Dua kali Go-Jek, startup unicorn Indonesia, menjadi headline terkait rumor akuisisi terhadap dua layanan pembayaran (karena alasan tertentu keduanya tidak kami sebutkan namanya di artikel ini). Mungkin banyak kalangan awam yang bertanya-tanya mengapa dua layanan pembayaran (juga kenapa dua, tidak cuma satu) menjadi sasaran akuisisi sebuah layanan on-demand yang berangkat dari kemudahan pemesanan layanan ojek.

Kami tidak bisa mengatakan bahwa rumor itu benar, karena kami tidak mendapatkan konfirmasi resmi. Meskipun demikian beberapa sumber terpercaya memang menyebutkan bahwa ada indikasi ke arah sana ataupun bahkan kesepakatan sudah terjadi.

Momen utama Go-Pay untuk “tampil”

Menyebutkan soal pembayaran tidak bisa lepas dari Go-Pay sebagai layanan pembayaran Go-Jek. Go-Pay adalah fenomena yang menjadi bagian keseharian konsumen Go-Jek dan seperti yang telah beberapa kali digaungkan Co-Founder dan CEO Nadiem Makarim, Go-Pay sudah siap untuk keluar dari ekosistem Go-Jek dan murni menjadi alat pembayaran digital.

Untuk keluar dari ekosistemnya sendiri, Go-Pay butuh “kendaraan” untuk mempercepat adopsinya di berbagai platform. Bisa dibilang tidak banyak platform payment gateway B2B yang menguasai pasar Indonesia dan dengan Doku telah diakuisisi EMTEK, platform pembayaran online yang satu lagi menjadi kandidat serius sebagai mitra Go-Pay. Pun kalau kita melihat ke situsnya, mereka sudah menggandeng Go-Pay sebagai alat pembayaran yang didukung.

Jika satu platform sudah diakuisisi, kenapa harus mengakusisi sebuah perusahaan pembayaran lagi? Tentu saja kita harus melihat di mana kekuatan dan kelemahan masing-masing perusahaan pembayaran dan bagaimana ambisi Go-Jek dengan Go-Pay-nya.

[Baca juga: Survei layanan on-demand di Indonesia tahun 2017]

Yang satu kuat dengan layanan pembayaran online, tetapi tidak memiliki kehadiran di layanan pembayaran offline (EDC yang menjadi poin pembayaran berbasis kartu). Yang satunya lagi kuat di layanan pembayaran offline dan memiliki jaringan luas dengan ribuan ritel terkemuka.

Jika Go-Jek benar mengakuisisi keduanya, mereka akan menciptakan sinergi baru untuk mendorong pemanfaatan Go-Pay yang luar biasa. Tak cuma untuk transaksi online, tetapi juga transaksi offline. Bayangkan kalau kita berbelanja di toko kelontong atau gerai-gerai mewah di mall menggunakan Go-Pay.

Teknologi QR Code sudah jamak menjadi “jembatan” antara dua dunia (offline dan online) ini, sebagaimana sudah ditunjukkan di Tiongkok yang menjadi kiblat perkembangan startup Indonesia. Tinggal mengintegrasikan Go-Pay dengan QR Code dan voila Go-Pay bisa menjadi WeChat Pay atau Alipay-nya Indonesia.

Sinergi untuk pemenangan platform pembayaran

Ada sentimen tersendiri yang dirasakan ketika sebuah sinergi lokal bertarung head-to-head di level yang sama dengan pemain global. Go-Jek saat ini memimpin di pasar Indonesia melawan Grab dan Uber di pasar on-demand dan kini persaingan antara ketiganya sudah meluas ke platform pembayaran.

Grab menggandeng Kudo dan Lippo Group, sementara Uber kini menjalin kemitraan dengan Tokopedia. Go-Jek tentu saja tidak bisa tinggal diam. Akuisisi terhadap dua platform pembayaran tersebut bakal mengukuhkan posisi Go-Jek di percaturan pembayaran digital. Jika sudah mendominasi sistem pembayaran, sebagaimana kita lihat di Tiongkok, tidak sulit untuk menangguk keuntungan.

Kini, masih ada yang bingung bagaimana Go-Jek mencari pendapatan?

[Baca juga: Survei layanan on-demand di Indonesia tahun 2017]

Application Information Will Show Up Here

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.