Bersikap tegas dalam lingkungan kerja adalah bakat yang tidak bisa dikuasai oleh banyak orang, sebab ketegasan memiliki garis yang sangat tipis antara rasa ingin mendorong atau menuntut ketika rekan kerja Anda tidak mendengarkan arahan dari Anda.

Agar dapat membedakan dua sikap tersebut, lebih baik Anda pelajari lagi definisi dari keduanya. Bersikap tegas berarti Anda menyatakan pendapatan dengan cara yang tenang dan santai, sekaligus menjaga pintu tetap terbuka untuk oposisi dan diskusi. Fokus utama di sini adalah tidak peka terhadap pemikiran orang lain, sementara Anda juga memastikan pemikiran Anda sendiri terwakili dengan jelas.

Bersikap tegas memberikan dampak komunikasi yang sehat, mendorong rekan kerja untuk berpartisipasi. Di sisi lain, bersikap agresif yang cenderung menuntut berdampak pendapat jadi tetap terdengar juga, namun sangat nyaring sehingga membuat orang lain jadi merasa terancam untuk diacuhkan.

Tidak ada kesepakatan atau diskusi bersama ketika Anda bersikap menuntut, sebab pendapat orang lain Anda abaikan sama sekali. Tentunya, ini akan menyebabkan lingkungan kerja jadi tidak sehat karena hubungan kerja jadi canggung dan tidak mudah percaya.

Lalu, Anda pun juga mengambil keuntungan mengingat posisi Anda adalah tertinggi dengan “memaksa” rekan kerja untuk sepakat dengan pendapat Anda. Apakah sikap seperti ini akan membantu Anda dalam jangka panjang? Jawabannya tentu saja tidak.

Artikel ini akan lebih jauh membahas cara apa saja yang perlu dilakukan seorang pemimpin yang tegas tanpa perlu menuntut.

Banyak mendengar

Menjadi pendengar yang baik adalah sifat penting yang perlu dikuasai oleh setiap pemimpin. Biarkan tim Anda tahu bahwa mereka memiliki suara dan menyadari suara mereka penting bagi perusahaan, namun pastikan Anda tidak membiarkan suara Anda sendiri tidak tenggelam.

Untuk itu lakukanlah sesi brainstorming secara berkala, saat Anda duduk bersama tim dan mencoba untuk menangkis gagasan pro dan kontra yang muncul di sana. Langkah ini tidak hanya memberi Anda kesempatan untuk berbagi pemikiran dan pendapat sendiri, tapi membiarkan tim mengetahui bahwa pendapat mereka itu ternyata dipertimbangkan oleh Anda.

Mengajukan permintaan

Langkah kedua, bagaimana Anda mendekati tim kerja ketika ingin membicarakan tugas yang harus mereka selesaikan. Lalu bagaimana sikap seperti apa yang bisa mengkategorikan Anda sebagai atasan yang tegas atau banyak menuntut?.

Untuk menjawab ini, Anda disarankan untuk mengajukan permintaan. Misalnya, bertanya “Apakah kamu bisa selesaikan tugas ini sampai Jumat?” dan tunggu respon dari mereka. Jika mereka menerima tugas tersebut, maka tugas Anda berikutnya adalah memonitor kemajuan mereka dari waktu ke waktu.

Jika mereka mengatakan tidak, tanyakan apa alasannya dan coba cari cara untuk menyelesaikannya tepat waktu. Mungkin bentuk kalimat pertanyaan yang bisa Anda lemparkan kepada tim bisa seperti ini, “Kita harus selesaikan tugas sampai Jumat pekan ini. Saya tahu ini sulit, namun adakah cara untuk melakukannya?”.

Lemparkan pertanyaan

Naluri pertama ketika Anda menghadapi situasi yang kurang menguntungkan adalah menuduh, mengarahkan jari, mencari pelaku, dan meminta penjelasannya. Bagaimana kalau tindakan seperti itu dihilangkan, ganti dengan pertanyaan “Ada apa ini, mengapa ini terjadi?” ke hadapan orang yang bertanggung jawab. Kemudian, Anda juga bisa bersama-sama dengan pihak yang bertanggung jawab untuk memperbaiki situasi tanpa perlu menunjukkan sikap memberontak sama sekali.

Banyak mengamati

Kunci menuju kesuksesan adalah Anda kenal audiens sendiri. Untuk itu, Anda perlu belajar mengamati dan bermain dengan kecerdasan emosional. Lihat apa yang sesuai untuk tim Anda, bagaimana reaksinya terhadap skenario pengujian dan improvisasinya dari sana.

Memotivasi dan memimpin

Sangat mudah untuk mendelegasikan dan menghilangkannya dari skenario cara kepemimpinan Anda. Tapi ini tidak akan membantu Anda dalam jangka panjang. Bersikap tegas berarti Anda ingin menyelesaikan sesuatu dengan cara yang benar sesuai keinginan. Jadi pastikan Anda menemui satu-satu tim Anda demi memberi dorongan kepada mereka ke arah yang benar. Beri apresiasi atas pencapaian mereka, pantau pertumbuhan, dan biarkan mereka belajar dari kesalahan sendiri.