Ada sebuah pernyataan menarik yang kami dapatkan ketika berbincang dengan Co-Founder & CEO Dicoding Narenda Wicaksono beberapa waktu lalu, ketika ia mengatakan “disruptive menjadi syarat kekinian dari startup digital”. Semua ide startup difokuskan untuk mengganggu tatanan pasar yang sudah ada. Cerita kesuksesan Go-Jek, Tokopedia, BrideStory dan beberapa startup lokal lainnya makin memompa semangat pengembang startup untuk mendestruksi model konvensional yang ada sebelumnya. Apakah salah? Jawabannya tidak, asalkan konsep sudah berada di tatanan yang tepat.

Sederhananya, tren startup “disruptive” adalah dengan menghadirkan pendekatan baru (dalam hal ini dengan digitalisasi) sehingga memberikan kemudahan dan efisiensi, tanpa mekanisme yang memaksakan. Namun jika menilik bagaimana perjalanan pembangunan startup sukses seperti Go-Jek, cerita mereka tidak ada yang ingin menjadi pengganggu model konvensional. Nadiem Makarim dan kawan-kawan awalnya membentuk Go-Jek sebagai layanan pemesanan ojek berbasis SMS, karena kala itu komunikasi handphone dengan medium SMS paling populer. Dan kini Go-Jek berevolusi menjadi aplikasi, ketika mobile app menjadi lebih populer ketimbang SMS.

Dari situ dapat disimpulkan, memulai startup untuk bisa seperti Go-Jek adalah dengan fokus pada produk yang bermanfaat, tidak mencari-cari unsur konvensional apa yang mencoba untuk diubah, kendati nantinya akan sampai ke tahap itu juga. Ada beberapa pertimbangan mengapa sebuah startup baru harus sangat berfokus pada ide yang memberikan manfaat secara riil bagi penggunanya.

Berikut ini lima hal tersebut:

Pasar semakin selektif, konsumen membutuhkan kesempurnaan

Konsumen digital di Indonesia bertumbuh pesat dengan kemajuan tren media sosial, yang menjadikannya semakin memiliki banyak wawasan dan pandangan dari orang berbeda secara mudah. Dampaknya berbagai informasi dan pengalaman dengan mudah tersebarkan. Hal ini berimplikasi pada bagaimana persaingan antar bisnis melayani konsumennya. Orang bisa dengan mudah memilih dan meninggalkan suatu layanan, lantaran ketidaknyamanan yang ia dapatkan. Tentu kita sering menemui komplain di media sosial tentang kekurangan layanan tertentu.

Konsumen makin memburu kesempurnaan karena selalu ada pesaing di antara sebuah layanan yang sama. Untuk itu inovasi di dalam startup harus selalu fokus pada improvisasi yang berimplikasi pada kenyamanan pengguna. Pada ujungnya konsumen kini bisa menilai langsung (di publik) tentang kualitas layanan tertentu.

Bukankan startup dikatakan disruptive ketika ia mampu meyakinkan banyak konsumennya untuk memilih layanan tersebut dibandingkan dengan moda konvensional yang sudah terlebih dulu ada?

Orisinilitas ide dikalahkan dengan eksekusi yang baik

Berapa banyak layanan pemesanan tiket pesawat yang saat ini bisa dengan mudah kita temui? Berapa banyak layanan antar makanan online yang saat ini bisa kita manfaatkan? Berapa banyak aplikasi produktivitas yang dapat kita pilih untuk menunjang kesibukan harian kita? Semua aplikasi selalu sudah ada pendahulunya. Namun jika dikaitkan dengan poin sebelumnya seputar konsumen, maka masih ada celah yang dapat dimanfaatkan startup baru untuk hadir di tengah persaingan antar layanan, yakni memberikan eksekusi yang lebih baik.

Eksekusi yang lebih baik dapat diwujudkan dengan fitur yang lebih andal, pelayanan yang lebih cepat hingga penawaran yang lebih terjangkau. Fokus pada “pembeda”, dalam hal ini berkaitan dengan kualitas layanan, akan lebih menjanjikan ketimbang harus berpikir keras untuk membuat sesuatu yang benar-benar baru. Sesuatu yang baru tersebut biasanya muncul bersamaan dengan temuan seiring dengan makin dituntutnya inovasi fitur dari masukan konsumen, sehingga pengembangannya akan lebih komprehensif dan tepat sasaran.

Ketepatan memaksimalkan kesempatan

Pasar digital banyak dinilai sangat bersifat dinamis. Artinya tren tersebut akan pasang surut berkembang di kalangan masyarakat. Melihat dari sisi lain, startup yang dapat lebih gesit dalam menyesuaikan produk dapat memanfaatkan tren ini.

Contoh sederhana, saat ini konsumen mulai terbiasa dengan layanan kredit tanpa kartu kredit, maka dalam layanannya startup dapat membuat promo atau fitur yang memberikan kemudahan kepada konsumennya untuk memanfaatkan fitur tersebut. Mungkin tidak akan lama, tapi setidaknya dapat mendongkrak popularitas brand dan traksi pengguna.

Digitalisasi dilakukan semua bisnis

Jika dari awal mencoba untuk mengganggu tatanan yang sudah ada, maka startup akan berhadapan dengan pemain yang sudah besar. Saat ini para bisnis (pemain lama) berbondong-bondong membuka kanal digital masing-masing. Terakhir ada Kimia Farma yang meluncurkan layanan e-commerce B2C-nya. Bayangkan saja jika ada startup yang ingin mencoba men-disrupt layanan pemesanan obat, berhadapan langsung dengan pabrik yang memproduksi obat-obatan yang dijualnya.

Berbeda ketika menargetkan kepada kebermanfaatan. Dalam kasus di atas, startup fokus pada jasa konsultasi apotekernya dalam mode chat atau on-demand, atau mekanisme lainnya, akan memiliki sasaran bisnis yang lebih spesifik, sehingga muncul dengan brand yang berbeda.

Starting up dituntut cepat, karena scaling up lebih menantang

Pada akhirnya startup saat ini harus memiliki kecepatan saat memulai, artinya tidak boleh terlalu lama dalam menggodok ide. Tantangan sebenarnya adalah pada proses scaling-up, saat startup harus dihadapkan pada dinamika pasar, persaingan hingga berbagai permasalahan internal yang mungkin muncul. Fokus pada ide yang bermanfaat, sifat ide akan berkembang menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Eksekusi ide tersebut secara cepat, kenalkan pada konsumen, revisi, maka product-market fit akan lebih cepat didefinisikan.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.