Akhir pekan lalu, seorang teman di Surabaya menceritakan tentang realitas bisnis dalam kaitannya mendapatkan suntikan investasi. Dalam gurauannya, si teman tersebut mengatakan, “Kalau bisnis konvensional –mengerjakan bisnis sosial menghasilkan kerajinan tangan— untuk mendapatkan investor sulit sekali. Saya sudah mencoba pitching ke beberapa venture capital dan angel investor, hasilnya nol. Beda dengan startup [digital], investornya sudah ngantri kalau POC-nya [Proof of Concept] jelas.”

Tentu penjelasannya ini membuat saya tertarik menggali lebih dalam mengenai pandangannya tentang konsep startup digital yang ada di Indonesia saat ini.

Sebelumnya, layak kita simak kembali seberapa bombastis tren startup di Indonesia. Sebuah meme dari Richard Fang ini mungkin bisa mewakili betapa startup kini telah menjelma sebagai tren baru di kalangan muda.

Sebuah meme yang menggambarkan tren startup saat ini di kalangan muda / Richard Fang
Sebuah meme yang menggambarkan tren startup saat ini di kalangan muda / Richard Fang

Startup pada dasarnya didefinisikan sebagai sebuah bisnis rintisan, bisnis yang benar-benar baru dibuka. Oleh karenanya istilah bootstrapping atau investment melekat erat sebagai entitas di bawahnya. Akhir-akhir ini istilah startup sering diasosiasikan dengan pendekatan bisnis berbasis digital. Jelas saja semua bisnis mencoba untuk bermain di ranah digital –minimal memanfaatkan media sosial sebagai cara pemasaran— demi capaian traksi dan jangkauan yang lebih menjanjikan.

Startup dibudayakan dengan berbagai kegiatan

Salah satu faktor makin lumrahnya pengembangan startup adalah karena berbagai kalangan memang sengaja membuatnya hype. Sebagai contoh Kibar (yang didukung Kemenkominfo) dengan kampanye Gerakan Nasional 1000 Startup, Bekraf dengan Developer Day dan Bekup, bahkan perusahaan-perusahaan secara khusus menggelontorkan CSR mereka untuk kegiatan berbasis hackathon, yang tak lain untuk memajukan startup digital juga. Benar saja, saat ini seperti semua orang bisa meniatkan diri untuk membuat sebuah startup.

Namun, apakah masifnya pengembangan startup yang ada saat ini sudah sesuai dengan apa yang dicita-citakan? Kembali dengan obrolan saya bersama rekan wirausahawati dari Surabaya, ia sempat menanyakan mengapa startup digital saat ini (meski tidak semua) terkesan tidak fokus mendapatkan profit? Justru antusias memburu pendanaan. Padahal jika mengembalikan kepada tujuan paling mendasar, startup tetap saja adalah sebuah usaha bisnis yang harus menghasilkan untung.

Saya tak dapat menyanggah realitas tersebut. Lalu mucul sebuah pertanyaan. Apakah yang sedang menjadi tren saat ini adalah menjadikan startup sebagai proses bisnis atau tren membisniskan startup?

Konsep digital membedakan proses pendekatan di dalamnya

Konsep digital memiliki pendekatan yang berbeda dengan cara konvensional. Sebut saja cerita kesuksesan Facebook. Sekarang dari mana mereka mendapatkan uang? Dari berbagai penawaran yang didasarkan pada kekayaan dan traksi pengguna yang besar. Layanannya gratis dari awal, bisnis dijalankan secara natural di dalamnya. Konsep seperti itu yang coba diusung oleh startup masa kini, terutama yang berbasis layanan.

Ada yang sejak awal fokus pada growth, ada yang fokus pada revenue, hingga ada yang memfokuskan produk startup untuk inovasi (biasanya diikutkan dalam lomba internasional). Begitu bermacam-macam tipikal startup yang ada di Indonesia saat ini dari sudut pandang tujuannya.

Pada kenyataannya “seleksi alam” selalu turut serta dalam berbagai hal. Startup yang mampu mandiri pada akan melaju kencang dan yang mengantungkan roda bisnisnya pada entitas lain lambat-laun kian menurut performanya.

Bagi saya masih terlalu dini untuk menjustifikasi keadaan startup di Indonesia saat ini. Pelaksananya saja masih menggenggam roadmap bisnis yang akan dijalankan selama bertahun-tahun mendatang. Mungkin jawaban dari pertanyaan “membisniskan startup” tadi akan terjawab bersama pembuktian realisasi pematangan pelaku bisnis startup Indonesia.