Categories

Feature

Masa Depan FinTech di Indonesia

FinTech memiliki sejumlah keunggulan dibanding layanan finansial konvensional, termasuk kecepatan, pemanfaatan analisis data, dan kemampuan untuk menyajikan produk non-standar

Guest Post - 9 October 2015

Sebagai negara dengan pertumbuhan pengguna Internet yang esat dan memiliki pertumbuhan kelas menengah yang tinggi, Indonesia cepat lambat akan menjadi pasar buat industri FinTech (financial technology). Perlu ada kolaborasi antara Fintech dengan bank dan lembaga keuangan supaya manfaatnya bisa optimal buat masyarat. Dibutuhkan dukungan dari regulator supaya terdapat aturan main yang jelas yang memberikan perlidungan bagi konsumen.

FinTech adalah kolaborasi antara finansial/keuangan dan teknologi. Cepatnya kemajuan teknologi membantu para startup membangun inovasi produk keuangan yang berbeda dari perbankan konvensional. Di banyak negara, inovasi keuangan dari startup tersebut terbukti tidak hanya memunculkan solusi-solusi baru yang inovatif buat konsumen, tetapi sekaligus menggoyang industri keuangan yang sudah mapan.

Menurut survei McKinsey  di bulan Maret 2015, masyarakat Asia sedang dengan cepat beralih ke online banking. Konsumen sangat terbuka untuk pindah dari pelayanan via cabang ke digital, jika memang tawarannya yang menarik.

Buat Indonesia, luasnya kondisi geografis, masih rendahnya penetrasi produk keuangan, dan tingginya pertumbuhan kelas menengah adalah pasar yang subur buat perkembangan FinTech. Belum lagi semakin terjangkaunya harga smartphone.

Kontribusi FinTech

Sejauh ini, keberadaan aplikasi keuangan yang digawangi startup di Indonesia sudah mulai bermunculan. Kita bisa melihat aplikasi perbandingan produk keuangan, seperti CekAja, AturDuit, atau HaloMoney yang membantu calon konsumen memilih produk dengan lebih mudah. Ada pula layanan pinjaman online yang menjanjikan proses cepat.

FinTech punya peluang sangat besar di Indonesia karena bisa memberikan solusi yang tidak ditawarkan oleh perbankan konvensional.

Alasan pertama, layanan FinTech menawarkan kecepatan. Dengan teknologi big data, penggunaan algoritma, dan proses online, keputusan kredit bisa diambil dalam rentang waktu sangat cepat jika dibandingkan bank konvensional. Pengisian aplikasi dilakukan sepenuhnya melalui online dengan desain teknologi yang sangat memahami perilaku para penggunanya. Pinjaman diproses tanpa perlu tatap muka dengan nasabah.

Wonga, startup pelopor pinjaman online dari Inggris, memberikan keputusan dan mencairkan pinjaman ke rekening peminjam dalam hitungan detik. Di Indonesia, sebuah startup pinjaman online sudah bisa mencairkan pinjaman dalam waktu 1 jam. Sangat berbeda dengan perbankan atau multifinance yang membutuhkan waktu beberapa hari buat nasabah menerima pencairan dana.

Kedua, layanan FinTech menawarkan solusi keuangan yang tidak bisa ditawarkan oleh bank. Karena biaya operasional yang cukup besar, bank memiliki keterbatasan dalam hal minimum pinjaman dan jangka waktu pinjaman. Sementara, kebutuhan masyarakat seringkali lebih rendah dari batasan minimum tersebut.

Dalam ceruk pasar yang ditinggalkan bank ini, FinTech masuk dengan menawarkan produk pinjaman dengan plafond lebih rendah dan jangka waktu pendek karena mereka memiliki proses operasional dan teknologi yang lebih simpel dan efisien. Contohnya, sebuah perusahaan pinjaman online di Jakarta menawarkan plafond di rentang 1.5 juta sd 2 juta dengan masa kredit 10 hari sampai 30 hari.

Ketiga, layanan FinTech memanfaatkan analisis big data secara komprehensif. Salah satu kekuatan FinTech adalah penggunaan data. Dalam hal pinjaman, credit scoring digunakan sejak awal dan dalam setiap fase keputusan kredit.

Penggunaan big data membuat keputusan menjadi lebih cepat serta akurat, dan menghemat biaya operasional karena prosesnya dijalankan secara otomatis dengan sedikit intervensi.

Yang menarik adalah data yang digunakan tidak lagi terbatas pada data finansial dan demografi, layaknya perbankan konvensional, tetapi juga sudah mulai memanfaatkan data-data dari media sosial.

Di beberapa negara ditemukan bahwa perilaku di media sosial ternyata punya korelasi dengan karakter serta kualitas pinjaman. Media sosial tampaknya akan menjadi indikator penting dalam mengevaluasi kelayakan kredit seseorang.

Kolaborasi dan Regulasi

Ada dua pekerjaan rumah FinTech, yaitu kolaborasi dan regulasi. Kolaborasi dengan bank dan lembaga keuangan akan membantu masing-masing pihak fokus pada kekuatan masing-masing, sehingga bisa memberikan produk terbaik buat masyarakat.

Sebagai contoh, fitur e-cash dan e-money yang sekarang sedang gencar ditawarkan oleh perbankan bisa menjadi alternatif alat pembayaran dalam transaksi online. Salah satu aplikasi ojek online memberikan pilihan fitur kepada konsumen untuk membayar menggunakan e-cash.

Namun, regulasi keuangan perlu mendukung proses bisnis FinTech. Contohnya, regulasi pembukaan e-cash mewajibkan tatap muka dengan calon konsumen. Sementara, dalam transaksi online, tatap muka tidak dilakukan lagi, digantikan dengan cara verifikasi lain.

Dalam industri keuangan, regulasi menjadi sangat penting karena regulasi yang memadai akan menjamin perlindungan konsumen dan kesehatan sistem keuangan. Para pelaku perlu bersama membahas dengan regulator keuangan bagaimana perlu segera bersiap, mengidentifikasi pola bisnis serta risiko-risiko dari jenis usaha FinTech ini. Menyiapkan aturan main yang sesuai dengan karakter bisnis mereka.

Cepat atau lambat bisnis FinTech tidak akan terbendung dan akan menjamur di Indonesia. Saat itu datang, harapannya semua sudah siap.

- Disclosure: Artikel tamu ini ditulis oleh blogger keuangan Rio Quiserto. Rio mengelola blog keuangan pribadi Duwitmu dan bisa dihubungi melalui Twitter @duwitmu.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter