Pamor Tokopedia sebagai layanan marketplace terdepan di Indonesia memang tidak perlu diragukan lagi. Bisnis inilah yang mengantarkan Tokopedia menyandang status unicorn pada tahun lalu.

Inovasi menjadi kunci yang harus dilakukan agar setiap perusahaan tetap terdepan, begitupun yang dilakukan oleh Tokopedia. Salah satunya dengan mulai mengembangkan produk digital sejak dua tahun lalu dan melanjutkan ke produk fintech sejak tahun lalu.

Dalam wawancara bersama DailySocial, VP of Engineering Tokopedia Herman Widjaja menjelaskan lebih dalam soal kepemimpinannya, pola kerja tim engineering dan bagaimana pendekatan tim dalam merilis produk.

Herman sendiri sebenarnya baru bergabung di Tokopedia sejak Mei 2018, sebelumnya pernah bekerja di Smartfren. Namun selama 12 tahun, dia sudah berlalu-lalang di berbagai perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Microsoft, Amazon, Facebook.

Dia memimpin tiga divisi engineering, dari produk digital, fintech, dan test engineering untuk memastikan produk bisa dinikmati sebelum produk dirilis secara massal ke konsumen.

Fokus ke masalah yang dihadapi konsumen

Infografis 27 produk digital Tokopedia
Infografis produk digital Tokopedia / Tokopedia

Tokopedia selalu mengambil angle ke arah konsumen sebelum menghadirkan suatu inovasi baru. Kemudian fokus ke mindset bagaimana mengembangkan inovasi tersebut secara bersama-sama karyawan Tokopedia lainnya agar visi Tokopedia yang ingin mendemokratisasikan layanan commerce lewat teknologi bisa terealisasi.

Dia pun mengambil contoh salah satu produk digital yang baru dirilis sejak dia bergabung adalah MyBills dan e-Money. MyBills lahir karena Indonesia belum memiliki manajemen sistem keuangan yang terintegrasi dengan baik. Masalah tersebut diatasi dengan menghadirkan MyBills untuk permudah pembayaran tagihan bulanan secara auto debet.

“Yang kita kerjakan di MyBills hanya permudah pembayaran, cukup subscribe tagihan dan di-connect-an dengan rekening bank. Itu revolutionary thinking kita untuk permudah Indonesia dari sisi digital payment, bukan buat perbanyak produk pembayaran saja,” terangnya.

Sebelum MyBills hadir, Tokopedia memiliki berbagai produk digital untuk pembayaran tagihan seperti pulsa, BPJS, PDAM, kartu kredit, dan lainnya. Namun harus dilakukan satu persatu, sehingga kemungkinan besar terlewat tidak terbayar sangat besar.

Produk lainnya yang berangkat dari masalah adalah e-Money. Pain point-nya terletak di masalah top up untuk uang elektronik e-money dari Bank Mandiri masih tertutup. Hanya bisa dilakukan di dalam ekosistem Bank Mandiri saja. Namun kini dengan fitur e-Money yang tersedia di Tokopedia, setiap orang yang memiliki kartu bisa top up langsung dari aplikasi.

“Tentunya ke depannya kami akan buka ekosistem dengan bank lainnya, sehingga semua orang bisa top up e-money-nya lewat Tokopedia. Ibaratnya seperti membuka jembatan-jembatan baru untuk membangun kota, caranya lewat kolaborasi. Semakin banyak jembatan, akses ke kota akan semakin baik. Itu yang kita harapkan.”

Identifikasi apa yang konsumen butuhkan

Pendekatan yang berbeda justru dilakukan oleh tim engineering untuk produk fintech. Tokopedia tidak fokus membangun produk, justru mengidentifikasi apa yang konsumen butuhkan dan solusi apa yang bisa diberikan untuk membuat hidup mereka lebih baik.

Cara tersebut dipraktikkan saat merilis produk reksa dana. Tokopedia tidak membuat produk reksa dana baru, tapi membuat kemudahan agar semua orang bisa dengan mudah familiar dengan instrumen investasi tersebut. Mulai dari membuat nominal investasi yang ringan, proses pencairan dananya bisa diterima pada hari yang sama.

“Sebelumnya banyak orang yang merasa terintimidasi dengan reksa dana apalagi buat yang tinggal di kota tier 2 dan 3. Dari reksa dana, goal kami aalah membuat reksa dana jadi lebih affordable, hanya dengan 10 ribu Rupiah bisa berinvestasi. Kalau mau withdraw dana bisa diterima pada hari yang sama, padahal sebelumnya butuh berhari-hari.”

Pengembangan terus menerus

Karena selalu mengedepankan pain point dari konsumen, maka saat merilis sebuah produk baru, Tokopedia memiliki urgensi untuk bekerja secara cepat dengan membuat MVP (Minimum Viable Product). Ada weekly sprint di mana setiap minggunya harus ada sesuatu yang bisa diunjukkan, dengan demikian ada potensi produk mana yang berikutnya siap dirilis ke konsumen.

“Jadi ketika kami buat produk itu, tidak selalu menunggu sampai harus benar-benar perfect melainkan dirilis secara perlahan sambil menambah fitur apa lagi yang bisa kita berikan.”

Cara yang diterapkan tersebut kurang lebih mirip dengan tagline promosi Tokopedia saat ini #MulaiAjaDulu, yang ternyata juga diterapkan dalam internal perusahaan.

Beri kesempatan untuk berbuat salah

Karena proses kerja yang cepat, di satu sisi Tokopedia memberikan ruang untuk tim berbuat kesalahan. Herman percaya semua karyawan Tokopedia itu pintar, termasuk tim engineer. Maka dari itu pengawasan yang sifatnya mikro tidak perlu diterapkan oleh para leader dalam memimpin tim yang besar.

Dia sebagai leader hanya memberikan visi, arahan, pertanggungjawaban kepada karyawan terhadap suatu proyek. Yang terpenting, memberi ruang untuk berbuat salah memegang unsur terpenting dalam kepemimpinan.

“Kalau cuma cari aman, enggak bakal ada inovasi. Inovasi akan muncul ketika orang dikasih ruang gerak di luar kemampuan dari zona aman mereka, yang pada akhirnya memberi ruang untuk berbuat kesalahan.”

Tokopedia memiliki sekitar 650 karyawan engineering atau sekitar 25% dari total karyawan saat ini 2650 orang. Terhitung ada lebih dari 27 produk digital yang tersedia dan delapan produk fintech mulai dari investasi emas, reksa dana, pinjaman modal, kartu kredit, dan lainnya.

Application Information Will Show Up Here

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.