Hal ini merupakan sesuatu yang melegakan dan sudah ditunggu-tunggu oleh banyak pihak. Ini berarti (hampir) semua bank di Indonesia sudah bisa berinterkoneksi dan berhubungan dengan mudah, termasuk dalam penggunaan ATM secara bersama. Meskipun demikian, ternyata ini bukanlah akhir dari perkembangan kondisi perbankan dan sistem pembayaran di Indonesia. Ini merupakan awal menuju sinergi sistem pembayaran di Indonesia yang disebut sebagai National Payment Gateway (NPG).

National Payment Gateway secara regulasi dikawal oleh Biro Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia. Menurut Kepala Biro tersebut, Aribowo, sebagaimana yang pernah disampaikan melalui berbagai media di bulan Juni lalu, NPG merupakan kanal pembayaran di mana ATM, mobile (banking), dan Internet (banking) menjadi satu kesatuan, yang diharapkan bisa direalisasikan di tahun 2013. NPG ini nantinya tidak dikelola oleh BI, tetapi oleh operator industri pembayaran (dan perbankan secara umum).

Hingga saat ini terdapat 3 operator pembayaran yang dikenal luas, yaitu Artajasa yang mengelola ATM Bersama, Rintis Sejahtera yang mengelola Prima, dan Daya Network Lestari yang mengelola ALTO. Hingga saat ini (sayangnya) BI belum menunjuk operator mana yang akan bertindak sebagai pengelola tunggal NPG ini, meskipun waktu implementasinya tinggal dua tahun lagi.

Sampai sekarang kami belum memperoleh gambaran pasti seperti apa arsitektur NPG ini akan dibangun. Meskipun demikian, gambaran yang kami tangkap adalah dengan integrasi dan sinergi seperti ini, setiap transaksi yang dilakukan, baik debit maupun kredit, menggunakan metode pembayaran apapun (ATM, mobile, Internet) baik di dalam maupun di luar negeri akan menggunakan interfacing NPG ini.

Jika sudah diimplementasikan, menurut saya dampak penerapan NPG adalah keamanan yang lebih terjamin, kemudahan bertransaksi, dan biaya yang lebih murah (karena jaringannya terkoneksi dan bekerja sama secara global). Untuk pelaku e-commerce, hal ini merupakan peluang emas karena adanya sistem terintegrasi seperti NPG membuat setiap transaksi akan terintegrasi dan mudah untuk dilacak. Bertransaksi secara online pun akan menjadi jauh lebih menyenangkan. Aplikasi pembayaran pihak ketiga pun tinggal diimplementasi berdasarkan interfacing yang sudah ada.

Sebagai referensi, bank-bank di Singapura membentuk NETS dan eNETS untuk implementasi sistem pembayaran online di tahun 2003. eNETS bahkan membantu implementasi serupa di Hong Kong dan Makau. BI yang memang ingin melihat implementasi NPG di negara-negara tetangga bisa berhubungan dengan eNETS untuk memperoleh informasi lebih lanjut. Tentunya jalan menuju impian-impian tersebut masih panjang. Perlu ada kesepahaman dan komitmen antara pemerintah, perbankan, dan operator sistem pembayaran tentang bagaimana semua sistem ini bisa bekerja dengan sempurna.