Dark
Light

Perjuangan Brolylegs Sebagai Atlet Street Fighter Profesional dengan Difabilitas

4 mins read
July 5, 2019
Brolylegs

Salah satu kelebihan esports dibandingkan dengan olahraga konvensional adalah asas egaliter yang dikandungnya. Di sini, setiap pemain boleh bertanding dengan siapa saja, asal punya skill untuk membawanya jadi juara. Orang dengan kebutuhan khusus atau difabilitas pun bisa berkompetisi sejajar dengan para atlet profesional lainnya. Esports memberi ruang di mana hanya kerja keras dan kemauan kuat yang menjadi penentu kesuksesan seseorang.

Di dunia Street Fighter pun ada kisah-kisah seperti itu. Contohnya seperti Brolylegs, atlet Street Fighter difabel yang dikenal sebagai salah satu pemain Chun-Li terbaik di dunia. Tergabung dengan tim AbleGamers, pria 31 tahun ini punya ambisi besar yang tak terkungkung oleh kondisi fisiknya. Seperti apa karier Brolylegs dan bagaimana perjuangannya meraih ambisi tersebut?

Grand Master yang jarang bertanding

Brolylegs yang memiliki nama asli Michael Begum ini lahir dengan kondisi arthrogryposis multiplex congenita (AMC). Otot-otot tangan dan kakinya tidak berkembang, sehingga tidak dapat digunakan dengan sempurna. Dalam kasus Brolylegs, kondisinya tergolong parah sehingga jangankan berjalan, memegang controller dengan kedua tangan pun ia tidak bisa. Untuk bermain Street Fighter, Brolylegs harus menekan tombol-tombol dengan menggunakan mulutnya.

Brolylegs - Photo 1
Michael “Brolylegs” Begum | Sumber: Capcom

Brolylegs sudah bermain Street Fighter cukup lama, dan namanya mulai mencuat ketika ia tercatat sebagai pemain top global Chun-Li di Street Fighter IV. Ketika beralih ke Street Fighter V pun ia tampil mengagumkan, dan kini menyandang peringkat Grand Master di Capcom Fighters Network. Namun meski berbekal keahlian mumpuni, ada satu kendala besar yang membuat kariernya sebagai atlet profesional sulit dijalani: menghadiri turnamen.

Memiliki kondisi AMC artinya Brolylegs tidak bisa melakukan banyak hal sendirian. Ia perlu bantuan dari adiknya, Jonathan Begum, yang selalu setia menemani ke mana pun. “Perjuangannya adalah perjuangan saya. Saya memberinya makan. Saya mengganti pakaiannya. Saya menggendongnya. Kami melakukan semuanya bersama. Saya melakukan ini karena saya menyayanginya dan dia adalah manusia terbaik yang saya kenal. Terkadang dia merasa menjadi beban dan saya tidak ingin dia berpikiran seperti itu,” cerita Jonathan dalam wawancara dengan Capcom.

Bepergian dengan kendaraan umum seperti bus atau pesawat adalah kegiatan yang sulit bagi Brolylegs. Pernah suatu hari ia terjebak di salah satu terminal Texas selama 12 jam karena di sana tidak ada bus dengan fasilitas lift. Ia bisa menghabiskan waktu hingga 40 jam di jalan untuk menghadiri EVO, karena tempat tinggalnya di Brownsville, Texas, berjarak kurang lebih 2.500 kilometer dari venue EVO di Mandalay Bay. Sementara ia tidak bisa naik pesawat dengan kursi roda khusus yang digunakannya sehari-hari.

Melepaskan label difabel

Karena kesulitan bepergian, Brolylegs jadi sering melewatkan turnamen. Ia dan Jonathan sekarang lebih memilih melakukan perjalanan dengan mobil pribadi daripada kendaraan umum, tapi itu pun kadang terkendala, misalnya bila mobil mereka mengalami kerusakan. Jadi ketika Brolylegs bisa datang di turnamen, sering kali para pengunjung cukup heboh melihatnya. Apalagi nama Brolylegs sudah sangat terkenal di komunitas fighting game.

Tapi Brolylegs sebenarnya tidak ingin disambut seperti itu. Ia tidak ingin dikenal hanya sebagai ‘orang yang memainkan Street Fighter dengan mulutnya’. Brolylegs lebih ingin dikelan sebagai seorang atlet profesional. “Karena saya tidak selalu hadir (di turnamen), selalu saja muncul pandangan, ‘Oh, itu si pemain difabel.’ ‘Itu orang yang bermain dengan wajahnya.’ Saya tidak ingin lagi ada pembicaraan seperti itu. Bukan berarti saya marah. Fokus saya adalah untuk menunjukkan progres dan menang. Menjadi pemain yang lebih baik… yang terbaik,” paparnya.

https://twitter.com/CapcomFighters/status/1124112749003460608

Brolylegs tidak hanya menonjol dari kondisi fisik dan keahlian bermainnya. Ia juga memiliki kepribadian yang, menurut Jonathan, rendah hati namun agresif. Ia tidak takut tampil di muka umum, berinteraksi dengan audiens, bahkan melakukan trash talk. Menurut Jonathan, andai kakaknya itu tidak difabel pun, ia pasti akan tetap terkenal. “Jika Anda tidak mengenal Brolylegs, Anda akan mengenalnya,” kata Jonathan.

Ajang Street Fighter League Pro-US yang beberapa waktu lalu diluncurkan oleh Capcom jadi kesempatan besar bagi Brolylegs untuk menyelami dunia kompetisi lebih mendalam. Dari 12 nama dalam Draft Pool, ia terpilih jadi salah satu pemain yang direkrut pemain profesional sebagai anggota tim. Ia masuk ke dalam Team Inferno, dengan Victor “Punk” Woodley sebagai kapten. Tim ini menunjukkan performa terbaik di SFL Pro-US Season 1, dan menjadi juara SFL Mid-Season Championship yang digelar di acara CEO 2019 lalu.

Ingin mengembangkan komunitas lokal

Menurut Brolylegs, pelajaran terbesar dari SFL adalah bagaimana para anggota tim saling mendukung. Kebanyakan pemain di liga ini tidak pernah bertemu satu sama lain, dan proses saling mengenal, mempelajari skill tiap anggota, serta merancang strategi bersama adalah kunci yang mengantar mereka meraih prestasi.

Kebersamaan memang sudah lama jadi ciri khas dunia komunitas fighting game. Brolylegs pun, di luar kesibukannya menghadiri dan mempersiapkan diri untuk turnamen, juga aktif sebagai pelatih Street Fighter. Ia banyak melihat bagaimana para pemain lain melakukan latihan, mengeksekusi gerakan, serta bersikap di turnamen, dan semua pengalaman itu ia manfaatkan untuk mendidik murid-muridnya secara individual.

“Rasa gugup adalah hal nomor satu yang ‘membunuh’ banyak pemain, bahkan di level tinggi,” ujar Brolylegs, “Hal itu tidak ada obatnya. Anda harus menemukan sebuah comfort zone. Ketika saya ingin mengalahkan rasa gugup… saya berkata bahwa panggung ini tidak terlalu besar untuk saya. Jika orang di sebelah saya layak tampil di sini, saya juga layak tampil di sini.” Menurutnya, definisi sukses itu tidak selalu harus memenangkan turnamen. Bisa saja sukses itu sekadar ‘tidak kalah dengan skor 0-2’. Dan untuk meraih sukses itu, teknik serta latihan yang dibutuhkan tiap orang bisa berbeda.

Fighting game saat ini sudah jauh lebih populer daripada, misalkan, sepuluh tahun lalu. Tapi sebetulnya komunitas fighting game perlu berkembang lebih banyak lagi. Masih banyak pemain yang ingin belajar tapi kesulitan karena tidak ada mentor yang bisa mengajari mereka dari dekat.

https://twitter.com/JakyoManor/status/1145062555221733382

“Saya ingin membantu para pemain yang tidak punya siapa-siapa untuk ditanyai, atau terlalu malu atau takut untuk meminta bantuan. Melihat kemajuan para pemain itu adalah motivasi untuk saya,” cerita Brolylegs, “Ini bukan tentang menjadikan mereka juara, atau the next Justin Wong atau Punk. Ini tentang melihat mereka meraih potensi yang tak mereka sadari ada dalam diri mereka.”

Sumber: Capcom, Michael Martin

Mengatasi krisis kebutuhan talenta digital bisa dimulai dari menjemput bola, melakukan "branding", hingga menerapkan kepemimpinan yang relevan
Previous Story

Mengatasi Krisis Kebutuhan Talenta Digital

Bekraf Game Prime 2019 kembali digelar untuk keempat kalinya tanggal 13-14 Juli 2019 di Jakarta. Sesi B2B ditiadakan, diganti sesi pitching ke luar negeri
Next Story

Bekraf Game Prime 2019 Siap Digelar, Beri Panggung Developer Game Lokal Unjuk Gigi

Latest from Blog

Don't Miss

Justin Wong Utarakan Keresahannya Terhadap Masalah Netcode di Game Fighting

Jika Anda pemain game fighting, Anda mungkin sudah tidak asing

Hasil EVO Japan 2020, Dominasi Jepang dan Kemunculan Juara Asia Tenggara Pertama

EVO Japan 2020 telah usai digelar. Petarung dari berbagai belahan