Industri digital di Indonesia bergeliat hebat dalam sepuluh tahun terakhir. Banyak bisnis digital mulai menjamur dengan berbagai macam konsep. Seperti e-commerce, layanan on demand, hingga fintech. Perkembangan industri digital ini seharusnya menjadi sesuatu kabar gembira bagi mereka yang berkecimpung di dunia IT. Utamanya SMK jurusan IT yang selama ini diharapkan memproduksi lulusan siap kerja di bidang IT . Dengan industri yang tumbuh harusnya semakin banyak lulusan yang terserap, tapi kenyataannya tidak demikian. Ada beberapa permasalahan yang lebih dulu diselesaikan.

Permasalahan kualitas lulusan

Mencari talenta berkompetensi merupakan permasalahan industri digital atau startup sekarang ini. Tak hanya untuk lulusan universitas ternyata masalah ini juga menimpa untuk lulusan SMK jurusan IT. Tidak sinkronnya kebutuhan industri dan kurikulum yang dijalankan menjadi salah satu permasalahan mendasar yang diakui banyak pihak.

Salah satu guru SMK, Muhammad Badriatul Anam yang mengampu di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta menilai terjadinya gap antara kualitas lulusan SMK (jurusan IT) dengan industri digital akibat tidak berimbangnya laju perkembangan industri dengan kurikulum ya diterapkan. Anam menjelaskan contoh sederhananya ada di sektor sertifikasi.

“Contoh paling gampang misalnya untuk sertifikasi keahlian tertentu, masih kita temui materi yang diujikan dalam sertifikasi tersebut adalah materi lawas, yang tentu saja tertinggal jauh dari industri digital sekarang ini. Dampaknya lulusan SMK kaget ketika terjun ke dunia kerja, apa yang dia dalami di sekolah ternyata tertinggal dengan apa yang terjadi di lapangan,” ungkap Anam.

Mengatasi hal ini, perlu banyak pihak yang berperan. Untuk sinkronisasi kurikulum dengan dunia industri perlu sumbangsih pemerintah selaku penyusun kurikulum dan standar juga peran serta sekolah dan guru untuk mengkondisikan apa yang didapat oleh anak didiknya sesuai dengan kebutuhan industri. Tidak hanya mengenai materi, tetapi juga semua hal yang berkaitan dengan pembelajaran.

Selain sinkronisasi kurikulum dari pusat dan peran aktif sekolah dan guru untuk menyelaraskan lulusan dan dunia industri alternatifnya adalah adopsi skema teaching factory di sekolah-sekolah. Anam menjelaskan dari teaching factory tesebut kemudian akan muncul work based curriculum. Hal ini sudah banyak diterapkan di banyak SMK hanya saja porsi untuk jurusan IT masih sedikit.

“Contoh di luar IT di sekolah-sekolah sudah muncul Kelas Daihatsu, Kelas Mitshubishi, Kelas Honda, Kelas Yamaha, dan lain sebagainya. Di IT mungkin baru Kelas Mikrotik (Mikrotik Academy Class) sama Kelas Cisco,” ujar Anam.

Sementara itu Tokopedia, salah satu startup yang sudah banyak dikenal masyarakat dan tergolong dalam e-commerce mengungkapkan keterbukaan mereka dalam menerima lulusan SMK jika mereka memiliki kompetensi dan attitude yang baik.

“Pada dasarnya, kami selalu membuka kesempatan bagi talenta-talenta terbaik. Hal terpenting dalam proses hiring adalah skill, kompetensi dan attitude dari kandidat. Jika lulusan SMK tersebut memiliki skill, kompetensi & attitude yang sesuai dengan kebutuhan Tokopedia, kami tentu akan meng-hire kandidat tersebut, meskipun background pendidikannya masih SMK. Namun saat ini, fokus kami lebih kepada memberi pembekalan yang komprehensif kepada siswa dan siswi SMK agar lebih siap menghadapi dunia kerja di kemudian hari,” terang Head of People Tokopedia Pramesti Tyas Wibawanti.

Menyoal permasalahan pencarian talenta Tokopedia memandang hal tersebut sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi. Tyas menjelaskan bahwa hal tersebut dianggap sebagai tantangan dan screening awal dalam menjaring talenta-talenta berbakat yang memiliki kesamaan mimpi dengan Tokopedia.

“Awal berdiri, Tokopedia hanya memiliki 2 orang developer dan saat ini sudah berkembang menjadi lebih dari 300 engineer. Hal utama dalam membangun tim developer adalah menyamakan visi & misi demi menciptakan platform yang bermanfaat bagi orang banyak,” ungkap Tyas.

Tak jauh beda, Bukalapak yang notabene berasama Tokopedia menempati jajaran teratas e-commerce di Indonesia juga membuka kesempatan bagi lulusan SMK. Head of Human Capital Management Bukalapak Gema Buana Putra menjelaskan bahwa Bukalapak membuka dan memberikan kesempatan bagi lulusan SMK di hampir semua posisi yang ada, selama kompetensi yang dimiliki memenuhi standar minimal yang berlaku di Bukalapak.

Tak hanya itu Gema juga menjelaskan bahwa Bukalapak juga sudah terjun ke SMK untuk mencari developer berbakat melalui kompetisi.

“Bukalapak sudah terjun langsung ke SMK-SMK, seperti ke SMK IT Telkom Malang, pada awal tahun 2017. Bahkan di tahun 2016 Bukalapak mengadakan Bukalapak Programming Competititon di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Medan untuk mencari developer yang handal, selain itu Bukalapak Programming Competition ini diselenggarakan untuk terus mendukung dan mewadahi minat dan bakat mahasiswa di bidang teknologi, khususnya competitive programming,” ungkap Gema.

Mendirikan startup

Selain masuk sebagai karyawan di industri digital atau startup salah satu cara untuk lulusan SMK berkecimpung dalam industri tersebut adalah dengan menjadi creator atau sebagai pendiri startup. Toh pembelajaran di SMK juga menyelipkan materi kewirausahaan, tapi pertanyaannya seberapa besar peluang itu?

Jika menilik kompetensi dan pengalaman mungkin akan menjadi sesuatu yang berat. Salah satu pengalaman yang dimiliki lulusan SMK dalam dunia kerja mungkin didapat hanya pada masa PKL (Praktik Kerja Lapangan). Itu pun durasi setiap sekolah berbeda. Bisa dua sampai tiga bulan, bahkan di sekolah tertentu memberikan kesempatan siswanya untuk PKL selama satu tahun.

Peluang lulusan SMK mendirikan startup mungkin terbilang berat. Sangat berat. Disarankan sebaiknya lulusan SMK menimba ilmu di industri selama beberapa tahun terlebih dahulu, baru kemudian mulai merintis startup berbekal kemampuan, ketrampilan, dan mungkin modal yang didapat dari pengalamannya bekerja.

Update : Penambahan komentar dari pihak Bukalapak