih fokus pada model bisnis C2C.

Plasa.com

Plasa.com mulai fokus dalam bidang e-commerce sejak tahun 2010 setelah sebelumnya beroperasi sebagai layanan webmail. Pendanaan portal belanja ini diinisiasi pemerintah melalui perusahaan BUMN Telkom. Setahun kemudian, Plasa.com mengumumkan kerjasamanya dengan eBay. Dengan kerjasama ini, produk yang dijual di Plasa.com dapat muncul di situs eBay untuk kemudian bisa dikenal lebih luas oleh konsumen global. Tapi di tahun 2014 eBay membeli 40% saham Plasa.com dan diikuti perubahan nama menjadi Blanja.com.

Shopo

Shopo adalah perusahaan e-commerce yang memfokuskan bisnis pada produk kerajinan. Perusahaan ini memulai aktivitas pada tahun 2013 dengan dukungan pendanaan dari perusahaan besar India bernama Snapdeal.

Dilansir dari Okezone, Snapdeal sempat menyuntikkan dana US$100 juta pada Shopo tahun 2015. Namun investasi ini tidak berbuah signifikan karena model bisnis C2C yang diusung Shopo kurang mendapat respons positif dari pasar. Akhirnya perusahaan ini menghentikan sepenuhnya aktivitas di industri e-commerce pada tahun 2017.

Valadoo

Valadoo adalah situs e-commerce khusus perjalanan wisata yang didirikan pada tahun 2010. Ketika perusahaan ini muncul, industri e-commerce khusus travel masih sepi pemain. Dua tahun berlalu, Valadoo berhasil mendapat pendanaan tahap awal dari perusahaan serupa asal Singapura yang bernama Wego.

Meski sudah mendapat seed funding, Valadoo ternyata belum mampu membuat arah bisnis yang jelas. Karena itu, perusahaan ini akhirnya memutuskan meleburkan diri dengan Burufly yang juga mendapat pendanaan dari Wego. Tapi akhirnya pada tahun 2015, Valadoo menyatakan menutup seluruh layanannya karena perbedaan kultur dan model bisnis.

Scallope

Scallope adalah portal e-commerce yang menyediakan beragam produk fashion dari desainer muda ternama Indonesia. Dilansir DailySocial, perusahaan ini berdiri pada tahun 2012 dan dimodali oleh Suitmedia Group. Pada masa itu, Suitmedia Group juga membawahi Bukalapak dan Hijup.

Namun, pada perkembangannya Scallope kalah saing dengan perusahaan e-commerce lain yang juga fokus di bidang fashion. Terlebih, Suitmedia Group melihat posisi Hijup lebih potensial dibandingkan Scallope. Akhirnya Suitmedia Group melakukan perampingan dengan menutup Scallope pada tahun 2016.

Paraplou

Paraplou adalah situs e-commerce khusus fashion yang didirikan pada tahun 2011. Perusahaan ini sempat mendapat investasi Seri A sebesar US$1,5 dari Majuven, sebuah venture capital asal Singapura.

Pada tahun 2015 Paraplou mengumumkan bahwa perusahaan itu tutup. Dalam catatan Tech in Asia, faktor seperti pasar yang belum terbentuk, kondisi keuangan yang tidak menentu, dan kesulitan mendapat dana berkesinambungan membuat Paraplou terpaksa keluar dari bisnis e-commerce.

Cipika

Cipika dibesut oleh Indosat Ooredo sejak tahun 2014. Situs e-commerce ini menganut model bisnis business to consumer (B2C) dengan produk unggulan pada kategori elektronik dan makanan.

Namun Cipika tidak bertahan lama karena perkembangan model B2C yang kala itu dianggap lambat. Indosat Ooredo resmi menutup layanan Cipika pada tahun 2017.

Lolalola

Lolalola diluncurkan pada tahun 2015 sebagai situs e-commerce yang menyasar produk pakaian dalam khusus perempuan. Pendanaan Lolalola didapat dari Ardent Ventures yang berasal dari Thailand. Sayangnya, perusahaan yang hadir untuk pangsa pasar spesifik ini terpaksa berhenti beroperasi pada tahun 2017.

Kleora

Awalnya Kleora hadir untuk mengakomodir kebutuhan belanja produk khusus wanita. Perusahaan ini sempat mendapatkan pendanaan dari Rebright Partner dan angle investor. Tapi karena tidak mampu menggaet antusiasme pasar, Kleora akhirnya bertransformasi menjadi e-commerce khusus jual beli barang bekas yang dinamai Prelo sejak tahun 2015.

Beautytreats

Beautytreats adalah situs jualan daring produk kecantikan yang beroperasi sejak tahun 2013. Dalam catatan DailySocial, perusahaan ini mampu mengirimkan 3000 produk kecantikan dalam kurun 6 bulan sejak beroperasi. Beautytreats juga berhasil menjaring 8000 anggota dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun perusahaan ini tidak berumur panjang. Pada tahun 2015 Beautytreats resmi berhenti beroperasi.

Lamido

Lamido didirikan pada tahun 2013 oleh perusahaan inkubator Rocket Internet yang juga membesarkan Lazada. Situs e-commerce tipe customer to customer (C2C) ini berfokus kepada penjual menengah ke bawah yang mendistribusikan barang dagangan melalu jejaring media sosial seperti Facebook atau Instagram.

Jenis produk yang umum ada di Lamido meliputi kategori elektronik dan fashion. Tapi pada realitanya, wadah marketplace dihadirkan Lamido kalah populer dibandingkan perusahaan e-commerce lokal seperti Bukalapak dan Tokopedia yang sama-sama berkonsep C2C kala itu. Terlebih Rocket Internet melihat posisi Lamido dan Lazada saling tumpeng tindih di market lokal. Karenanya, Rocket Internet memilih meleburkan Lamido dengan Lazada pada tahun 2015.

Berniaga.com

Berniaga.com adalah situs iklan baris yang fokus melakukan bisnis customer to customer (C2C). Dalam catatan Kompas.com, situs ini beroperasi pertama kali pada tahun 2009 dengan dukungan pendanaan dari 701 Search Pte Ltd yang dimiliki oleh perusahaan hasil kolaborasi antara Singapore Press Holdings (SPH) dan Schibsted Classified Media (SCM). Berniaga.com pada tahun 2014 nyatanya diakusisi OLX Indonesia karena konsep bisnis yang sama. Dilansir CNN Indonesia, saat itu perusahan induk OLX ingin mereknya menjadi penguasa tunggal di pasar Indonesia.

Sedapur

Sedapur adalah platform marketplace yang berfokus pada produk-produk kuliner. Perusahaan ini berdiri pada tahun 2011 dan disokong oleh incubator Nokia Enterpreneurship dengan modal Rp200 juta. Namun Sedapur tidak mampu beroperasi lama. Pada tahun 2013 perusahaan ini menutup operasionalnya karena strategi bisnis yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Soegianto Widjaja yang kala itu menjabat sebagai CEO Sedapur mengakui bahwa strategi perusahaannya hanya berfokus pada merchant dan tidak memprioritaskan pembeli. Di samping itu, kegagalan mendapat pendanaan baru turut mempersulit Sedapur untuk bertahan di industri e-commerce.

MatahariMall.com

MatahariMall.com resmi beroperasi pada tahun 2015 sebagai anak perusahaan Lippo Group. Investasi sekitar US$500 juta menjadi modal awal operasionalnya. Situs e-commerce ini mengadopsi model bisnis online to online dan offline to offline (O2O) yang memungkinkan pembeli untuk bertransaksi di berbagai cabang toko fisik Matahari Departement Store. Konsep bisnis ini terinspirasi dari Walmart yang juga lebih dulu menggunakan O2O.

Namun pada tahun 2018, MatahariMall.com meleburkan diri ke dalam unit bisnis daring utama Matahari Departement Store, yakni Matahari.com. Dilansir dari Bisnis.com, langkah peleburan ini bertujuan untuk menjadikan Matahari.com sebagai kanal tunggal belanja daring dari perusahaan Matahari.

Qlapa

Qlapa adalah platform daring untuk berjualan produk kerajinan tangan yang mulai beroperasi sejak tahun 2015. Perusahaan ini sempat mendapat investasi Seri A dari perusahaan bernama Aavishkaar asal India.

Namun pada awal tahun 2019, Qlapa mengumumkan penghentian operasionalnya secara menyeluruh. Dalam keterangan pers Qlapa, perusahaan ini berhenti beroperasi karena alasan bisnis yang dinilai tidak menguntungkan dan berkelanjutan.

***

Artikel ini digarap oleh tim iPrice Indonesia. Secara berkala, iPrice merilis laporan mendalam mengenai e-commerce, startup, dan topik terkait lain di industri ini.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Feature
Artikel Populer
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…