Kegiatan kampus yang notabenenya diadakan oleh mahasiswa, seringkali membutuhkan biaya yang tidak sedikit agar acara yang diselenggarakan bisa berjalan sukses. Seringkali pihak kampus tentunya memiliki bujet terbatas untuk mengakomodir seluruh biaya tersebut. Alternatifnya, mahasiswa harus turun ke jalan mencari tambahan biaya, termasuk mencari sponsorship.

Mencari sponsorship menjadi pekerjaan yang cukup menyita waktu dan tenaga, sebab mahasiswa harus mengajukan mengirim proposal secara manual ke tiap perusahaan. Proposal yang dikirim belum tentu langsung mendapat konfirmasi dari pihak perusahaan karena ada sejumlah prosedur yang harus dipenuhi. Kesulitan seperti ini dialami oleh banyak komunitas kampus di Indonesia dari zaman dulu hingga saat ini.

Hal inilah yang ingin Mandala coba selesaikan. Mandala mencoba untuk menyediakan sebuah layanan platform online untuk membantu komunitas kampus untuk mencari sponsorship ke berbagai perusahaan serta jasa lain yang dapat diberikan kepada pihak sponsor atau komunitas kampus di Indonesia.

“Awalnya, saya dan teman-teman co-founder memang dulunya sempat aktif di berbagai komunitas dan kegiatan kampus, saat itu kami pernah sama-sama merasa kesulitan saat mencari sponsorship. Lalu setelah kami coba validasi, ternyata masalah ini dihadapi oleh banyak komunitas kampus sejak dulu. Dari situ lahirlah ide Mandala,” kata CEO Mandala Erdy Suryadarma kepada DailySocial.

Proses registrasi untuk komunitas dan sponsor

Founder Mandala

Erdy melanjutkan layanan Mandala terbuka untuk seluruh kampus/perguruan tinggi yang terdaftar secara resmi di Indonesia, juga terbuka untuk perusahaan/lembaga yang memiliki badan hukum dan berkedudukan di Indonesia. Untuk komunitas kampus yang ingin bergabung, mereka harus melakukan registrasi awal lewat laman Mandala.

Setelah itu, mereka harus mengisi beberapa data profil standar untuk nantinya diverifikasi oleh Mandala. Untuk pengajuan sponsorship, komunitas dipersilahkan untuk mengunggah proposal dan mengisi data yang diminta form dalam sistem Mandala.

Jika semua data sudah terisi secara otomatis proposal akan dapat dilihat oleh berbagai calon sponsor. Apabila nantinya ada sponsor yang tertarik, mereka akan memberi notifikasi ke komunitas kampus tersebut untuk selanjutnya dilakukan negosiasi dalam sistem. Setelah ada kesepakatan, nanti akan dibuat MoU terkait dengan hal-hal yang sudah disepakati.

“Proses akan diakhiri ketika komunitas kampus sudah mengisi form report kegiatan dan sponsor sudah memberikan sponsorshipnya.”

Akan tetapi, pihak Mandala tidak bisa memberikan jaminan terkait berapa lama sebuah proposal bisa didanai pihak sponsor. Sebab hal tersebut kembali pada kualitas proposal yang diajukan dan ketertarikan/minat dari calon sponsor.

Saat ini Mandala belum secara resmi diumumkan. Erdy mengaku kalau pihaknya masih melakukan proses sosialisasi kepada user. Targetnya Mandala meluncur secara resmi di Mei 2017 mendatang. Dari situ, pihaknya berharap dapat terjalin kolaborasi yang baik antara komunitas kampus dan perusahaan-perusahaan selaku sponsor.

Sebab hal ini bisa berdampak pada kualitas kegiatan kampus akan semakin baik dan memberi manfaat yang lebih besar lagi kedepannya.

Target bisnis Mandala

Untuk proses monetisasi Mandala, Erdy menerangkan bahwa pihaknya akan menggunakan sistem convenience fee, yakni biaya tambahan yang dikenakan kepada sponsor untuk setiap sponsorship yang terjadi di Mandala.

“Namun untuk fase awal ini, kami memberikan penawaran khusus terkait besaran biayanya.”

Terkait peluncuran aplikasi mobile, Erdy mengaku kalau pihaknya masih terus berencana untuk memperbaiki sistem web-app. Sehingga rencana meluncurkan aplikasi belum ada dalam pipeline. Pasalnya, menurut dia, Mandala memiliki rencana ingin semua aktivitas akan melalui dashboard web-app yang dapat memberikan push notification kepada pengguna.

Sampai akhir tahun ini, Erdy menargetkan ingin menjaring 1.000 komunitas kampus dari seluruh Indonesia, 200 perusahaan sponsor,dan 1.000 proposal yang di-submit dalam sistem Mandala.