Memahami akuisisi Go-Jek terhadap pengembang India

Mencoba Memahami Langkah Go-Jek Akuisisi Dua Startup Pengembang India

Menjadi risiko yang dipilih Go-Jek saat melakukan ekspansi besar-besaran tanpa diimbangi pondasi IT yang kuat sebelumnya
Ambisi Go-Jek meningkatkan kualitas aplikasi membawanya mengakuisisi dua perusahaan pengembang India / DailySocial
Ambisi Go-Jek meningkatkan kualitas aplikasi membawanya mengakuisisi dua perusahaan pengembang India / DailySocial

Kabar ini sebelumnya sudah sempat dirumorkan oleh DailySocial per Oktober 2015 lalu, terkait akuisisi Go-Jek terhadap dua startup pengembang teknologi asal India. C42 Engineering dan CodeIgnition nama dari dua startup tersebut yang kini sudah diumumkan pihak Go-Jek di ranah publik.

Dua startup tersebut kini sedang giat bekerja untuk membenahi sistem back-end aplikasi Go-Jek yang sebelumnya sering terjadi glitch ketika calon pengguna ramai membuat order. Tak hanya isu di aplikasi pengguna akhir, namun komunikasi antar sistem ke aplikasi yang digunakan tukang ojek pun sempat beberapa kali bermasalah.

Memiliki semangat seperti yang sempat populer disampaikan oleh ex-CEO Microsoft Steve Ballmer “developer…developer…developer…” dalam acara Microsoft Build Developer Conference, Go-Jek benar-benar ingin mematangkan bisnis yang kini mulai besar dari sisi sistem IT. Bahkan sebelumnya CEO Go-Jek Nadiem Makarim sempat mengatakan bahwa dalam tahun ini, pihaknya akan merekrut lebih dari 100 tim IT yang terdiri dari engineer, programmer dan data scientist, terutama dari India.

Sebagai sebuah bisnis digital, pondasi berupa sistem yang baik akan terus menelurkan perkembangan bisnis yang dahsyat. Bahkan saat ini Go-Jek pun juga sudah bisa dikatakan memiliki basis yang kuat dari sisi bisnis. Tak heran upaya Nadiem dan tim seakan terlalu “beringas” dalam merekrut para engineer untuk menciptakan sistem IT yang lebih baik. Pada intinya, untuk bisnis seperti Go-Jek, landasan aplikasi/sistem IT menjadi denyut nadi dalam laju bisnis.

Banyak yang menanyakan, mengapa tidak mencoba menggunakan sumber daya dalam negeri?

Jawaban paling logis adalah karena Go-Jek sudah tidak punya waktu lagi untuk bertaruh. Sistem Go-Jek sudah tersebar begitu luas, sudah ditempatkan di berbagai kota di Indonesia. Menjadi sebuah pengalaman menarik, pasalnya Go-Jek begitu mengedepankan ekspansi dari pada pematangan sistem sebelumnya. Oleh karenanya, penanganan cepat dan tepat mau tak mau menjadi pilihan.

Dua startup yang diakuisisi disebutkan memiliki track record cukup baik sebagai startup pengembang produk software. Keduanya sudah berpengalaman cukup lama dalam melakukan pengembangan software.

Go-Jek sendiri sudah beberapa kali meng-outsource pengembangan layanan-layanan barunya ke pengembang lokal. Pun tampaknya belum ada yang cocok untuk dijadikan basis akuisisi.

Seperti diutarakan Nadiem, pihaknya merasa sangat terbantu dalam melakukan scale up back-end aplikasi dengan dua perusahaan ini, sehingga saat ini diklaim makin minim isu yang terjadi pada aplikasi. Meskipun tentu saja tidak murni bebas bug.

Nadiem sendiri mengklaim bahwa mereka masih memiliki lebih banyak engineer lokal, ketimbang yang berkebangsaan India. Itu sebabnya mereka masih bangga menggunakan embel-embel “karya anak bangsa”.

Application Information Will Show Up Here

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Opini
Artikel Populer
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…