Marketplace stockfootage dan video Stockshot.id resmi meluncur pada hari ini, Kamis (10/8). Kehadiran marketplace ini diharapkan menjadi solusi untuk para perekam gambar dan video serta para pembeli yang ingin membeli konten tanpa melanggar hak cipta siapapun.

Stockshot.id secara bisnis serupa dengan marketplace stockfootage lainnya yang sudah lebih dahulu hadir. Sebut saja Motion Elements, Pond5. Shutterstock, Getty Images, dan lainnya. Hanya saja, semangat yang ingin disampaikan Stockshot.id adalah kekayaan konten lokal yang orisinal dan berkualitas karya talenta kontributor terpilih serta profesional.

VP Product Stockshot.id Fauzan Hamdi mengatakan pencapaian pemain besar yang sukses menjadi dorongan untuk Stockshot melakukan hal serupa. Pihaknya memandang bisnis marketplace stock footage memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia.

Terlebih Indonesia memiliki kekayaan visual yang sangat besar tersebar merata dari Sabang sampai Merauke. Visual tersebut menjadi bahan konten yang akan sangat menarik bila dapat dijual untuk kebutuhan pembuatan tulisan atau video dikonsumsi oleh masyarakat langsung.

Mengutip data Association of Commercial Stock Image Licensors (ACSIL), potensi bisnis stock footage di seluruh dunia terus menunjukkan peningkatan. Terlihat sejak 2007 telah menyentuh angka US$282 juta, kemudian terus merangkak naik pada 2012 menjadi US$394 juta dan di 2014 menjadi U$$552 juta.

“Kami sadar bisnis stock footage ini bukan main-main, apalagi di Indonesia yang memiliki konten visual yang sangat kaya. Kami ingin Stockshot.id jadi tuan rumah di negara sendiri,” kata Fauzan.

VP Marketing Stockshot.id Diyan Surya menambahkan Stockshot.id memiliki tiga produk utama yakni footage, video pendek, dan video series. Sejak soft launch pada Mei 2017, Stockshot.id telah menghimpun 13 kontributor, 96 pengguna, 2 ribu footages, 63 video pendek, dan 234 episode video series.

Jenis konten yang ada, bertema budaya, wisata, alam, kuliner, serta kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Beberapa nama kreator, ada yang berasal dari production house (PH) maupun individual. Adapun beberapa klien yang pernah membeli konten Stockshot.id di antaranya NHK, Opini.id, NET, Maverick, Garuda Indonesia, RTV, dan lainnya.

Monetisasi Stockshot.id

Diyan menjelaskan untuk monetisasi Stockshot, pihaknya menerapkan sistem pembagian hasil sebesar 50:50. Menurutnya, besaran angka tersebut dinilai cukup adil untuk kedua belah pihak dan sudah sesuai persetujuan para kontributor.

Harga jual footage terbagi menjadi tiga kategori. Footage kualitas SD harga yang dipatok adalah US$25, HD US$45, dan 4K US$95. Diyan menambahkan masih dipatoknya harga jual disebabkan karena perusahaan ingin mengontrol harga terlebih dahulu, sehingga dapat terlihat jelas bagaimana tingkat profitabilitasnya.

“Memang di marketplace lain sudah ada yang memberikan kebebasan kepada kontributornya untuk menjual footage dengan harga mereka sendiri. Namun untuk sementara kami masih mematok harga karena ingin mengontrol harga di awal.”

Di sisi lain, Harga video pendek dan video series masih ditentukan sesuai negosiasi dengan masing-masing kontributor. Diyan mengaku pihaknya masih belum menemukan formula harga yang pas untuk menjual dua jenis produknya tersebut.

Rencana Stockshot ke depannya

Rencana berikutnya untuk Stockshot adalah melakukan penyempurnaan platform, pengembangan API, meluncurkan aplikasi, dan pengembangan platform. Selain itu, pihaknya juga akan gencar melakukan kegiatan pemasaran untuk menjaring kontributor berkualitas.

Diyan mengaku Stockshot.id juga terbuka untuk opsi pencarian investor sebagai langkah mendukung perusahaan ke depannya. Selama ini Stockshot masih menggunakan dana dari kantong sendiri untuk dukung bisnisnya.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.